Daryono Darmorejono

Seniman tari
Daryono Darmorejono

Putra ketiga pasangan Darmorejono dan Sri Supartinah ini dilahirkan di Wonogiri, Jawa Tengah, 11 November 1958. Darah seninya menurun dari kedua orang tuanya yang merupakan pasangan penari dari Mangkunegaran serta eyang putrinya yang seorang abdi dalem bedaya yang kerap menarikan tarian sakral Bedaya Ketawang, sebuah tarian tentang pertemuan Sultan Agung Hanyakrakusuma dengan Ratu Laut Selatan. Belajar menari dari ayahnya sejak berumur 10 tahun dan mendapat gemblengan pula dari Ramelan, murid terbaik ayahnya. Saat itu ia belajar menari hanya dengan diiringi suara mulut, tanpa ada iringan gamelan atau kaset.

Selepas SMP tahun 1974, ayahnya mengajaknya pergi ke Konservatori, sekolah jurusan tari di Solo pada masa itu (sekarang SMKI), meski awalnya merasa kurang cocok bersekolah di tempat tersebut, akhirnya ia bersekolah di Konservatori. Ia merupakan angkatan pertama yang kena kurikulum 4 tahun ditambah setengah tahun pendalaman materi.

Lulus dari Konservatori, ia melanjutkan kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia/ASKI (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI Surakarta). Dibawah asuhan Sardono W. Kusumo, S. Maridi dan Rusman, perlahan ia mulai berani membuat karya sendiri. Karena dinilai berbakat, ia kemudian diangkat menjadi asisten dosen dan akhirnya resmi menjadi dosen jurusan tari. Sejumlah karya tari yang diciptakannya antara lain tari ‘Luluh Ngrengkuh Penggayuh’ (2004), ‘Wireng Srikandhi-Bhismo’, ‘Mahakarya Borobudur’ (2005), ‘Bedoyo Senopaten Dirodometo’, ‘Wireng Seto-Bhismo’ (2006), ‘Hadeging Projo Mangkunagaran’ (2007), ‘Harjunososro-Sumantri’, ‘Sumpah Palapa Gadjah Mada’ (2008).

Melihat banyaknya karya-karya tari yang sangat sakral mati suri, sebut saja tari sakral Bedhaya Anglir Mendhung, Bedhaya Bedhah Madiun, dan Bedhaya yang di tarikan laki-laki seperti Bedhaya Diradha Meta, karena terhambatnya proses regenerasi penarinya, juga mendorong dirinya untuk menggubah kembali tarian tersebut sehingga bisa dipertunjukan kembali secara terhormat di hadapan publik. Akhirnya dengan tekad yang kuat, di pertengahan tahun 1986, ia belajar menari gaya Mangkunegaran untuk kali pertama kepada empu tari Mangkunegaran yang masih hidup saat itu seperti RMT Rono Suripto

Meski harus bersusah payah, namun perjuangannya tidak sia-sia. Banyak tarian klasik dari Pura Mangkunegaran, yang tadinya sempat tidak dipentaskan selama puluhan tahun, berhasil dipentaskan kembali dalam berbagai acara kehormatan Pura Mangkunegaran. Walau beberapa diantaranya, adalah hasil rekonstruksi dari berbagai referensi, karena penari aslinya sudah banyak yang tiada. Dari situlah, akhirnya di tahun 1987 ia secara resmi diakui sebagai penari Pura Mangkunegaran. Selain itu, ia juga di percaya oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk melestarikan kesenian tradisi.

Tahun 2012, Pria dengan rambut panjang terikat ini, terlibat dalam penggarapan drama tari kolosal Matah Ati yang di sutradarai Atilah Soeryadjaya di Pamedan Pura Mangkunegaran. Ia merupakan satu dari tiga koreografer yang menangani Matah Ati bersama Eko Supendi dan Nuryanto. Pentas Matah Ati di Solo, sebenarnya merupakan pentas yang untuk ketiga kalinya, setelah di Esplanade Singapura dan Jakarta tahun 2011 serta 2010.

Kini kemampuan menarinya tidak diragukan lagi, empu tari tradisi dengan perspektif kekinian ini, pada tahun 2006 dipercaya untuk mengetuai Panitia Penyusunan Proposal untuk Perubahan Status Sekolah Tinggi Seni Indonesia/STSI Surakarta menjadi ISI/Institut Seni Indonesia. Ia juga menjadi Penanggungjawab Kegiatan Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi di ISI Surakarta.

Menikah dengan Setya Widayati, di karuniai dua orang anak, bersama keluarga ia tinggal dan menetap di Surakarta, Jawa Tengah.

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Daryono Darmorejono
 
Lahir :
Wonogiri, Jawa Tengah,
11 November 1958

Pendidikan :
SMP
Konservatori, sekolah jurusan tari di Solo (sekarang SMKI),
Akademi Seni Karawitan Indonesia/ASKI
(sekarang Institut Seni Indonesia/ISI Surakarta)

Profesi :
Pengajar Tari ISI Surakarta

Karya tari :
Luluh Ngrengkuh Penggayuh (2004)
Wireng Srikandhi-Bhismo, Mahakarya Borobudur (2005),
Bedoyo Senopaten Dirodometo,
Wireng Seto-Bhismo (2006),
Hadeging Projo Mangkunagaran (2007),
Harjunososro-Sumantri, Sumpah Palapa Gadjah Mada (2008)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *