Kasino Hadiwibowo

Nama :
Kasino Hadiwibowo
 
Lahir :
Gombong, Kebumen,
Jawa Tengah,
15 September 1950
 
Wafat :
Jakarta, 16 Desember 1997
 
Pendidikan :
SDN Budi Utomo, Jakarta,
SMPN 51 Cipinang, Jakarta,
SMAN 22 Jatinegara, Jakarta
Fakultas Ilmu Sosial di Jurusan Ilmu Administrasi Niaga, Universitas Indonesia
 
Aktifitas lain :
Penyiar Radio Prambors (1974-1980),
Direktur Klinik Spesialis Rawamangun (sampai 1983),
Pimpinan Warung Kopi Corporation
 
Filmografi :
Mana Tahan (1979),
Gengsi Dong (1980),
Ge-Er (Gede Rasa) (1980),
Pintar-pintar Bodoh (1980), Manusia Enam Juta Dolar (1981),
IQ Jongkok (1981),
Setan Kredit (1982),
Dongkrak Antik (1982),
Maju Kena Mundur Kena (1983),
Pokoknya Beres (1983),
Tahu Diri Dong (1984),
Itu Bisa Diatur (1984),
Gantian Dong (1985),
Kesempatan Dalam Kesempitan (1985),
Atas Boleh Bawah Boleh (1986),
Depan Bisa Belakang Bisa (1987),
Aku Suka Kamu Punya (1987),
Jodoh Boleh Diatur (1988),
Malu-Malu Mau (1988),
Godain Kita Dong (1989),
Sabar Dulu Dong (1989),
Antri Dong (1990),
Lupa Aturan Main (1990),
Bisa Naik Bisa Turun (1991),
Sudah Pasti Tahan (1991),
Masuk Kena Keluar Kena (1992),
Salah Masuk (1992),
Bagi-bagi Dong (1993),
Bebas Aturan Main (1993),
Saya Dulu Dong (1994),
Pencet Sana Pencet Sini (1994)
 
Sinetron :
Warkop DKI (1995-1997)


Aktor Film
Kasino
 
 
 
Bernama lengkap Kasino Hadiwibowo atau biasa dikenal sebagai Kasino. Ia merupakan salah satu personil grup lawak legendaris Indonesia, Warkop DKI bersama Dono dan Indro. Dilahirkan di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, 15 September 1950. Ia mengaku bahwa sense of humor dimilikinya sejak dulu. Dari kecil Kasino sudah suka ngejailin orang. Pelawak intelek ini, menempuh pendidikan di SDN Budi Utomo, Jakarta. Setelah lulus melanjutkan ke SMPN 51 Cipinang (1966). kemudian setelah itu melanjutkan sekolahnya di SMAN 22 Jatinegara, Jakarta. Ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial di Jurusan Ilmu Administrasi Niaga, Universitas Indonesia.
 
Ketika berkuliah di Universitas Indonesia pria yang kerap di panggil Seky (si pesek) ini bertemu orang-orang yang sealiran, seperti Nanu Mulyono (alm) dan Wahjoe Sardono alias Dono (alm). Jadilah mereka membanyol, meng-kick sana-sini. Keberuntungannya berpihak kepadanya saat ia bersama kawan-kawannya di radio Prambors, cuap-cuap sekenanya model obrolan di warung kopi. Ternyata, acara yang di siarkan setiap Jumat malam antara pukul 20.30 hingga pukul 21.15, oleh radio Prambors ini begitu banyak peminatnya. Awak acara itu sendiri awalnya ialah Tommy Lesanpura (programmer), Kasino, Rudy Badil, dan Nanu. Kemudian Tommy diganti oleh Dono, Badil diganti oleh Indro.
 
Pertama kali Warkop muncul di pesta perpisahan SMA IX yang diadakan di Hotel Indonesia. Berikutnya mereka manggung di Tropicana. Baru setelah muncul lewat acara TVRI Terminal Anak Muda, grup Warkop Prambors benar-benar lahir sebagai bintang baru dalam dunia lawak Indonesia. Berhubung di radio Prambors sudah ada grup lawak baru ketika itu, Sersan (Serius Tapi Santai) Prambors, maka Kasino dan kawan-kawan di minta mengganti nama grup lawak mereka, kemudian dipilihlah nama Warkop DKI yang mewakili nama mereka, Dono, Kasino, Indro.
 
Setelah puas manggung dan mengobrol di udara, Warkop mulai membuat film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat. Setiap tahun mereka membintangi minimal 2 judul film pada dekade 1980 dan 1990-an yang pada masa itu selalu diputar sebagai film menyambut Tahun Baru Masehi dan menyambut Hari Raya Idul Fitri di hampir semua bioskop utama di seluruh Indonesia. Formula mereka dalam film-film layar lebarnya ialah lawakan yang menjurus slapstick ditambah dengan kehadiran sejumlah aktris seksi.
 
Sejumlah judul film yang pernah ia bintangi bersama Warkop DKI antara lain, ‘Mana Tahan’ (1979), ‘Gengsi Dong’ (1980), ‘Ge-Er’/Gede Rasa (1980), ‘Pintar-Pintar Bodoh’ (1980), ‘Manusia Enam Juta Dolar’ (1981), ‘IQ Jongkok’ (1981), ‘Setan Kredit’ (1982), ‘Dongkrak Antik’ (1982), ‘Maju Kena Mundur Kena’ (1983), ‘Pokoknya Beres’ (1983), ‘Tahu Diri Dong’ (1984), ‘Itu Bisa Diatur’ (1984), dll. Dalam era televisi swasta dan menurunnya jumlah produksi film, Warkop DKI pun lantas memulai serial televisi sendiri, dengan membuat sinetron serial ‘Warkop DKI’ (1995).
 
Pria yang pernah menjadi anggota pencinta alam Mapala UI, Direktur Klinik Spesialis Rawamangun (sampai 1983) dan Pimpinan Warung Kopi Corporation ini, wafat di usia 47 tahun pada 16 Desember 1997 di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta setelah beberapa tahun mengidap tumor otak. Meninggalkan satu orang istri dan satu anak. Dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *