Endah Sri Murwani

Nama :
Endah Sri Murwani
 
Lahir :
Sukoharjo, Jawa Tengah,
3 Agustus 1976
 
Pendidikan :
TK Kristen Kartasura
(lulus tahun 1983),
SD Kartasura 1
(lulus tahun 1989),
SMP 111 Kemanggisan Jakarta Barat (lulus tahun 1992),
SMU 101 Joglo Kembangan Jakarta Barat
( lulus tahun 1995),
STSI Surakarta Karawitan (1996, tidak lulus)
 
Aktifitas Lain :
Pengajar di Chinese University of Hongkong,
Pengajar sekolah internasional United World College of South East Asia (Singapura)  
 
Pencapaian :
Menjuarai lomba PORSENI bidang seni tari,
Konduktor terbaik lomba Paduan Suara se Jabotabek (1992),
 Juara 3 Pop Singer, Bahana Suara Pelajar Jakarta Barat (1993),
Vokalis terbaik Festival keroncong antar pelajar se-Jabotabek (1994)
 
Album :
Album rekaman Keroncong GEMES dengan Anjar Any (1996),
Album rekaman Keroncong JANGKRIK GENGGONG dengan Anjar Any (1997)
Album rekaman LELO LEDHUNG KENDHANG KEMPUL  VOLUME 1 (1997), Album rekaman KEMBANG KECUBUNG dengan Mus Mulyadi (1998),
Album LEGO dengan Manthou’s (1998),
Album JENANG GULO KENDANG KEMPUL VOLUME 2 (1998),
Album JAKARTA SUROBOYO dengan Boy Suro (1998),
Album ANDHE ANDHE LUMUT (2000),
Album MUNG SLIRAMU (2000),
Album AJA KANDA SAPA SAPA dengan Cak Dikin (2003-2007), Album GAJAH LAMPUNG dengan Bupati Lampung Timur (2008),
Album KERONCONGKOE bersama musisi senior keroncong dikota Solo
(2010-2011)
 
Filmografi :
Soegija (2012)

Seniman Musik
Endah Laras
 
 
 
 
Bernama asli Endah Sri Murwani. Anak pertama dari empat bersaudara ini, lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 3 Agustus 1976. Sejak kecil ia telah akrab dengan dunia tembang dan tari. Ayahnya, Ki Joko Raharjo, merupakan seorang dalang wayangkulit ternama yang mengenalkannya pada kesenian tradisional. Dan ibunya, Sri Maryati yang seorang penari, tak hanya mengajarinya tari, tetapi juga tembang-tembang Jawa.
 
Saat bersekolah dasar di Solo, Jawa Tengah, ia sering jadi duta lomba menyanyi atau menari. Namun, keasyikannya berkesenian di masa kecil ini terhenti ketika ia lulus Sekolah Dasar. Kedua orang tuanya bercerai. Bersama tiga adiknya ia ikut sang ayah ke Jakarta yang menikah lagi dengan Colleen Eanychase, perempuan berkebangsaan Amerika yang bekerja di lembaga kursus Bahasa Inggris di kawasan Slipi, Jakarta Barat dan juga bekerja di surat kabar The Jakarta Post.
 
Di Jakarta ia bersekolah di SMP 111 Kemanggisan. Awal bersekolah ia sempat minder, namun lama kelamaan rasa percaya dirinya mulai tumbuh. Ia mulai ikut vokal grup di sekolah yang disegani oleh sekolah lain. Ia kembali mengenal kesenian ketika masuk kelompok paduan suara di sekolahnya, SMA Negeri 101 Joglo Kembangan, Jakarta Barat. elama di Jakarta ia juga mempelajari berbagai ragam kesenian dari daerah lain.
 
Setamat SMA ia dan adik-adik harus kembali ke Solo, Jawa Tengah, lantaran bapaknya berpisah dengan Ibu Colleen Eanychase, yang pada tahun 1995 pulang ke Amerika Serikat. Saat akan pindah dari Jakarta ke Solo, Jawa Tengah, terjadi peristiwa yang kemudian menjadi titik terang dalam hidupnya. Ketika itu, ia dan keluarganya menyewa sebuah truk untuk membawa barang-barang dari Jakarta ke Solo. Di tengah perjalanan, ia sempat ke kamar kecil sambil menyanyikan tembang Yen Ing Tawang Ana Lintang, yang dipopulerkan Waldjinah. Ternyata tanpa ia sadari, seorang sopir menyimak suaranya. Ia lalu mintanya menyanyi di hajatan anaknya yang akan dikhitan dua minggu kemudian.
 
Setelah dua minggu tinggal di Solo, sopir truk itu datang menjemput. Meski ternyata sebenarnya ketika itu pak sopir sudah menanggap Orkes Keroncong (OK) Purnama Karya. Ketika itu, ia diminta untuk menyanyi dengan di iringi OK Purnama Karya di hadapan tamu-tamu undangannya. Seusai menyanyi, Pak Amri, pimpinan OK Purnama Karya kemudian mendekatinya dan menawarinya untuk bergabung dengan mereka yang belum punya penyanyi tetap. Akhirnya sejak 1995, ia resmi menjadi penyanyi OK Purnama Karya.
 
Bersama OK Purnama Karya, kakak kandung pesinden Sruti Respati ini manggung dari satu hajatan ke hajatan lain. Tak hanya di Solo, tapi juga Wonogiri, Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Sragen dan Karanganyar, kadang sampai Yogyakarta, Semarang dan Pekalongan. Setelah sering tampil dengan OK Purnama Karya, ia jadi jatuh cinta pada keroncong. Tak lama kemudian, suaranya didengar oleh kelompok orkes keroncong lain yang tergolong paling laris di Boyolali ketika itu, yang kemudian memintanya untuk bergabung. Tidak membutuhkan waktu lama, namanya terus meroket dan banyak di kenal orang.  
 

 
Untuk memperdalam kemampuannya dalam membawakan musik keroncong, di Solo, ia banyak belajar pada maestro keroncong Gesang (alm), Anjar Any (alm) dan Waldjinah. Ia juga kembali mendalami gamelan dan gitar yang beberapa tahun sebelumnya sempat dipelajarinya. Pada tahun 1996, ia sempat kuliah di jurusan Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (ISI) Surakarta, namun tidak selesai karena terlalu banyak tanggapan, untuk manggung sehingga ia tidak bisa fokus kuliah.
 

 
Suaranya yang jernih, utuh dengan cengkok yang panjang, juga menarik perhatian beberapa dalang kondang, seperti Ki Enthus Susmono dan Slamet Gundono (alm). Tahun 2009, bersama Ki Enthus Susmono, ia terlibat dalam pentas Wayang Superstar Dewa Ruci di Museum Tropen, Amsterdam, Belanda, Les Orientales Festival de Saint-Florent-Le-Vieil, Perancis, dan The 13th Suwon Hwaseons Fortress Theater Festival, Korea Selatan. Di Korea Selatan pula ia berkolaborasi dengan koreografer Mugiono Kasido dan musisi Dedek Wahyudi dalam pentas keliling di Ronnarong Khampha, Thitipol Kanteewong (2010-2011).
 
Ia juga pernah tampil dalam pertunjukan Semar Meteng bersama Slamet Gundono (alm) di Galeri Nasional Jakarta dan di Solo International Performing Arts (SIPA) dan pernah pula diminta secara khusus oleh dalang Wayang Kancil legendaries, Ki Ledjar Soebroto (Yogyakarta), untuk terlibat dalam pertunjukan Opera Wayang Dongeng Kancil’ di Jakarta (2010), ia juag pernah tampil pada Festival Keroncong Solo (2011).
 
Kesenian tradisi memang bukan dunia baru baginya. Hanya dengan mendengar dua atau tiga kali, ia bisa memainkan alat musik, menguasi cengkok, serta menghapal gerakan tari Jawa klasik. Kelebihan itulah yang membuat sineas Garin Nugroho mengajaknya bergabung dalam garapan besar Opera Jawa yang dipentaskan di Solo, Yogyakarta, Jakarta, Belanda dan Paris. Pada tahun 2012, ia kembali terlibat bersama garin Nugroho, kali ini dalam film Soegija.
 
Kiprahnya di dunia seni semakin berkembang. Dalam ASEAN Arts Theater Residency (2011 dan 2012), ia berkesempatan pula berkolaborasi dengan seniman se-Asia, di antaranya Thitipol Kanteewong, komposer asal Thailand, Ronnarong Khampa, koreografer Thailand, dan komposer dari Korea, Min Young Woo. Pertunjukan seni yang digarapnya bersama dengan seniman-seniman asing itu sempat dipentaskan di Gwang Ju, Korea Selatan.
 
Selama berkarir di dunia musik ia telah mengeluarkan beberapa album rekaman, antara lain album rekaman Keroncong ‘GEMES’ dengan Anjar Any (1996), album rekaman Keroncong ‘Jangkrik Genggong’ dengan Anjar Any (1997), Album rekaman ‘Lelo Ledhung Kendhang Kempul Vol 1’ (1997), Album rekaman ‘Kembang Kecubung’ dengan Mus Mulyadi dan Album ‘Lego’ dengan Manthou’s (1998), Album ‘Jenang Gulo Kendang Kempul Vol 2’ (1998), Album ‘Jakarta Suroboyo’ dengan Boy Suro (1998), Album ‘Andhe Andhe Lumut’ (2000), Album ’Mung Sliramu’ (2000), Album ‘Aja Kanda Sapa Sapa’ dengan Cak Dikin (2003-2007), Album ‘Gajah Lampung’ dengan Bupati Lampung Timur (2008), dan Album ‘Keroncongkoe’ bersama musisi senior keroncong dikota Solo (2010-2011).
 
Beberapa penghargaan pun pernah ia raih, diantaranya sering menjuarai lomba PORSENI bidang seni tari sejak duduk di sekolah dasar, Konduktor terbaik lomba Paduan Suara se Jabotabek (1992), Juara 3 Pop Singer, Bahana Suara Pelajar Jakarta Barat (1993), dan Vokalis terbaik Festival keroncong antar pelajar se-Jabotabek (1994). Kini, ia bertekad untuk terus melestarikan seni tradisional dengan caranya sendiri. Dengan penuh keyakinan, ia menandaskan siap berbagi ilmu dengan siapa pun yang ingin belajar seni tradisional. Menikah dengan Bambang Seno Birowo, seorang anggota DPRD Klaten Gentan, Sukoharjo, dikarunia seorang putri Elvira Dyah Hutari.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *