Trubus Sudarsono

Nama :
Trubus Sudarsono

Lahir :
Wates, Yogyakarta,
23 April 1926

Wafat :
…………..

Pendidikan :
SD (tidak tamat)

Aktifitas Lain :
Pengajar di Akademi Seni Rupa Indonesia /ASRI
(1950-1960),
Anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra),
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah – DIY, mewakili fraksi Partai Komunis Indonesia

Pelukis
Trubus Sudarsono

Lahir di Wates, Yogyakarta, 23 April 1926. Ia tidak sempat menamatkan pendidikan Sekolah Dasar karena orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh tani. Keahlian melukis dan membuat patung dipelajarinya secara otodidak. Sejak kelas 3 SD, ia telah membuat dan menggambar sendiri boneka wayang yang digunakannya ketika ia menjadi dalang di acara sunatan teman-temannya. Di masa kecilnya, ia mampu membuat ukiran, topeng kayu (tembem, kelana) dan kepala barongan untuk pertunjukkan jatilan atau reog.

Tahun 1943, ketika beranjak dewasa, ia mulai serius belajar melukis sendiri. Untuk mengembangkan kemampuan melukisnya, pelukis yang sempat bekerja sebagai pemberi makan kuda andong di Yogyakarta dan pernah bekerja sebagai pembantu pelukis Sudarso di Jakarta ini kemudian belajar melukis kepada S. Sudjojono dan Affandi di tahun 1942-1945. Kemudian ia kembali ke Jawa Tengah pada awal revolusi, dan bergabung dengan Seniman Indonesia Muda (SIM). Tahun 1947 ia keluar dari SIM dan bergabung dengan Pelukis Rakyat yang dipimpin Hendra Gunawan, dimana ia bekerja selama revolusi dengan memproduksi poster-poster politik anti Belanda. Karena aktivitas politiknya tersebut, pada tahun 1948, ia dipenjara oleh Belanda ketika berusaha melarikan diri ke luar negeri.

Setelah bebas dari penjara, ia menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa Indonesia/ASRI (1950-1960).Tahun 1954, pelukis yang pernah bergabung dengan studio seni lukis Tio Tek Djien di daerah Cideng, Jakarta pada akhir tahun 1950-an ini, mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Cekoslowakia dalam misi kebudayaan.

Aktivitasnya sebagai pematung, juga ia tekuni dengan baik. Hendra Gunawan merupakan salah seorang yang mendorongnya untuk terus berkarya membuat patung. Patung karyanya antara lain patung Urip Soemohardjo di Magelang, Jawa Tengah,  yang bergaya realistik dan patung Dada Jenderal Sudirman berdiri di depan Museum Korps Polisi Militer, Jakarta. Selain itu, ia juga turut terlibat dalam pembuatan Patung Selamat Datang di Jakarta yang didesain berdasarkan sketsa Henk Ngantung dan dikerjakan bersama dengan Edi Sunarso dan beberapa mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia/ ASRI (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI). Karyanya baik berupa lukisan dan patung ada juga yang menjadi koleksi Presiden Sukarno, yakni lukisan Potret Wanita, Putri Indonesia, dan patung batu yang berjudul  Gadis dan Kodok.


Anak Kecil II, 28,5 X 22 cm, cat Minyak Diatas Kanvas (1956)  

Ia membangun sebuah rumah sekaligus sanggar di Jalan Pakem, Purwodadi, Pakembinangun, Sleman, DI Yogyakarta, pada tahun 1958 yang dimanfaatkan sebagai tempat orang-orang yang ingin belajar darinya. Rumahnya yang menghadap kearah gunung Merapi tersebut banyak memberinya inspirasi dalam membuat lukisan-lukisan pemandangan alamnya.

Dalam dunia politik, pelukis yang bergabung menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini, pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DI Yogyakarta, mewakili fraksi Partai Komunis Indonesia (PKI). Akibat kiprahnya di partai tersebut, ayah empat orang anak ini di kabarkan menghilang pada tahun 1966 dan diduga menjadi korban pembunuhan yang di lakukan oleh rezim Orde Baru terhadap orang-orang yang dicurigai berhubungan dengan komunis.

Secuil kisahnya kemudian dibukukan melalui catatan harian anaknya dan disunting oleh Hersri Setiawan dalam buku: “Trubus Di Mana Engkau?”, sebuah narasi tentang hilangnya pelukis/pematung Trubus Sudarsono (1926-1966) dalam bulan-bulan pertama sesudah kejadian 1 Oktober 1965, diterbitkan Yayasan Langer Limburg, tahun 1982.

(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *