Wahyoe Wijaya

Nama :
Wahyoe Wijaya

Lahir :
Yogyakarta, 3 Januari 1950

Wafat :
22 Juli 2012

Pendidikan :
Fakultas Hukum Universitas Indonesia (tidak selesai)
Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (IKJ, 1970)

Aktifitas Lain :
Anggota Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (1980)

Pelukis
Wahyoe Wijaya

Lahir di Yogyakarta, 3 Januari 1950. Sempat mengenyam pendidikan selama dua tahun di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketika dibuka Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ sekarang IKJ) pada tahun 1970, ia ikut mendaftar menjadi mahasiswa ketika itu. Ketika menjadi mahasiswa di LPKJ, ia di didik langsung oleh para pengajar yang merupakan jawara di dunia senirupa Indonesia, diantaranya Oesman Effendi, Trisno Soemardjo, Rusli, Nashar dan Zaini.

Ia memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan tinggal di Bali, di bilangan Legian. Di tempat tersebut ia membangun sanggar Puri Naga Studio dari asal nama tatonya di dada yang berinisial naga. Tak berapa lama, ia kemudian pergi melanglang buana ke luar negeri, dengan tujuan ke Amerika Serikat dan Eropa. Di Amerika Serikat ia sempat berpameran bersama Linda Wilson di Union Gallery, Michigan (1976). Ketika bertolak ke Inggris, ia menyempatkan diri belajar seni grafis dan sekaligus berpameran disana. Pameran yang pernah di ikutinya di Inggris antara lain Open Exhibition London (1978) dan Pameran di Hamilton Gallery London (1979).


I’ll Knock Your Door One Day, Bali, 2000, 61 x 110

Perupa yang senantiasa tampil necis dan trendi ini kerap mengambil obyek lukisannya dari hal-hal yang dekat dan intim, seperti kembang di teras rumah atau teman-teman dekatnya. Dalam melukis, ia sejak awal menyukai membuat sketsa-sketsa yang lebih banyak memainkan garis. Garis-garis inilah yang kemudian menjadi tulang punggung pada karya karya lukisnya selanjutnya.

Namun ia juga kadangkala menggambarkan juga tentang vanitas, yaitu sebuah simbol metafora ketidak-abadian hidup manusia dan mahluk di dunia. Semacam cara-cara bertutur dengan simbol, bahwa hidup didunia adalah sementara. Ketidak-abadian, sering digambarkannya dengan tengkorak atau lilin juga cermin. Di studionya kita akan terperanjat melihat ada tengkorak hidup dipakai sebagai bagian dari instalasinya.

Dalam banyak kesempatan melukis, ia sering kali menggunakan teknik collage, yakni teknik yang kerap di pakai ketika kuas dan warna tak sanggup menampung luapan ekspresi yang ingin divisualisasikan dengan memotong dan melenyapkan kendala waktu dan sekaligus mengeluarkan karakter material dan makna. Ia sering menggunakan barang-barang bekas yang dikumpulkannya di transformasikan menjadi karya atau menjadi salah satu elemen ungkap di karya lukisan seperti kayu, topeng, sepatu dan lain-lain.

Meskipun sudah akrab dengan senirupa yang berasal dari kontinen yang sering dilihatnya di museum museum senirupa di luar negeri, namun ia sama sekali tidak terpengaruh dengan persoalan persoalan yang ditawarkan oleh dunia wacana Eropa yang datang secara bergemuruh dan seakan akan menjadi keharusan untuk dilahap oleh para seniman di negeri-negeri bekas jajahan. Ia tetap mengutamakan kehangatan dalam karyanya yang merefleksikan negerinya dan terutama lagi tempat ia berdomisili yakni di sekitar pantai Legian, Kuta, Bali. Meski ia sangat menjaga jarak dengan pasar seni rupa, namun beberapa karyanya menjadi koleksi sejumlah lembaga dan museum, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain salah satu karyanya menjadi koleksi Asian Art Museum di San Francisco, Amerika Serikat.

Seniman pengagum Chairil Anwar ini, wafat pada 22 Juli 2012. Meskipun kini telah tiada, dirinya dan karya-karya yang pernah dibuatnya masih tetap terus diperbincangkan dan dikenang sebagai salah satu seniman hebat yang pernah dimiliki Indonesia.

(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *