Rita Wizemann

Nama :
Rita Wizemann

Lahir :
Rottweil, Jerman,
26 November 1938

Pendidikan :
Staatliche Akademie der Bildenden Kunste di Stutgart, Jerman (1957-1964)

Aktifitas Lain :
Pengajar Institut Teknologi Bandung

Penghargaan :
Pemenang sayembara di SABK Stuttgart, Jerman (1963),
Pemenang sayembara di Rottweil, Jerman (1972),
Pemenang sayembara Monumen di Slipi, Jakarta (1973),
Pemenang sayembara Monumen di Gelanggang Remaja, Kuningan, Jakarta (1990),
Penghargaan dari Menteri Departemen Pendidikan Kebudayaan (2001),
Pemenang sayembara patung Monumental di Ancol, Jakarta (2001)

Seniman Patung
Rita Widagdo

Bernama asli Rita Wizemann, lahir di Rottweil, Jerman, 26 November 1938. Ia merupakan salah satu pematung perempuan yang karya-karya abstraknya banyak menghiasi Jakarta. Sejak berusia 16 tahun, ia sudah senang memahat karena terbiasa melihat pamannya yang merupakan seorang pengrajin untuk keperluan patung-patung di gereja. Ketika lulus sekolah menengah atas, ia dihadapkan pada dua pilihan jurusan yakni antara kimia atau patung, yang kebetulan kedua bidang tersebut sama-sama disukainya. Akhirnya jurusan patunglah yang dipilihnya. Keputusannya mengambil jurusan patung tersebut jatuh setelah ia melihat karya pematung Oskar Schlemmer (1888-1943) di Museum Stuttgart, Jerman.

Ia kemudian memutuskan untuk belajar seni patung di Staatliche Akademie der Bildenden Kunste di Stutgart, Jerman (1957-1964) dan lulus dengan mendapatkan gelar Meisterschüler, sebuah gelar setara master yang diberikan oleh seorang profesor untuk anak didik terbaiknya. Gelar tersebut hanya bisa diperoleh dengan syarat seseorang harus menguasai lebih dari satu kecakapan teknik seni. Selama studi, ia juga aktif membantu sejumlah proyek monumental yang dikerjakan oleh profesornya. Beberapa penghargaan kompetisi pun berhasil diraih semasa ia menetap di Jerman, diantaranya memenangi sebuah sayembara di SABK Stuttgart, Jerman (1963).

Setelah menikah dengan Profesor Widagdo, seorang desain interior, pada Januari 1965, ia pindah mengikuti suaminya yang pulang ke Indonesia. Di Indonesia aktifitas mematung tetap ia jalani. Beberapa bulan setelah kepindahannya ke Indonesia, pada Oktober 1965, ia langsung turut serta dalam persiapan Conference of New Emerging Forces (CONEFO) yang digagas oleh Presiden RI pertama, Soekarno. Ia juga aktif mengikuti sejumlah pameran baik pameran tunggal maupun pameran bersama di dalam dan luar negeri.

Sebagai pematung, ibu dari dua orang anak Marc Wasistha dan Paul Gunawan yang kini telah sudah berstatus sebagai warga Negara Indonesia ini, telah menghasilkan beberapa karya monumental yang sedikit berbeda dari karya-karya monumental di Indonesia yang pada umumnya cenderung realis. Maestro seni patung ini, lebih cenderung memilih aliran abstrak dalam menciptakan karya-karya monumentalnya, karena ia ingin mengajak orang untuk berfikir.

Sekitar tahun 1974, untuk pertama kalinya patung karyanya, Dinamika dan Gerak, yang terbuat dari bahan stainless steel, mengisi kawasan Slipi, Jakarta. Sayangnya, patung itu hanya tegak beberapa tahun saja. Pada tahun 1987, patung tersebut dicopot dari tempatnya, dengan alasan pelebaran ruas jalan layang. Pemda DKI berencana memindahkan patung tersebut ke kawasan Rawamangun, tapi gagal. Setelah itu ia banyak menghasilkan karya patung patung monumen, relief, dan patung-patung tunggal. Beberapa karya monumental interiornya banyak menghiasi gedung-gedung perkantoran raksasa milik pemerintah dan swasta di sepanjang kawasan ibukota, antara lain dipajang di gedung Departemen Pendidikan Nasional, Mahkamah Agung, Gedung BPPT, Bank Indonesia, PT Freeport Indonesia, Bandara Hang Nadim, Batam, dan Markas besar AURI.

Baginya, tradisi memahat sudah seperti kewajiban yang kalau tidak ada alasan jelas, seharipun tidak boleh ditinggalkan. Padahal, sebagian besar material yang digunakan dalam karya-karyanya terhitung keras dan berat, antara lain batu, kayu, dan logam. Belakangan ia kerap menggunakan campuran bahan kimia polyester resin dengan berbagai material lain. Selain menonjolkan sifat-sifat dan karakter media, ia juga memperlihatkan penjelajahan teknik yang lanjut, menampilkan kesan saling berlawanan antara sifat-sifat material dan ketrampilan teknik yang tinggi. Misalnya, ia mengubah kesan keras dan solid pada logam menjadi sesuatu yang lunak dan lentur. Semua itu terlihat hampir pada seluruh jenis karya-karyanya.

Atas ketekunannya dalam dunia seni patung, sejumlah penghargaan pernah ia raih, diantaranya Pemenang sayembara Monumen di Slipi, Jakarta (1973), Pemenang sayembara Monumen di Gelanggang Remaja, Kuningan, Jakarta (1990), Penghargaan dari Menteri Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2001), Pemenang sayembara patung Monumental di Ancol, Jakarta (2001).

Kini selain masih aktif menjadi pematung, ia juga menjadi seorang akademisi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia bersama dengan Ahmad Sadali, A.D.Pirous, But Muchtar, Kaboel Suadi, Sunaryo, Haryadi Suadi, Srihadi Soedarsono dan beberapa nama lainnya, tergabung dalam Grup 18, sebuah kelompok seniman dari Seni Rupa ITB yang memicu lahirnya istilah ‘mazhab Bandung’.

(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *