Abu Hanifah

Nama :
DR. Abu Hanifah gelar Datoek Maharadja Emas

Lahir :
Padangpanjang,
Sumatera Barat,
6 Januari 1906

Wafat :
Jakarta, 4 Januari 1980

Pendidikan :
ELS; STOVIA di Jakarta (1932),
Geneeskundige Hogeschool di Jakarta (1932-1938),
Gelar Doctor Honoris Causa bidang kebudayaan dari Universitas Brazilia

Karier :
Bekerja diberbagai rumah sakit pemerintah,
Redaktur majalah Jong Sumatranen Bond
(1923-1926),
Redaktur berbagai media (1929-1930),
Ketua Fraksi Masyumi dalam KNIP,
Menteri P&K,
Dubes RI untuk Brazilia,
Pelukis

Karya Tulis :
Dewi Rani (1943),
Dokter Rimbu (1955),
Rokaya,
Pelaut


Abu Hanifah

DR. Abu Hanifah gelar Datoek Maharadja Emas, pertama bekerja pada berbagai rumah sakit Pemerintah. Menjadi redaktur berbagai majalah perhimpunan pemuda, seperti : Jong Sumatra periode 1923-1926, Pemoeda Indonesia, Indonesia Raya dari PPPI periode 1926-1930 dan Indonesia Moeda tahun 1931. Ia salah seorang tokoh Sumpah Pemuda 1928. Ketika Jepang datang, ia menjadi anggota Barisan Pemuda Asia Raya dan menjadi tokoh perintis kemerdekaan RI.

Dikenal sebagai sastrawan dengan nama samaran El Hakim, dengan karya-karyanya yang dipentaskan oleh perkumpulan drama amatir Maya, Taufan di Atas Asia dan lain-lain di tahun 1943. Bersama Usmar Ismail, adiknya dan Armijn Pane, menandai periode drama-drama Indonesia di masa Jepang. Ia pernah ingin merevisi tulisan-tulisanya berjudul cita-cita perjuangan yang ditulis tahun 1946. Tulisan itu ditujukan kepada generasi muda sekarang yang menurutnya kurang ikhtiar. Buku-bukunya yang lain:

Selain praktek sebagai dokter dim as mudanya tahun 1932, ia pernah menjadi anggota BKR periode 1945-1950, Ketua Fraksi Masyumi dalam KNIP, Ketua Delegasi Indonesia ke Inter-Asian Relation Conference di New Delhi, India tahun 1947, ketua Delegasi Indonesia ke UNESCO, Firenze, Italia tahun 1950 dan anggota eksekutif Headquarters UNICEF di New York, Amerika Serikat di tahun 1951.

Abu Hanifah yang juga seorang pelukis pernah menjadi Menteri PPK (P&K) R.I.S. Terakhir ia memangku jabatan Dubes RI untuk Brazilia. Ia mempunyai seorang istri dan ayah dari 3 orang anak serta kakek 4 orang cucu. 4 Januari 1980, ia wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto akibat menderita sakit Imbuli, kelumpihan pada masa tua. Dikebumikan di Perkuburan Karet, seperti juga adik kandungnya, Usmar Ismail.

(Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982)

 

Terima kasih telah mengunjungi m2indonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *