Acep Zamzam Noor

Nama :
Acep Zamzam Noor

Lahir :
Tasikmalaya, Jawa Barat,
28 Februari 1960
 
Pendidikan :
Pondok Pesantren Cipasung,
Pondok Pesantren As-Syafi’iah, Jakarta
Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB
(1980-1987),
Universit Italia per
Stranieri, Perugia, Italia

Karya :
Tamparlah Mukaku!
(kumpulan sajak, 1982),
Aku Kini Doa
(kumpulan sajak, 1986),
Kasidah Sunyi
(kumpulan sajak, 1989),
The Poets Chant
(Antologi, 1995),
Aseano (Antologi, 1995),
In Words In Colours
(Antologi, 1995),
A Bonsai’s Morning
(Bali, Antologi, 1996)
Di Luar Kata
(kumpulan sajak, 1996),
Dari Kota Hujan
(kumpulan sajak, 1996),
Di Atas Umbria
(kumpulan sajak, 1999),
Dongeng dari Negeri Sembako
(kumpulan puisi, 2001)
Jalan Menuju Rumahmu (kumpulan sajak, 2004),
Asia Literary Review
(Antologi, Hongkong, 2006),
Menjadi Penyair Lagi
(Antologi, 2007),
Paguneman
(kumpulan sajak)

Pencapaian :
Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 dari Departemen Pendidikan Nasional,
South East Asian (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (2005),
Khatulistiwa Literary Award (2007),
Hadiah Sastra Rancage (2012),
Buku puisi pilihan terbaik pada Hari Puisi Nasional 2013

Sastrawan
Acep Zamzam Noor

Penyair asal Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat ini, terpilih menjadi sastrawan Indonesia yang berhak menerima anugerah Sastra Asia Tenggara tahun 2005. Sebuah tradisi anugerah sastra yang kemudian dikenal dengan South East Asian (SEA) Write Award, yang  sejak tahun 1987 diberikan oleh Kerajaan Thailand kepada para sastrawan di Asia Tenggara.

Terpilihnya ia sebagai penerima SEA Award diputuskan oleh Tim Penilai Penghargaan Karya Sastra Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, dan Pusat Bahasa, pada 5 Juli 2005 yang lalu, yang terdiri dari Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Dr. Abdul Rozak Zaidan M.A., Dr. Boen Oemarjati, Taufiq Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri. Dalam lembar berita acara yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa disebutkan penetapan ia sebagai penerima SEA Award 2005 karena ia merupakan penyair Indonesia yang menulis sajak secara terus-menerus, dengan mempertahankan kualitas dan ciri khas. Ia menunjukkan tingkat pencapaian artistik yang tinggi dalam sajak-sajak yang diciptakannya.

Sementara karya yang menjadi rujukan penilaian adalah karya-karya para sastrawan yang terbit dalam 5 tahun terakhir. Dan kumpulan puisinya Jalan Menuju Rumahmu yang terbit pada tahun 2004, menjadi karya yang menerbangkannya ke Bangkok untuk menerima anugrah tersebut. Sebuah sajak dengan pilihan tematik yang mungkin terkesan bersahaja atau telah menjadi umum. Pencarian, harapan, kesunyian, dalam ruang eksistensial manusia yang dibayangi oleh kegamangan pada sebuah tujuan.

Di antara 100 puisinya dalam kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu, sajak Aku Menuju Rumahmu itu agaknya memang bukanlah puisi terbaiknya. Baginya sajak itu bisa mewakili seluruh napas puisi dalam kumpulannya yang telah menyita waktunya selama 5 tahun sejak pihak penerbit menghubunginya. Kumpulan ini agaknya bisa dianggap mewakili perjalanan kepenyairannya selama 33 tahun. Satu hal yang menjadi penanda tegas dalam kumpulan penyair penerima penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 Depdiknas ini adalah kekuatannya dalam mengolah citran alam. Sebagai penyair dengan puisi-puisi liris, sejak kumpulannya yang pertama Tamparlah Mukaku! (1982), ia telah menunjukkan style pengucapannya dalam mencari dan menemukan idiom, metafor, dan imaji-imaji alam yang merdu sekaligus mengejutkan.

(Dari Berbagai Sumber)

 

Terima kasih telah mengunjungi m2indonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *