Agus Noor

Nama :
Agus Noor
 
Lahir :
Tegal, Jawa Tengah,
6 Juni 1968
 
Pendidikan :
Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
 
Penghargaan :
Juara I penulisan cerpen pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional I (1991)
Cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta IV (1992),
Cerpen Lampor terpilih sebagai cerpen pilihan KOMPAS (1994),
Tiga cerpennya Keluarga Bahagia, Dzikir Sebutir Pelurudan Tak Ada Mawar di Jalan Raya mendapat Anugerah Cerpen Indonesia DKJ (1999),
Cerpen Pemburu oleh dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah Horison selama kurun waktu
1990-2000,
Cerpen Piknik mendapat Anugerah Kebudayaan Departemen Seni dan Budaya untuk kategori cerpen (2006), Cerpen ’Kunang-Kunang’ terpilih sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas (2011)
 
Karya :
Ambang (1992),
Pagelaran (1993),
 Lukisan Matahari (1994),  Lampor (1994),
Keluarga Bahagia (1999),
Dzikir Sebutir Peluru (1999),
Tak Ada Mawar di Jalan Raya (1999),
Memorabilia (Yayasan Untuk Indonesia, 1999),
Bapak Presiden
 yang Terhormat
 (Pustaka Pelajar, 2000),
Selingkuh Itu Indah
(Galang Press, 2001),
Sastra Indonesia (2002),
Rendezvous : Kisah Cinta yang Tak Setia (2004),
Jl. Asmaradana (2005),
Kitab Cerpen Horison Dari Pemburu ke Tapuetik (2005),
Potongan Cerita di Kartu Pos (2006),
 Sebungkus Nasi dari Tuhan,
Sepasang Mata Penari Telanjang,
Matinya Toekang Kritik (Lamalera, 2006),
Potongan Cerita di Kartu Pos (Penerbit Buku Kompas, 2007),
Sebungkus Nasi Dari Tuhan (kumpulan cerpen),
Sepasang Mata
Penari Telanjang
(kumpulan cerpen),
Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Bentang, 2010),
Kunang-Kunang langit (Cerpen, 2011)


Cerpenis
Agus Noor
 
 
 
Dikenal sebagai cerpenis, penulis prosa, dan lihai menulis naskah panggung dengan gaya parodi dan terkadang satir. Monolog Matinya Toekang Kritik adalah salah satu karyanya yang menertawakan keadaan Indonesia. Bersama Ayu Utami, ia menulis naskah Sidang Susila untuk merefleksikan dan mengkritik Rancangan Undang Undang Pornografi. Lahir di Tegal, Jawa Tengah, 26 Juni 1968. Berlatar belakang pendidikan Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Meskipun berlatar belakang pendidikan teater, ia aktif menulis. Ia menyatakan bahwa menulis baginya cara untuk menyelamatkan diri dari kegilaan.
 
Selain menulis prosa, ia juga menulis cerpen. Karya cerpennya dimuat dalam Antologi Ambang (1992), Pagelaran (1993), Lukisan Matahari (1994). Sedangkan cerpen-cerpennya yang terhimpun dalam antologi bersama, diantaranya Lampor (Cerpen Pilihan Kompas, 1994) dan Jl. Asmaradana (Cerpen Pilihan Kompas, 2005), Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002), Dari Pemburu ke Tapuetik (Majelis Sastra Asia Tenggara dan Pusat Bahasa, 2005), dll.
 
Buku-buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit antara lain, Memorabilia (Yayasan untuk Indonesia, 1999), Bapak Presiden yang Terhormat (Pustaka Pelajar, 2000), Selingkuh Itu Indah (Galang Press, 2001), Rendezvous : Kisah Cinta yang Tak Setia (Galang Press, 2004) Potongan Cerita di Kartu Pos (Penerbit Buku Kompas, 2006). Sebungkus Nasi dari Tuhan, Sepasang Mata Penari Telanjang, Matinya Toekang Kritik (Lamalera, 2006) dan terakhir Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Bentang, 2010).
 
Beberapa kali meraih penghargaan sastra, diantaranya, tahun 1991, memenangkan juara I penulisan cerpen pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) I dan mendapat penghargaan sebagai cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) IV tahun 1992. Sementara pada tahun 1999, tiga cerpennya, Keluarga Bahagia, Dzikir Sebutir Peluru dan Tak Ada Mawar di Jalan Raya mendapat Anugerah Cerpen Indonesia yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta.
 
Penghargaan yang lain yang pernah ia raih yaitu karya cerpennya yang berjudul Pemburu oleh majalah sastra Horison, dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah itu selama kurun waktu 1990-2000. Dan cerpen Piknik mendapat Anugerah Kebudayaan 2006 Departemen Seni dan Budaya untuk kategori cerpen.
 
Cerpenis yang pernah dimasukkan oleh Korie Layun Rampan sebagai sastrawan angkatan 2000 ini, kini tengah menyunting buku antologi Cerpen-cerpen Terbaik Indonesia, yang merangkum tentang penerbitan cerpen dari Idrus hingga Seno Gumira Ajidarma.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.