Basuki Resobowo

Nama :
Basuki Resobowo

Lahir :
Bengkulu pada 1916

Wafat :
Amsterdam, Belanda,
5 Januari 1999

Pendidikan :
ELS (Europesche Largere School) di Betawi,
MULO (tidak selesai)
Perguruan Taman Siswa Yogyakart,a
Kursus COMB (Cursus Opleiding Middlebare Bouwkundigen)

Karier :
Pengajar di Taman Sekolah Taman Siswa,
Juruukur tanah di pinggiran Jakarta, Sawangan dan Pamengpeuk (1941),
Pembuat dekor panggung,
Bekerja di Bagian Seni Rupa Keimin Bunka Shidosho,
Pembuat Poster,
Bekerja di PERFINI

 
Aktifitas Lainnya :
Anggota Kepanduan Bangsa Indonesia,
Anggota Perkumpulan Indonesia Muda,
Anggota Pandu National Islamitch Padvinerij,
Ketua Indonesia Muda cabang Bandung,Menerbitkan Warta Indonesia Muda,
Aktifis Komite Aksi menteng 31,
Anggota Badan Kesenian Oemem,
Pendiri Seniman Indonesia Muda,
Ketua LEKRA

Karya Ilustrasi :
Surat-Surat Kartini
(Armyn Pane),
Habis Gelap Terbitlah Terang (Armyn pane)

Filmografi :
Long March
(Pembantu skenario dan Penata Artistik, 1949),
Tamu Agung (Skenario)

Karya Tulis :
Bercermin Di Muka Kaca, Riwayat Hidupku, Karmiatun (jilid 1 Januari 1988, jilid ke-6 Januari 1989),
Cerita gambar Cut Nyak Din (jilid ke-1 dan ke-2),
Seniman, Seni, dan Masyarakat (1994),

Pencapaian :
Hadiah lukisan terbaik dalam Pameran Seni Lukis di Keimin Bunka Shidosho (1943)

Pelukis
Basuki Resobowo

Lahir di Bengkulu pada 1916, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya, Prawiroatmojo, seorang asal Purworejo Jawa Tengah, hidup sebagai mantri ukur di kawasan transmigrasi dan perkebunan di Palembang dan Lampung. Sejak masa kanak telah senang menggambar, dengan mula-mula menggambar bulan sabit pada bahan tulis sabak.

Ia kemudian hijrah ke Jakarta (Betawi), ikut dengan pamannya, seorang polisi kolonial. Bersekolah dasar Belanda, ELS (Europesche Largere School) di Betawi. Tamat ELS ia ikut dengan pamannya yang lain, seorang nasionalis terdidik mantan anggota Budi Utomo dan anggota Serikat Theosofi. Di tahun 1930 saat belajar di MULO ia ikut Kepanduan Bangsa Indonesia dan jadi anggota perkumpulan Indonesia Muda, di samping menjadi anggota pandu National Islamitisch Padvinerij.

Saat duduk di kelas dua MULO, ia keluar lalu pindah ke Yogyakarta dan belajar di Perguruan Taman Siswa. Di Taman Siswa inilah ia bertemu dengan S.Sudjojono, yang lalu sama-sama melukis di sanggar sekolah. Ditempat ini bakat menggambarnya semakin terasah, ia kerap membuat ilutrasi selebaran yang diterbitkan PMTS (Persatuan Murid Taman Siswa).

Pada tahun 1933, ia kembali ke Jakarta dan sempat sebentar mengajar di Taman Madya Sekolah Taman Siswa tapi lalu keluar. Antara 1936-1938, tinggal di Bandung ikut dengan paman ayahnya, sambil kursus di COMB (Cursus Opleiding Middlebare Bouwkundigen) yang didirikan oleh Ir. Rooseno.

Ketika tinggal di Bandung, ia terpilih menjadi ketua Indonesia Muda (IM) cabang Bandung. Bersama kawan-kawan IM, ia ikut menerbitkan Warta Indonesia Muda dan sempat mengikuti kongres IM di Surabaya, Desember 1937. Tahun 1938, ia kembali hijrah ke Jakarta lagi, tinggal di kawasan Tangkiwood, berteman Rukiah dan Kartolo, suami-isteri pemain film ternama pada masa itu. Ia juga Membuat ilustrasi dan sampul kulit buku Surat-Surat Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armyn Pane. Lalu bersama S.Toetoer (anggota PERSAGI), ia melukis Rukiah. Saat itulah ia mulai dekat dengan lingkaran PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia, bentukan S.Sudjojono).

Setelah sempat menjadi juru-ukur tanah di pinggiran Jakarta, Sawangan dan Pamengpeuk di awal tahun 1941, ia memutuskan kembali ke Jakarta, di pertengahan tahun itu juga untuk menggambar peta tanah di kantor pengukuran.

Jiwa seninya tidak berhenti sampai di situ, Di awal zaman Jepang, ia membuat dekor panggung untuk banyak kelompok sandiwara, seperti Bintang Surabaya, Orpheus, Fifi Young Pagoda, Dewi Mada, Miss Tjitjih, Cahaya Timur, sambil ikut berkeliling rombongan sandiwara tersebut. Di masa ini ia juga banyak membuat sketsa wajah pemain di kamar rias. Tahun 1943 ia dapat hadiah lukisan terbaik dalam Pameran Seni Lukis di Keimin Bunka Shidosho, dan namanya disejajarkan dengan Affandi, Sudjojono, Basuki Abdullah dan Agus Djaya.


Raka dan Saya

Sempat bekerja di Bagian Seni Rupa Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan, bentukan penjajahan militerisme Jepang) dengan Otto Djaya dan Subanto. Tugasnya membuat tulisan tentang seni rupa Indonesia untuk radio. Tapi kemudian ia tinggalkan profesi tersebut karena ikut keliling Jakarta dan Jawa Barat bersama rombongan sandiwara Cahaya Timur Anjar Asmara, sebagai penata dekor dan lampu.

Menjelang pecah Perang Pasifik, ia giat membuat sketsa di jalanan-jalanan Jakarta. Sekitar masa Proklamasi 17 Agustus 1945, ia ikut membuat dan menyebarkan poster-poster Republik dari Jawa Hokokai ke pelosok Jakarta bersama M.Balfas (kritisi seni rupa dan sastrawan), dan aktif dalam Komite Aksi Menteng 31 bersama Sukarni, Adam Malik, Wikana, Chaerul Saleh dan lain-lain. Bahkan, dengan beberapa kawan, ia ikut terlibat mengatur rapat umum di lapangan Ikada (sekarang Monas).

Saat masa pengungsian pusat pemerintahan ia ikut hijrah ke Yogyakarta. Lalu selama seminggu, tinggal di Sarangan, Madiun dekat danau, menghasilkan serial sketsa dan lukisan yang menampilkan citra kelam, kesepian dan  kesedihan Telaga Sarangan. Kemudian tinggal sebentar di Sukabumi ikut dalam Badan Kesenian Oemoem (BKO)-nya Agus dan Otto Djaya, sebagai bagian dari strategi ketenteraan.

Sempat mendirikan Seniman Indonesia Muda (SIM) bersama Sudjojono, Sudibio, Trisno Sumardjo, saat ia tinggal di Madiun, lalu dilanjutkan di Solo dan Yogyakarta. Sejak di SIM Madiun dan Solo, ia semakin giat melukis dan menulis kritik seni rupa Indonesia dalam majalah Seniman terbitan SIM. Tahun 1947, saat pameran lukisan di Madiun, lukisan Wanita Telanjang-nya hilang, dan ditemukan kembali dalam keadaan rusak.

Di masa peralihan, ia kerap mengikuti sejumlah Pameran Seni Lukis Indonesia, bersama sejumlah besar seniman Indonesia, yang diorganisir oleh Affandi, Zaini, Muchtar Apin. Pameran-pameran tersebut semula di bekas Gedung Batavia Kunstkring, tapi perang memaksanya pindah ke Gedung Salemba (UI sekarang).

Awal tahun 1950-an, Resobowo dikenal sebagai satu dari Empat Serangkai Pelukis bersama Trisno Sumardjo, Oesman Effandi, dan Zaini. Di awal 1952 mereka berpameran di Galeri Seni Sono-Yogyakarta dengan kata pengantar Sudjojono. Selanjutnya mereka berempat berpameran keliling di Padang dan Sumatera Barat, lalu Medan dan Bali, disponsori oleh Sticussa (Badan Kerjasama Kebudayaan Belanda-Indonesia). Bersama banyak kawan seniman lain, ia juga membuat pesanan lukisan tokoh pahlawan dan sejarah Indonesia untuk pelajaran sekolah, dari Fasco (Familij Sarekat Compagnij).

Selain itu, ia juga bekerja dengan Usmar Ismail di PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia) dalam film pertama Indonesia, Long March (1949) sebagai pembantu skenario Sitor Situmorang dan penata artistik. Ia kemudian juga membuat skenario untuk film lain Usmar Ismail, Tamu Agung, sebuah mahakarya film Indonesia. Skenarionya itu merupakan adaptasi sempurna atas drama Nikolai Gogol, Inspektur Jenderal.

Sejak akhir 1950-an, ia mulai dikenal sebagai Ketua Lembaga Seni Rupa Pusat LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang merupakan organisasi kebudayaan di bawah naungan PKI (Partai Komunis Indonesia). Sejak saat itu, ia kerap berpameran bersama dengan para Pelukis Rakyat. Selain melukis, ia juga banyak menulis masalah seni rupa di berbagai harian dan majalah kebudayaan seperti Harian Rakyat, Seniman, Zenith, Budaya, Indonesia dan Zaman Baru antara tahun 1940-an hingga tengah tahun 1960-an.

Setelah LEKRA bersama PKI dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia, akibat peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965. Ia harus jadi imigran politik, mula-mula di Republik Rakyat Cina antara 1962-1972, lalu di Jerman, kemudian menetap di Amsterdam, Belanda.

Di Belanda kiprah politik dan berkeseniannya tidak pernah redup. Dalam perjuangan berpolitiknya, ia pernah melakukan aksi mogok makan, yang dilakukannya bersama kaum muda di Amsterdam (1992) pada hari sekitar  berita ancaman eksekusi terhadap Ruslan Wijayasastra dkk. Sedangkan kiprahnya dalam dunia seni di tuangkannya dalam sejumlah karya lukisan dan tulisan yang ia buat. Tercatat dari tahun 1987 sampai akhir tahun 1989, sudah berjilid-jilid buku ditulisnya dan diterbitkannya sendiri. Judul bukunya tersebut antara lain Bercermin Di Muka Kaca, Riwayat Hidupku, Karmiatun (jilid 1 Januari 1988, jilid ke-6 Januari 1989) dan cerita gambar Cut Nyak Din (jilid ke-1 dan ke-2). Selain itu disiarkannya pula tulisan-tulisan berbentuk jurnal dan serentetan karikatur. Ia juga ikut menyumbangkan esai tentang seni rupa kepada beberapa majalah, yang lalu dikumpulkan dalam buku Seniman, Seni, dan Masyarakat (1994), yang ditulisnya hampir setengah abad sesudah esai Sudjojono dengan judul sama terbit (1947).

Di tanah air, beberapa karya lukisnya juga menjadi koleksi di sejumlah tempat penting di Indonesia, diantaranya lukisan potret pemimpin nasionalis Dr. Sutomo yang ia buat sekarang tergantung di Istana Kepresidenan.

Pria yang pada tahun 1998, sempat datang ke tanah air dan bertemu dengan banyak tokoh seniman di Indonesia ini, wafat di Amsterdam, Belanda, 5 Januari 1999 dalam usia 83 tahun. Meninggalkan seorang anak perempuan dan isteri yang sudah dalam status bercerai.

(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *