Mari Telusuri Lebih Tentang Permainan Benthik

Pada kesempatan kali ini Mari Kita telusuri lebih tentang Permainan Benthik. Kata benthik berarti suara benturan antara barang pecah belah sehingga menimbulkan suara “thik”. Demikian pula dalam permainan ini terjadi benturan antara kedua alat permainan ini sehingga menimbulkan suara “thik”. Oleh karena itu permainan tersebul disebut dengan benthik. Permainan benthik selalu dimainkan pada siang hari, baik dari pagi hari hingga sore dan membutuhkan arena permainan yang luas, dan tidak banyak pepohonan dan merupakan permainan yang membutuhkan peserta secara berpasangan.

Latar belakang sosial budaya permainan benthik tidak memandang golongan dan merupakan permainan yang bersifat rekreasi, melatih ketrampilan, ketangkasan, melatih kerjasama yang baik karena merupakan permainan berpasangan dan sebagainya. Sejarah perkembangan permainan benthik sudah ada sejak lama dan berasal dari daerah pedesaan yang sekaligus merupakan permainan yang bersifat musiman. Artinya ada saatnya anak di suatu daerah bermain sedang di lain daerah sudah tidak pemah dimainkannya lagi. Sampai saat ini permainan benthik masih hidup dikalangan anak-anak namun jalan permainannya disederhanakan dan tetap bersifat musiman.

Peserta permainan benthik harus berjumlah genap karena permainan ini diharuskan berpasang-pasangan. Usia bagi pesertanya sekilar 10 – 15 tahun karena membutuhkan adu kekuatan. Oleh sebab itu, permainan benthik biasanya sering dimainkan oleh anak putera, namun tidak menutup kemungkinan bagi anak puteri. Akan tetapi sebaiknya peserta yang memainkannya adalah yang sejenis. Apabila satu kelompok terdiri dari puteri saja atau putera saja.

Peralatan yang digunakan dalam permainan benthik berupa dua batang kayu atau ranting yang kuat serta lurus yang disebut dengan benthong dan janak. Benthong adalah batang kayu yang kual dan lurus dengan panjang sekilar 40 cm dan sebesar ibu jari sedangkan janaknya adalah sebatang kayu yang kuat serta lurus dengan panjang 15 cm, dan sebesar jari-jari tangan. Benthong sebagai pengungkit dan janak sebagai benda yang diungkit dan dilempar oleh benthong. Selain benthong dan janak juga diperlukan sebuah lowokan di tanah yang sedalam 5 – 7 cm untuk tempat mengungkil permainan benthik tidak memerlukan iringan lagu maupun bunyi-bunyian.

Jalannya Permainan Benthik

benthik

Peserta permainan benthik berkumpul di halaman, misalnya yang memainkan ada empat orang yaitu a, b, e dan d. Kemudian mereka mencari pasangan yang seimbang, karena pada akhimya permainan ini ada hukuman yang berupa menggendong bagi yang kalah. Selanjutnya a memilih e sebagai pasangannya karena merasa seimbang baik tinggi, maupun beratnya, dan d berpasangan dengan b. Kemudian a dan e berserta b dan d mengadakan sud untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Setelah diadakan sud dan terlihat siapa yang menang dan siapa yang kalah. Masing–masing kelompok terdiri dari dua orang anak. Misalnya kelompok I yang menang beraggotakan a dan b sedangkan kelompok II yang kalah beranggotakan c dan d. Kemudian mereka membuat lowokan atau lubang di tanah.

Kelompok I yang terdiri a dan b kemudian bermain, sedangkan kelompok II yang kalah tugas berjaga. Akhirnya mulailah permainan benthik ini. Pertama-tama kelompok I yaitu a terlebih dahulu main sedangkan b bersama-sama dengan kelompok II (yaitu c dan d) berjaga dan berdiri secara menyebar di dalam arena permainan. Selanjutnya a uthat dengan cara memegang benthong yang ujungnya dimasukkan ke dalam lowokan tepat dibawah janak yang dilentangkan melintang di atas lowokan tersebut. Dengan sekuat tenaga a mengungkit Janak dengan benthong sampai terangkat dan terlempar jauh ke halaman sebelah barat. Jatuhnya Janak ini yang menjadi perhatian bagi b, c, dan d yang sedang berjaga. Masing-masing penjaga berusaha menangkap Janak, apabila Janak dapat ditangkap oleh lawannya (c atau d) dari kelompok II, maka Janak segera disinggungkan ke tanah. Hal ini berarti a mati dan diganti oleh temannya sendiri yaitu b, sedangkan a ikut berjaga dengan c dan d. Namun apabila Janak yang sudah ketangkap itu tidak lekas disinggungkan ke tanah atau justru dapat direbut oleh b dari kelompok I, maka a dapat mengungkit lagi. Kalau a dan b dari kelompok I sudah mati semua, maka diganti oleh kelompok I. Adapun cara dan pelaksanaanya sama dengan kelompok I. Apabila jatuhnya Janak di tanah, jadi mereka (b, c, dan d) tidak ada yang dapat menangkap, maka Janak dikembalikan dengan jalan dilemparkan ke arah anak yang mengungkit dengan sekuat tenaganya agar jatuhnya Janah dekat dengan lowokan oleh kelompok II yang sedang berjaga.

Kemudian a mengembalikan Janak sebelum jatuh ke tanah dengan benthong. Pengembalian Janak tersebut dengan cara dipukul atau tamplek sekuat tenaga dengan benthong supaya jatuhnya Janak jauh dengan lowokan. Selanjutnya jarak antara Janak dengan lowokan diukur dengan benthong. Apabila jaraknya sepanjang benthong atau kurang dari itu, maka a dianggap mati dan tidak diperbolehkan mengungkit lagi dan diganti oleh temannya satu kelompok yaitu b. Namun, jika jaraknya lebih misalnya 4 benthong maka 4 ini merupakan sawah bagi kelompok I. Perlu diketahui bahwa sebelum permainan dilaksanakan, para peserta mengadakan perjanjian tentang sawah yang harus diperoleh, misalnya 10 sawah maka kedua kelompok harus mendapatsawah sebanyak 10 buah baru boleh melanjutkan permainan ilar. Apabila belum mendapatkan 10 sawah mereka belum boleh melanjutkan permainan lagi, dan masih tetap uthat. Apabila jatuhnya Janak ditangkap oleh temannya sendiri yaitu b, maka Janak dilemparkan kearah barat lowokan dengan sekuat tenaga oleh b supaya jarak Janak dengan lowokan semakin jauh. Setelah jatuh di tanah dari lawannya dari kelompok II (c dan d), kemudian dilemparkan lagi ke timur, dengan sekuat tenaga dan diusahakan agar jatuhnya Janak sedekat mungkin dengan lowokan. Usaha ini dapat mematikan a dari kelompok I dan diganti dengan b dari kelompok I. Apabila dari kelompok I anggotanya sudah mati semua baru diganti oleh kelompok II yang bermain sedangkan kelompok I yang berjaga.. Akan tetapi jika a dapat mengembalikan Janak tersebut dengan benthong sehingga memperoleh jarak yang jauh dan diukur oleh benthong, maka hal ini merupakan sawah bagi kelompok I.

Selanjutnya uthat lagi sehingga sawahnya bertambah sampai memenuhi target yang telah ditentukan semula. Demikian seterusnya sampai a mati dan diganti dengan b, teman sekelompoknya. Apabila jatuhnya Janak ditangkap oleh lawannya kelompok II (c atau d) , maka Janak segera disinggungkan ke tanah. Hal ini berarti a mati, dan tidak boleh menyuthat lagi dan diganti oleh temannya sendiri yang sekelompok yaitu b, Namun, jika Janak yang sudah ketangkap itu tidak segera disinggungkan ke tanah dan tambahan lagi dapat direbut oleh b dari kelompok I, maka a dapat mengungkit lagi. Kalau a dan b dari kelompok I telah mati semua, maka digantikan oleh kelompok II, dan cara dan pelaksanaannya sama dengan kelompok I. Uthat ini dilaksanakan sampai salah satu kelompok mendapat nilai atau sawah tertentu yang telah disetujui bersama. Misalnya, jumlah nilai yang telah disetujui bersama adalah 10 buah dan salah satu kelompok telah mendapatkannya maka permainannya dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu ilar. liar merupakan cara untuk menjauhkan Janak dari lowokan. Cara pelaksanaan ilar ada tiga macam yaitu ilar bares, ilar tawang, dan ilar umbul. Sedangkan pelaksanaan ilar ini setiap para peserta yang menang harus melaksanakan ilar dua kali. Jadi, apabila dalam kelompok terdapat dua anak maka ilar itu terlaksana dalam empat kali . Mengenai jatuhnya Janak dalam ilar ada beberapa macam peraturan tergantung situasi jatuhnya Janak itu sendiri, seperti halnya pada saat uthat yaitu jatuhnya Janak di tanah, jatuhnya Janak ditangkap oleh kelompoknya sendiri dan jatuhnya Janak ditangkap oleh kelompok lawannya. Apabila jatuhnya Janak yang diilar ke tanah, pertama-tama a ilar di dekat lowokan kearah barat. Kemudaian ilar yang kedua dari tempat jatuhnya janak yang diilar pertama, ke arah barat pula maka semakin lama semakin ke barat dan penjaga pun dari kelompok I (b) dan kelompok yang kalah pindah ke arah barat supaya dapat menangkap Janak. Kedua kelompok tidak ada yang dapat menangkap Janak maka jatuh ke tanah. Setelah a dua kali ilar, ia harus berhenti dan diganti oleh temannya dari kelompok I (b) dua kali pula, sedangkan a menggantikan b ikut berjaga. Demikian seterusnya sampai anak–anak kelompok I masing-masing telah ilar dua kali. Apabila jatuhnya janak yang diilar ditangkap oleh temannya sendiri (b), maka Janak disambitkan dengan sekuat tenaga ke arah barat. Sementara itu anak-anak dari kelompok yang jaga juga menggeser ke barat supaya dapat menangkap Janak tersebut. Dari tempat jatuhnya janak, kemudian a ilar lagi untuk kedua kalinya. Kebetulan ilar yang kedua inipun dapat ditangkap oleh temannya sendiri, maka janak disambitkan ke barat lagi . Demikian berganti-ganti yang ilar hingga semua anak dalam kelompok I masing-masing ilar dua kali sampai janak jatuh ke tanah, berarti tidak ada yang menangkap.
Kalau Janak ditangkap oleh kelompok musuh. Pada saat a pertama kali ilar, Janak dapat ditangkap oleh kelompok a (c atau d) musuhnya, maka janak tersebut oleh c atau d dikembalikan dengan sekuat tenaga ke arah timur supaya jatuhnya Janak melampaui lowokan. Sementara itu penjaga yang lain (b dan d) pindah ke !imur supaya dapa! menangkap Janak tersebut. Kali inpun masih ditangkap oleh musuhnya dari kelompok n, maka segera Janak disambitkan lagi hingga jauh dari lowokan. Tetapi apabila Janak tersebut dapat ditangkap oleh temannya sendiri (b) maka Janak dilemparkan kembali dengan sekuat tenaga ke arah barat. Kalau jatuhnya Janak di tanah barulah melakukan ilardua kali.

Kalau kelompok I (a dan b) telah melaksanakan ilar dua kali, maka ilar yang terakhir dapat dilihat di mana janaknya jatuh. Apabila Janak jatuh di sebelah barat lowokan maka musuhnya harus mengembalikan ke timur masing-masing juga dua kali. Cara mengembalikan Janak dengan jalan diungkit. Pada yang terakhir kalinya dimana letak jatuhnya Janak, jika di sebelah barat lowokan berarti anak-anak kelompok I (a dan b) berhak meminta gendong lawannya dari kelompok n (c dan d). Sedangkan kalau jatuhnya Janak di sebelah timur lowokan maka anak-anak kelompok n (c dan d) berhak meminta gendong lawannya dari kelompok I. Kalau terjadi demikian maka peristiwa ini disebut dengan ngintip. Dengan selesainya gendongan, maka selesailah permainan benthik.

You may also like...