Heru Kesawa Murti

Nama :
Adrianus Heru Kesawa Murti
 
Lahir :
Yogyakarta, 9 Agustus 1957
 
Wafat :
Bantul, Yogyakarta,
 1 Agustus 2011
 
Pendidikan :
SMSR,
SMA,
ASRI Yogyakarta
 (tidak tamat),
Fakultas Filsafat UGM
(tidak tamat)
 
Profesi :
Penggiat Teater,
Penulis
 
Penghargaan :
Anugerah Penghargaan Seni dari Pemda D.I Yogyakarta
 
Karya-Karya :
Kucing,
Muara Putih Hati,
Pena Tajam,
Diam itu Indah,
Gincu,
Surat Untuk Wakil Rakyat, mBangun  Desa,
Kompleks,
Gatotkaca,
Malioboro,
Cermin,
Badut  Pasti Berlalu
(naskah sinetron),
Meh,
Kontrang-Kantring,
Pensiunan,
Juragan Abiyasa,
Kera-kera,
Orde Tabung,
Upeti,
Buruk Muka Cermin di Jual, Departemen Borok,
Parawira Panten


Heru Kesawa Murti
 
 
Bernama lengkap Adrianus Heru Kesawa Murti, seniman teater ini lahir di Yogyakarta, 9 Agustus 1957. Darah seninya ditularkan dari ayahnya, Handung Kussudyarsana, seorang pemain ketoprak dan penulis naskah drama dan pamannya, Bagong Kussudiardja, koroegrafer dan pelukis kenamaan. Salah seorang pendiri teater Gandrik Yogyakarta ini dikenal sebagai orang yang paling akhir menghapalkan naskah, namun disaat pentas ia pasti sudah hapal.

Pernah berkuliah di ASRI Yogyakarta dan Fakultas Filsafat UGM, namun keduanya tidak ia rampungkan. Sejak duduk dibangku SMP, ia sudah mempublikasikan karya puisi dan cerpennya. Naskah dramanya yang ia tulis dibangku SMSR, Tuan Residen menjadi naskah wajib Festival Teater SLTA di Yogyakarta, dan Orang-Orang Terakhir sempat disiarkan oleh TVRI Yogyakarta pada tahun 1980.
 
Pada tahun 1983, Bersama Djaduk Ferianto, Butet Kertarejasa, Susilo Nugroho, Sepnu Heryanto dan Jujuk Prabowo mendirikan Teater Gandrik. Bersama kelompok teater inilah kreativitas kesenimannya terwadahi, karena naskah-naskah karyanya dipentaskan. Peraih anugerah penghargaan Seni dari Pemda Yogyakarta ini sering menjadi juri untuk berbagai festival teater. Ia juga pernah menjadi dosen luar biasa di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.

 

PAN-DOL (2010)

 
Bermukim di kawasan Madukismo, Bantul, Yogyakarta. Menikah dengan Muji Rahayu dan dikaruniai dua orang anak, Aditya Prameswara dan Surnia. Meskipun berbeda keyakinan dengan istrinya ia mengaku tidak pernah berkonflik. “Kalaupun muncul persoalan, paling hanya masalah konkret sehari-hari, seperti kreditan yang belum lunas,” ujar pemeran Pak Bina pada serial Mbangun Desa di TVRI Yogyakarta.
 
Belum Sempat merayakan hari luang tahunnya ke-54, wafat akibat serangan jantung pada hari Senin, 1 Agustus 2011, sekitar pukul 12.00 wib, dirumahnya didaerah Tirtonirmolo, Bantul, Yogyakarta. Dimakamkan keesokan harinya, dipemakaman keluarga Bagong Kussudiardja didusun Sembungan, Tamantirto, Bantul, Yogyakarta.     
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *