I Gusti Ketut Kobot


Pelukis
I Gusti Ketut Kobot
 
 
 
Semasa berumur 13 tahun, ia suka bermain di bawah pohon yang rimbun. Dipungutinya daun lebar yang berguguran. Dikumpulkan dan disobek-sobeknya dengan sebilah pisau, hingga mirip gambar wayang. Memang itu maksudnya, meskipun Kobot tak mengerti cerita wayang. Pada suatu hari seorang keturunan raja, Cokorda Oka Gambir, singgah di rumah orang tua Kobot. Bangsawan itu menemukan Wayang daun Kobot yang berserakan. Ia bertanya, siapa membuat wayang-wayang ini ? Ayah Kobot menjawab tersipu, itu mainan anak saya. Cokorda berpikir, kemudian meminta Kobot datang ke rumahnya.
 
Di Puri Peliatan, tetangga desa Ubud, ia mulai mengenal wayang lengkap dengan segala seluk-beluknya. Kobot mengakui bahwa Cokorda sebagai salah seorang gurunya. Hampir semua lukisan Kobot mengandung bagian cerita wayang. Ia membuktikan bahwa tema wayang yang telah dikaji sekian lama, belum juga kering. Untuk bahan cat ia menggunakan gincu, semacam cat air.
 


Kelahiran Boma, 70cm x 50 cm, akrilik diatas kanvas (1970)

Ketika pelukis Belanda, Bonnet, menjenguk Kobot, Bonnet mengajak Kobot ke rumahnya. Di sana Kobot dilatih meletakan pertimbangan komposisi ruang dan warna di atas gayanya yang tradisional dan dekoratif. ”Dia merupakan tokoh tersendiri yang hidup di hati saya tutur Kobot membicarakan guru keduanya. Apalagi, Dia tidak pernah berusaha untuk mengubah style saya, bahkan dia selalu berpesan agar style Bali itu dihidupkan terus,” kenangya.

 
Sekitar tahun 1936, Bonnet membentuk Pita Maha, perkumpulan yang beranggotakan pelukis-pelukis dari Ubud. Anggota perkumpulan wajib menyerahkan lukisan mereka untuk dinilai. Yang dinilai baik akan disimpan sebagai koleksi. jika laku dijual, harganya tentu tinggi. Yang kurang baik akan dikembalikan kepada pelukisnya. Lukisan Kobot bukan tak ada yang ditolak. Tetapi ada seorang gadis, yang rajin meminta lukisan-lukisan afkiran itu, untuk kenang-kenangan. Gadis ini yang kemudian mendampingi hidup Kobot dan memberikan tiga orang anak. Ia tak bisa ingat berapa lukisan yang sudah dibuatnya. Yang diingatnya delapan buah lukisannya ada di dalam koleksi Bung Karno, beberapa lagi pada koleksi Adam Malik.
 
Pernah dicobanya menjadi guru, pada sekolah Seni Lukis di Desa Peliatan. Dari 14 murid, hanya 3 orang yang kemudian benar-benar jadi pelukis. Sementara di antara anak-anak dan cucu Kobot sendiri, tak seorang pun rupanya yang tertarik mengikuti jejaknya. Kobot seperti halnya pelukis tradisional melukis dengan kuas yang dibikin sendiri, dari belahan bambu. Lukisannya tak terlalu istimewa, seperti punya Lempad atau Ida Bagus Made. Namun, ia berharga sebagai tokoh yang mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan uang dalam perkampungan seni Ubud. Di tengah arus pariwisata yang melanda kampung halamannya, Kobot prihatin melihat lukisan-lukisan rombengan yang diobral murah untuk melayani selera turis. Ia salah seorang di antara yang bertahan untuk tidak hanyut dalam arus itu.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
I Gusti Ketut Kobot
 
Lahir :
Pengosekan, Ubud,
 Bali, 1917
 
Wafat :
1999
 
Pendidikan :
Sekolah Desa (1928-1931),
Belajar melukis di Puri Peliatan pada Cokorde Oka Gambir (1933),
Belajar melukis pada Rudolph Bonnet (1934)
 
Profesi :
Pelukis,
Guru Lukis (1949-1950)
 
 
Penghargaan :
Wijaya Kesuma Award (1977),
Dharma Kusuma (1981)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *