I Gusti Kompiang Raka

Nama :
I Gusti Kompiang Raka
 
Lahir :
Banjar Kutri, Singapadu, Gianyar, Bali,
28 April 1947
 
Pendidikan :
Sekolah Rakyat Sigapadu (Bali),
SMP Tresnayasa, Singapadu (Bali),
Sekolah Taman Guru Atas (Bali), 
Konservatori Karawitan Denpasar, Bali (1966),
Fakultas Hukum Universitas Indonesia (tidak lulus),
Workshop Teater Anak-Anak asia di Kuala Lumpur, Malaysia (1986),
Pelatihan Manajemen Panggung di Rotterdam, Belanda (1987)
 
Karier :
Pengajar Honorer SD Pondok Pinang, Jakarta (1969),
Karyawan PKJ-TIM
 (1968-1984),
  Karyawan Gedung Kesenian Jakarta (1992-2002),
 
Aktifitas Lain :
Ketua dan Pembina Kesenian di Banjar Kutri, Gianyar (Bali),
Pimpinan Sanggar Tari Kesenian Bali Saraswati,
Anggota dan pengurus Badan Koordinasi Bali,
Anggota dan pengurus Banjar (Masyarakat Bali di Jakarta),
Anggota dan pengurus pusat Yayasan Sena Wangi
 
Karya :
Sri Dharmaswarni,
Sakuntala,
Putra Kualon,
Cupi Manik Astagina,
Sanghang,
Suarga,
Legong Surapati,
Rare Angon,
Jayaprana,
Maniera (Musik, 1987)
 
Pencapaian :
Penghargaan Dharma Kusuma dari Gubernur Propinsi Balai (2005),
Penghargaan Akademi Jakarta (2013),
Anugerah Kebudayaan Kategori Anugerah Seni dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata (2014)

Seniman Tari
 I Gusti Kompiang Raka
 
 
 
Terlahir dari keluarga seniman. Sejak usia 7 tahun telah tertarik dengan tarian, gamelan dan mulai ikut-ikutan latihan menabuh dan menari. Pada usia 9 tahun, ia telah terpilih menjadi salah satu Sekhe Gong dimana seluruh anggotanya adalah orang-orang dewasa. Dengan berbekal ketrampilan yang didapat dari Sekhe Gong Banjar Kutri, ia terpilih menjadi anggota timkesenian sekolah yang pada waktu itu dibina dan dilatih oleh dua orang seniman terkenal, Tjokorde Agung Oka dan I Made Kerdek.
 
Pada tahun 1964-1967 ia menjadi Ketua dan Pembina kesenian di Banjar Kutri, Singapadu, Gianyar. Di tahun 1967 ia hijrah ke Jakarta dan mulai aktif dalam kegiatan kesenian Bali. Ia ikut bergabung pada yayasan Yasa Sedana pimpinan Bapak Sampurno SH. Bersama-sama masyarakat dan seniman Bali yang ada di Jakarta, ia merintis pembentukan LKB Saraswati di tahun 1968. Pernah menjadi karyawan TIM sekitar tahun 1969. Di tahun 1970, bersama dengan LKB Saraswati mengikuti sebuah festival kesenian di Adeleide, Australia. Pada Konferensi PATA 1974 di Jakarta, ia turut mempersiapkan satu paket kesenian yang akan tampil di konferensi tersebut.
 
Beberapa kali mewakili Pemerintah Daerah Bali dalam rangka festival seni tradisional seluruh Indonesia di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah. Di tahun 1979, bersama dengan Guruh Soekarno Putra mencipta dan mengadakan pagelaran di Jakarta maupun di luar Jakarta. Dewan Kesenian Jakarta menugaskannya untuk mengikuti workshop teater anak-anak Asia di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 1986. Pernah ditugaskan oleh Gubernur KDKI Jakarta untuk mengikuti training stage dan manajemen kesenian di Rotterdam, Belanda, dan pernah menjadi bagian dari kontingen Indonesia dalam World Song Festival di Budokan Tokyo bersama Guruh Soekarno Putra.
 
Karya tarinya ‘Kecak Sanghyang’ pernah di pentaskan dalam Festival Asian Collection di Kumamoto Jepang. Pernah bergabung dengan Gumarang Sakti Dance Company dan ikut serta dalam sebuah Festival Tari di Jerman. Di tahun 1992, ikut dalam pementasan tari pada KTT Non Blok dan di tahun 1994, bersama Trisutji Kamal ia ikut serta pada tour musik Ensembel di Spanyol, Afrika dan Mesir.
 
Di tahun 19997, untuk kedua kalinya ia ikut tour musik bersama Ensembel Trisutji Kamal ke Vatikan, Italia, Marseille, Paris (Perancis) dan dilanjutkan ke Yunani di tahun 1998. Pernah memimpin rombongan Wayang Orang dalam Festival musik teater ke delapan kota besar di Belanda di tahun 1999. Ikut dalam tour musik ke Thailand dan Perancis bersama ensembel Trisutji Kamal di tahun yang sama. Tahun 2001, pernah membawa LKB Saraswati ke Los Angeles, Amerika Serikat dalam sebuah misi kesenian. Ikut serta dalam World Choir Olympic di Busan, Korea Selatan pada 2002 bersama Elfa Secioria. Di tahun 2004 ikut serta dalam sebuah lawatan bersama Elfa Music Choir di Jerman.
 
Pernah menjadi pengamat Festival dan Tokyo Arts Market di Jepang di tahun 2005, pada tahun yang sama, bersama dengan rombongan LKB Saraswati dan Nusantara Symphony Orchestra. Ikut serta dalam Festival musik Symphony Asia di Jepang. Di tahun 2006, Ikut serta dalam World Olympic Choir bersama Elfas Musik Studio yang di selenggarakan di Tiongkok.
 
Karya musik yang cukup indah di ciptakannya bersama Marusya Nainggolan untuk TRIENALE seni patung Indonesia tahun 1987, dengan judul ‘Maniera’ mendapat sambutan meriah dari berbagai pihak. Menikah dengan I Gusti Agung Ayu Ratnawati, dikaruniai dua orang anak, I Gusti Ayu Sri Mertawati Raka Putri dan I Gusti Ngurah Gde Dyaksa Raka Putra.
 
(Dari Berbagai Sumber)  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *