I Nyoman Masriadi


Pelukis
I Nyoman Masriadi
 
 
 
 
Lahir di Banjar Blahtanah, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, 28 Oktober 1973. Penggemar game online ini menempuh pendidikan senirupa di SMSR Bali (1989) dan menempuh pendidikan S1 di ISI Yogyakarta (1993), namun tidak sampai selesai. Meski dibesarkan dalam tradisi seni Bali yang khas, ia boleh dibilang membelok dari gaya lukisan adat yang pernah membesarkannya. Ia cenderung melahirkan corak pribadi yang ide lukisannya berasal dari berbagai masalah yang ditemuinya sehari-hari. Namun meskipun begitu, nuansa ke-Bali-an itu ternyata tetap melekat dan tak pernah hilang betul dari dirinya.
 
Saat ini namanya tengah menjadi pembicaraan berbagai balai lelang internasional. Hal tersebut karena seniman muda ini baru saja diprofilkan majalah Sotheby’s International Preview sebagai salah satu top master dan seniman kontemporer dunia. Salah satu karyanya, Jago Kandang, masuk dalam rangking pertama Sotheby’s Top Ten Contemporary South East Asian Painting versi Asian Contemporary Art and Culture Magazine, 2008. Dalam beberapa tahun ini, harga karyanya terus menembus angka-angka baru. Karya terakhirnya, Sudah Biasa Ditelanjangi, terlelang dengan harga cukup fantastis di balai lelang Christie’s International Hongkong. Karya-karyanya yang lain kini tergolong langka, mahal dan diburu banyak orang.
 

Meski telah mengikuti lebih dari 30 kali pameran bersama di sejumlah tempat sejak tahun 1994-2008, namun, Pelukis yang pernah meraih Best Water Colour Painting, ISI Yogyakarta tahun 1994 dan Best Painting at Dies Natalis ISI Yogyakarta tahun 1997 ini baru mengadakan pameran tunggalnya yang pertama yang berjudul ‘Masriadi: Black Is My Last Weapon’ di Singapore Art Museum, Singapura pada tahun 2008.

 
Dalam karya-karya terakhirnya, Masriadi banyak mengolah aspek ilusif dalam lukisan. Menariknya, seiring perubahan cara penggarapan tersebut, ia seakan menemukan sebuah ekspresi yang sangat berbeda dengan karya sebelumnya. Dalam karya-karya tersebut, dimensi ilusif itu menghasilkan kedalaman, jarak, dan ruang. Di sini ekspresi akan ketenangan dan kesunyian mengedepan, sangat berbeda dengan karya sebelumnya yang flat, fokus pada satu objek, yang terasa ramai. Dalam hal ini ia memperlihatkan bagaimana kefasihannya terhadap medium ungkap sangatlah berpengaruh pada kemungkinan intensi seniman dalam menghasilkan sebuah ekspresi yang spesifik.
 
Pelukis yang kerap melukis bentuk orang yang sengaja di rubah sedikit, misalnya yang gemuk lebih di gemukan dan yang kurus dikuruskan ini, menetap di pinggir Kota Jogjakarta tepatnya di Kelurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Menikah dengan Ana, Dari pernikahannya tersebut, di karuniai dua orang anak, Ganesha dan Pucuk.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
I Nyoman Masriadi
 
Lahir :
Banjar Blahtanah, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, 28 Oktober 1973
 
Pendidikan :
SMSR Bali (1989),
S1 di ISI Yogyakarta (1993)
 
Penghargaan :
Best Water Colour Painting, ISI Yogyakarta (1994)
 Best Painting at Dies Natalis ISI Yogyakarta (1997)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *