Tips Cerdas Menghukum Anak

Yang pendidikannya keras dan kasar, akan menghilangkan kelapangan jiwa, melenyapkan semangat, menyebabkan kemalasan, mendorong untuk berdusta karena takut keras dan kasar tersebut dan mengajari untuk berlaku licik. Hingga hal ini menjadi kebiasaannya dan akhlaknya, maka rusaklah nilai kemanusiannya.

(Ibnu Khaldun dalam Mukaddimahnya)

  1. Kelembutan dan pendekatan harus dilakukan terlebih dahulu sebelum hukuman.
  2. Hukuman dengan pukulan merupakan hukuman terberat. Maka metode ini tidak boleh dipakai kecuali jika semua upaya tak lagi berguna.
  3. Menggantungkan cambuk adalah perintah Nabi.

Dari Ibnu Abbas ra dan ia memarfu’kannya kepada Nabi SAW: Gantungkanlah cambuk yang bisa dilihat oleh semuaanggota keluarga, karena itu sebagai adab bagi mereka.” (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir, dihasankan oleh Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid dan Al Albani dalam silsilah Al Ahadits Ash Shahih)

  1. Jika kesalahan terjadi, maka berikut beberapa bentuk teguran sebelum pukulan sebagai solusi terakhir,

a. Nasehat dan petunjuk

Rasulullah memberi nasehat dan petunjuk bagi Umar bin Abi Salamah: “Hai nak, sebutlah nama Allah ta’ala, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu.” (Muttafaq ‘Alaih)

b. Berpaling darinya

Rasulullah SAWjika melihat dari salah satukeluarganya ada sebuah dusta, beliau terus berpaling darinya hingga ia bertaubat.” (lihat: Shahih Jami’ Ash Shagir, AL Albani)

c. Ekspresi Wajah

Ekspresi yang menunjukkan ketidaksenangan atas perbuatan itu.

d. Teguran Lisan

e. Menghentikan perbuatan

f. Menjauhinya

Jika diperlukan orangtua atau pendidik bisa menjauhinya sebagai bentuk hukuman. Tetapi dengan catatan tidk boleh lebih dari 3 hari.

g. Menjewer

Nabi pernah menjewer anak-anak di zaman beliau; Abdullah bin Busr dan Nu’man bin Basyir dalam kasus pelajaran amanah anggur.

  1. Hukuman tidak boleh menjatuhkan kemuliaan diri sebagai manusia.
  2. Hukuman tidak boleh sering dilakukan, karena akan membuat anaka justru semakin bertambah bodoh dan beku.
  3. Beri kesempatan pada kesalahan pertama untuk memperbaiki.
  4. Jangan mengancam dengan sebuah hukuman jika tidak dilaksanakan.
  5. Jaga lisan saat menghukum.
  6. Yang menghukum harus langsung orangtuanya atau gurunya, tidak boleh diserahkan kepada saudaranya atau temannya.
  7. Jika semua hukuman sudah tidak bisa lagi memperbaiki, maka hukuman terakhir berupa pukul atau sabet bisa dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa syarat berikut:

a. Sebelum dipukul, wajib dijelaskan sebab hukuman tersebut dengan menjelaskan perbuatan benar yang tidak akan menyebabkan hukuman pukulan.

b. Anak-anak tidak boleh dipukul sebelum berusia 10 tahun.

c. Untuk kesalahan sebesar kesalahan meninggalkan sholat. Di bawah itu, tentu tidak dipukul dengan cara yang samadengan meninggaalkan sholat.

d. Tidak dipukul lebih dari 10 kali.

e. Pukulan tidak boleh memebekas di kulit.

f. Alat pemukulnya sedang, tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras.

g. Pukulan diberikan di beberapa bagian badannya, tidak di satu tempat.

h. Berikan jeda dari satu pukulan ke pukulan berikutnya, agar rasa sakitnya mereda terlebih dahulu.

i. Tidak boleh memukul wajah, kepala, dan kemaluan. Lebih baik pukulan di kaki atau tangan.

j. Guru tidak boleh memukul saat marah, karena guru itu mendidik bukan membalas.

k. Hentikan pukulan jika anak-anak berlindung kepada Allah.

 

Semoga lebih bijak dalam menghukum anak, agar anak tidak semakin nakal.

Leave a Reply