Irawati Kusumorasri

Nama :
Irawati Kusumorasri
 
lahir :
12 Desember 1963
 
Pendidikan :
Pascasarjana di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)
 
Aktifitas Lain :
Tenaga pemasaran di sebuah perusahaan asuransi
 
Karya :
Oncat Srimpi Topeng Sumunar (1994),
Operet Timun Emas (1996),
Obong (1997),
Beksan Sekar Ratri Srimpen Kendi Sekar Putri (1999),
Bedhaya Kakung ‘Siguse’ (2000),
Sekar Jagad (2002)

Koreografer dan Penari
Irawati Kusumorasri
 
 
 
Lahir 12 Desember 1963, mengenal tari Jawa Klasik sejak berusia enam tahun. Putri bungsu pasangan Sudiyatmo Suryosumanto dan Sri Wulan, belajar tari dari pelatih tari di Prangwedanan di lingkungan istana Mangkunegaran yang dia kenal sebagai Ibu Kus serta Ibu Bei Mintoraras.
 
Dari mereka ia menguasai beragam tari Jawa. Beberapa diantaranya Srimpi Anglir Mendung, Srimpi Moncar, Gambyong, Mondraswara, Mondrokusumo, Mondrorini, dan Langendriyan. Ia juga mahir Beksan Wireng seperti Menak Koncar, Srikandi Mustokoweni, hingga Karonsih. Semakin mencintai dunia tari ketika ia mengikuti berbagai festival tari, serta terlibat dalam sejumlah produksi antara lain bersama Sardono W Kusumo.
 
Tak terhitung kesertaannya dalam berbagai misi kesenian ke luar negeri. Sejumlah karya koreografinya dalam berbagai festival tari yang diikutinya menegaskan nilai tradisi yang mendasari sikap keseniannya, seperti ‘Oncat’, ‘Srimpi Topeng Sumunar’ (1994), Operet Timun Emas (1996), Sinta Obong (1997), ‘Beksan Sekar Ratri’, ‘Srimpen Kendi Sekar Putri’ (1999) dan ‘Bedhaya Kakung Siguse’ (2000). Karya puncaknya adalah koreografi ‘Sekar Jagad’, Sebuah Karya Tugas akhirnya untuk program pascasarjana di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, yang dia gelar di Ndalem Joyokusuman Solo 4 Juli 2002. Pertunjukan yang berdurasi tiga jam ini bukan hanya menyajikan seni pertunjukan yang bersifat metaforik diatas panggung, ‘Sekar Jagad’ menggambarkan ‘pemberontakan’ nya, sekaligus mengekspresikan sikap urakan namun tetap dalam kerangka tradisi. Di sini penonton tidak terpancang pada pertunjukan panggung, tetapi terlibat dalam kehidupan kaum perempuan Jawa dengan segenap denyut lingkungan sosio-kulturalnya sehari-hari.
 
Karya ini memanfaatkan seluruh ruang dan halaman sebuah kompleks bangunan bangsawan jawa. Penonton diajak mengapresiasi keindahan arsitektur bangunan berusia 153 tahun itu. Mereka juga diajak mengagumi keindahan kain-kain batik kuno berusia 100-an tahun yang dipajang di taman sebagai bagian dari pergelaran. Selain sebagai penari dan koreografer. Juga bekerja sebagai tenaga pemasaran di sebuah perusahaan asuransi, sampai hari ini.   
 
 
                 (Dari Berbagai sumber)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *