Ismail Marzuki


Ismail Marzuki
 
 
 
Nama sebenarnya adalah Ismail, sedangkan ayahnya bernama Marzuki, nama lengkap beliau menjadi Ismail bin Marzuki. Namun, kebanyakan orang memanggil nama lengkapnya Ismail Marzuki, bahkan di lingkungan teman-temannya kerap dipanggil Mail, Maing atau bang Maing. Ia dilahirkan di kampung Kwitang tepatnya di kecamatan Senen wilayah Jakarta Pusat, pada tanggal 11 Maret 1914. Tiga bulan setelah Ismail dilahirkan, ibunya meninggal dunia, ia dirawat oleh kakak perempuannya yang umurnya lebih tua dua belas tahun dari Ismail.
 
Sejak kanak-kanak ia sudah tertarik dengan lagu-lagu. Di rumahnya ada gramaphone (mesin ngomong) dan persediaan piringan hitam yang cukup banyak. Ia sangat mengagumi lagu dari Prancis dan Italia, atau lagu-lagu berirama rumba, samba, tango, dan sebagainya. Semenjak duduk di bangku MULO, ia sudah ikut grup musik untuk menyalurkan hobinya. Dalam band musiknya ia memegang alat petik banyo ala dixiland.

Ia memulai debutnya di bidang musik pada usia 17 tahun, ketika untuk pertama kalinya ia berhasil mengarang lagu O Sarinah” pada tahun 1931. Ismail mempunyai kepribadian yang luhur di bidang seni. Tahun 1936 Maing memasuki perkumpulan orkes musik Lief Java sebagai pemain gitar, saxophone dan harmonium pompa. Perhatian Ismail Marzuki terhadap berbagai sudut kehidupan kentara sekali dari tema-tema lagu yang dibawakan dan diciptakannya. Materi lagu-lagu tersebut diangkat dari kehidupan tukang becak, alam dan lingkungan, cinta, sampai pada masalah kebangsaan. Bila sebagian besar lagu-lagunya bertemakan tentang cinta, hal itu terlepas dari kepribadiannya yang romantis. Demikian pula dalam mencipta, Ismail selalu teliti dalam menganalisa, menyimak dan selalu saja mendapat ilustrasi seni yang diinginkan
 
Ismail mempelajari buku-buku perpustakaan tentang teori-teori musik, laras tangga nada dan ilmu melodi. Komposisi autodidaknya selalu dipraktekkan dipiano yang pernah ia geluti secara rutin dan ini menghasilkan suatu improvisasi murni yang mengilhami pikirannya menulis lagu. Maka dalam mencipta Ismail mendapat pengaruh dari musik-musik tersebut, terutama dari keroncong, seriosa dan Hawaiian.
 
Karya-karya Ismail pada periode ini secara kronologis :

Tahun 1931

Untuk pertama kalinya Ismail menciptakan lagu yang berjudul “Oh Sarinah” yang syairnya dibuat dalam bahasa Belanda.

Tahun 1935

Sewaktu berusia 21 tahun muncul karyanya dalam bentuk keroncong yang berjudul Keroncong Serenata.

Tahun 1936

Mencipta Roselani, judul ini membawa kita ke suasana romantis alam Hawaii di Samudra Pasifik.

Tahun 1937

Muncul lagu-lagu yang mengambil latar belakang “Hikayat 1001 Malam” berjudul Kasim Baba saat Ismail berusia 23 tahun; dan mencipta gubahan keroncong yang berjudul keroncong sejati bermodus minor bernafaskan melodi yang melankolis.

Tahun 1938

Mengisi ilustrasi musik film berjudul “Terang Bulan”. Di dalamnya ada 3 buah lagu antara lain : Pulau Saweba, Di Tepi Laut, Duduk Termenung. Film ini dibintangi oleh Miss Rukiah, Kartolo, Raden Mochtar dan lain-lain. Pemuda Ismail turut berperan dalam film tersebut yakni bermain musik dengan rekan-rekannya sebagai pelengkap skenario. Film ini diputar di Malaya. Ismail bernyanyi untuk adegan Raden Mochtar sewaktu menyanyi.

Tahun 1939

Keluar ciptaan sebanyak 8 buah lagu, 2 lagu diantaranya berbahasa Belanda yaitu : Als de Ovehedeen dan Als’t Meis is in de tropen. Sedang lagu-lagu Indonesianya adalah Bapak Kromo, Bandaneira, Olee lee di Kutaraja, Rindu Malam, Lenggang Bandung, Melancong ke Bali. Dalam periode ini Ismail belum menciptakan lagu-lagu perjuangaan.

 
Sebagai manusia yang mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa talenta musik, Ismail Marzuki berhasil mengembangkan bakatnya sehingga sukses, melalui usaha-usaha yang sangat serius dan tidak mengenal lelah dalam mempelajari segala pengetahuan musik, menimba pengalaman yang telah menghasilkan karya-karya yang berbobot disepanjang masa.
 
Dalam mencipta lagu-lagu, ia betul-betul memperhatikan kaidah-kaidah dalam musik misalnya dalam membuat melodi, mengatur jalannya irama, membagi pengkalimatan (prasering) di dalam musik beserta tempo yang di gunakan, yang semua itu disesuaikan dengan syairnya, telah menghasilkan sebuah ekspresi yang pas yang terasa wajar, tidak dibuat-buat sederhana tetapi sangat indah dan memiliki bobot yang tinggi.
 
Di dalam lagu-lagu ciptaannya, agaknya Ismail Marzuki begitu jeli memilih kisah perjuangan dengan kisah kehidupan sehari-hari terutama percintaan, serta memadukan kisah-kisah percintaan diantara lagu-lagu perjuangan. Inilah yang terasa menjadi ciri khas pada lagu-lagu ciptaanya. Lagu itu sendiri menjadi lebih hidup serta terasa segar disepanjang masa. Dalam usia 30 tahun, ciptaan Ismail Marzuki mulai memperlihatkan bobot yang lebih berat dalam unsur melodi, syair dan intensitasnya serta kemahirannya dalam meleburkan perlambangan asmara dengan perjuangan untuk tanah air, hal ini terlihat pada tahun 1944 dengan lahirnya ciptaan yang berjudul ‘Rayuan Pulau Kelapa’ dengan melodi serta syairnya dengan bobot yang sudah matang. Dipandang dari nafas lagu-lagu dan syair ciptaannya, Ismail Marzuki merupakan seorang nasionalis yang setia pada cita-cita perjuangan kemerdekaan, pada kehidupan rakyat dan pada ibu pertiwi. Dan karya-karyanya yang berjumlah lebih dari 200 buah, sarat dengan nilai-nilai perjuangan.
 
(Ismail Marzuki Komponis Pejuang 1985)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.