Iyus Rusliana

Nama :
Iyus Rusliana
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
19 Oktober 1949
 
Pendidikan :
Akademi Seni Tari Indonesia, Bandung (1974),
S-1 Institut Seni Indonesia, jurusan tari, Yogyakarta, (1985)
S-2 Institut Seni Indonesia,
 jurusan tari, Yogyakarta
 
Profesi :
Pengajar  STSI Bandung
 
Karya Tari :
Damarwulan (1975),
 Arjuna Wiwaha (1975),
Resi Bisma Gugur (1976)
Sangkuriang (1977),
Ciung Wanara (1977),
Somantri Gugur (1979), Mundinglaya Sabalangit (1979),
Tari Wayang Jawa Barat (1979),
Mundinglaya Dikusumah (bersama alumni ASTI Bandung, 1980),
 
Karya Tulis :
Tari Wayang Rahwana Di Kabupaten Garut Studi Perbandingan Tari Wayang Rahwana Di Kabupaten Garut Dengan Tari Keurseus Lenyepan Naek Kering Dua Dan Kering Tilu Dari Segi Koreografis Dan Karawitan Pengiringnya (1988),
Naskah Pengantar Garapan Drama Tari ’Gatot Kaca’ (1989),
Tari Srikandi-Mustakaweni Di Kabupaten Garut (1990),
Telusuran Awal (aspek) Tentang Kepenarian Pada Tari Tradisi Daerah Jawa Barat (1995),
Wayang Wong Priangan Sebagai Pertunjukan Drama Tari (2000),
Dramatari Purbasari (2002),
Wayang Dalam Tari Sunda (2008),
 
Pencapaian :
Dikukuhkan sebagai guru besar STSI Bandung bidang seni tari, kekhususan Tari wayang

Seniman Tari
Iyus Rusliana
 
 
 
Lahir di Bandung, Jawa Barat, 19 Oktober 1949. Pada usia 12 tahun, ia belajar pencak silat, menari dan menabuh kepada Bapak. Kayat pimpinan grup wayang wong, dimana ia menjadi salah satu pemainnya. Tahun 1970 masuk Akademi Seni Tari Indonesia, Bandung dan memperoleh gelar Sarjana Muda (1974). Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan Strata I-nya di Institut Seni Indonesia, jurusan tari, Yogyakarta, lulus tahun 1985. melanjutkan studi Strata II-nya di tempat yang sama.
 
Pernah menjadi penari pada grup Sendratari Lutung Kasarung, pimpinan Enoch Atmadibrata dan sendratari Ramayana, Jawa Barat (1970-1971) yang tampil dalam beberapa festival Ramayana Nasional dan Internasional. Pernah membantu Studio Tari Indra, Lingkungan Seni Sunda serta Perkumpulan Kesenian Guriang. Tahun 1978, membantu menata tari sekaligus menjadi penari dalam ’Topeng Badawang’ karya Endo Suanda pada Festival Penata Tari Muda I di Taman Ismail Marzuki.
 
Pengajar STSI Bandung ini, pada 24 Juni 2008, dikukuhkan menjadi sebagai Guru Besar di bidang Seni Tari, Khususnya Tari Wayang, dengan orasi ilmiahnya yang berjudul ’Wayang Dalam Tari Sunda’. Ia mengharapkan adanya kiprah aktif yang menyangga kekayaan tarian wayang dan wayang wong riangan sebagai bagian dari pemuliaan kesenian Sunda, adalah suatu keniscayaan. Begitu pula menjadi keniscayaan apabila para pengkaji terus-menerus melacaknya, dan para kreator terus-menerus berkreasi untuk menciptakan tari-tarian wayang dan wayang wong priangan yang baru dan menari.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *