Jack Lesmana

 

Jack Lesmana
 
 
Di kenal sebagai pelopor sekaligus pemusik jazz ternama di Indonesia. Mengabdikan hampir seluruh hidupnya bagi musik, terutama jazz. Dari elan jazz yang berlangsung lebih dari setengah abad lahir di negeri ini. Ia adalah simbol ikhtiar bagaimana suatu ekspresi musikal akhirnya diterima dan tidak selamanya datang sebagai tamu.
 
Ketekunanya sebagai guru atau maestro dalam musik jazz memungkinkan musik pendatang itu akhirnya menyusup juga ke dalam corak musik Indonesia yang lain. Melalui pementasan dan rekaman yang dilakukannya terlihat jejak langkah yang mengagumkan. Dulu jazz dijauhi banyak orang namun lantaran perannya secara bertahap kini jazz pribumi sudah memasyarakat.
 
Dalam mempopulerkan musik jazz Jack selalu punya gagasan kreatif. Ia pernah mengasuh acara TVRI ‘Nada dan Improvisasi’ untuk memperkenalkan jazz mainstream. Pada era 1970-an ketika gairah jazz pribumi menurun ia mengundang musisi jazz manggung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Ia mengajak pecinta jazz kembali menengok jazz seperti pada era 1960-an ketika ketenarannya dan kawan-kawannya yang tergabung dalam The Indonesia All Stars meluas ke luar negeri.
 
Bersahabat erat dengan salah satu legenda musik jazz Indonesia, Bubi Chen (alm). Bersama Bubu Chen (alm), ia gigih mengasah kemampuannya dalam jazz, bahkan ia rela mengayuh sepeda ontelnya sambil menenteng bas betot ke rumah Bubi untuk berlatih. Tahun 1964, bersama Bubi Chen (alm), ia membuat album di Lokananta Solo, Jawa Tengah. Album penting bagi musik jazz di Indonesia itu di-master ulang oleh Demajors di tahun 2007. Album tersebut berisikan delapan lagu lokal yang disuguhkan dengan rasa jazz mainstream. Tersebutlah antara lain ’Sri Ajunda’, ‘Lajang-Lajang’, ‘Merindu’, ‘Hampa’ dan ‘Kenangan Mesra’. Album serupa masih bisa dicari dicari di Lokananta, Solo, Jawa Tengah, dalam bentuk CD.      
 
Rombongan pemain jazz pribumi yang terdiri dari Jack, Bubi Chen (alm), Maryono, Kibound Maulana dan Benny Mustafa tampil sukses meramaikan New York Fair, Amerika Serikat. Setelah berjalan secara bertahap jazz mulai memiliki tempat, jenis musik ini mulai memikat pecintanya kembali di tanah Air. Suatu prestasi yang tidak dilakukan musisi lain. Sebagai musisi ia tidak pernah menunggu undangan pentas, ia selalu kreatif menciptakan ruang untuk berekspresi. Dikalangan musisi ia punya pergaulan yang luas. Kemauan belajarnya tinggi ia tidak segan mengundang para musisi jazz dari luar negeri singgah di rumahnya berdiskusi tentang jazz.
 
Rumahnya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, selalu terbuka 24 jam bagi para musisi untuk berkumpul dan berkreasi. Ia tidak komersial dan menjadi ‘ayah’ semua orang yang pernah belajar padanya. Ia juga dikenal sebagai guru yang punya prinsip dalam bermusik, keras mendidik murid-muridnya, dan menjunjung tinggi disiplin
 
Banyak kalangan mengakui keberadaan Jack Lesmana sebagai musisi yang punya komitmen tinggi dalam musik jazz. Ia menerima sejumlah penghargaan dari para musisi dan pecinta jazz pribumi. Penghargaan itu menunjukkan ia tidak hanya sekedar musisi yang baik tetapi ia juga berperan mengembangkan jazz pribumi di masyarakat. Karena jasanya jazz tidak lagi menjadi sesuatu yang asing di negeri ini. Pada 1979 Jack Lesmana sekeluarga hijrah ke Australia. Selain menemani anaknya, Indra Lesmana, belajar musik, ia juga mengajar di sebuah konservatorium musik dinegeri itu. Tinggal selama lima tahun, Indra Lesman, yang mendapat beasiswa dari Jazz Department Australia semakin mantap sebagai pianis muda berbakat. Dan ia adalah figur ayah yang berhasil mewariskan bakat musik pada anak-anaknya.
 
Setelah bekerja keras lebih dari setengah abad Jack tidak bisa melawan ganasnya sejenis penyakit darah. Ia meninggal dunia pada 17 Juli 1988 di rumah sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ia meninggalkan seorang istri, empat orang anak. Sejak itu Indonesia kehilangan seorang musisi sejati yang mempertaruhkan seluruh hidupnya pada musik tanpa kompromi. Ia telah mengukir nama dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang musis. Ia memang bukan komponis yang punya karya besar dalam musik, tetapi ia telah membuka pintu bagi musisi-musisi muda untuk berkarya lebih baik. Ia yang berjiwa besar meneruskan kesetiannya bermusik kepada anak didiknya dan sampai akhir hayatnya ia tetap seorang musisi sejati.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

Nama :
Jack Lemmers
 
Lahir :
Jember, Jawa Timur
18 Oktober 1930
 
Wafat :
Jakarta, 17 Juli 1988
 
Pendidikan :
Sekolah Musik
 
Profesi :
Illustrator Musik /
 Penata Musik untuk film
 
Filmografi
Film yang musiknya
 ditata olehnya:
Seribu Langkah dan Malam Tak Berembun (1961),
 Violetta, Anak Perawan Disarang Penyamun (1962), Menantang Maut (1978)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.