Jaya Suprana


Jaya Suprana
                                                                                                                                                                                                                                              
 
 
 
Siapa bilang bisnis dan kesenimanan tidak bisa berjalan seiring? Lihatlah Jaya Suprana, alias Poa Kok Tjiang. Jabatan resminya adalah Presiden Direktur Perusahaan Jamu Cap Jago. Tetapi, lelaki bertubuh subur dan mengenakan kaca mata ini juga tersohor sebagai pianis dan kartunis. Ia sudah keberbagai tempat di luar negeri, misalnya Australia, Jerman Barat, Swiss, dan Inggris, untuk pameran jamu produksinya. Sekaligus, karya-karya musiknya juga dipergelarkannya di Amerika Serikat, Selandia Baru, Jerman Barat, dan di dalam negeri sendiri. Kartun-kartun hasil karyanya juga sudah beberapa kali dipamerkan, antara lain di TIM, Jakarta. Sekali-kali, Jaya juga menulis di media massa.
 
Untuk mengurus perusahaan, Jaya Suprana telah dibina sejak dini oleh ayahnya, Lambang Suprana pemilik Jamu Cap Jago. Ketika kecil, anak pertama dari dua bersaudara itu tidak pernah tahu posisi ayahnya yang sebenarnya di perusahaan itu. “Kalau saya tanya, Ayah selalu mengaku pegawai biasa”, tutur Jaya.
 
Delapan tahun di Jerman Barat mempelajari manajemen, seni rupa, dan musik, Jaya belum tahu perihal kekayaan ayahnya. Sehingga, untuk mendapat tambahan uang, ia harus bekerja, sebagai tukang pasang ubin, penjual tiket, tukang bubut, dan guru piano. Disana pula ia pernah menangis sesegukan karena, sepeda yang baru dibelinya baru dua minggu dipakai hilang di curi orang tuturnya. “Kalau dari semula saya tahu ayah orang kaya, saya pasti tidak akan bersusah-susah begitu di negeri orang. Dan mungkin juga menjadi orang yang sombong”, katanya.

 

 
Menggambar dan main musik juga sudah ia mulai sejak masa kanak. Pada mulanya, Jaya getol menabuhi kaleng, piring, dan membikin coretan semaunya. Keluar masuk tempat kerja ayahnya juga telah menjadi kebiasaannya, untuk mengambil kertas-kertas bergambar bakal bungkus jamu. “Dari situ saya belajar menggambar”, tuturnya. “Gambar-gambar dikertas itu saya gunting, lantas saya contek”, katanya. Itu semua berlangsung ketika Jaya masih beruia empat tahun.
 
Pada usia itu pula ia mulai mencoba-coba menyentuh piano. “Kebetulan, di rumah ada piano. Saya mainkan jari-jari saya di tutsnya, dan terdengarlah bunyi yang tidak karuan”, kata Jaya. “Kemudian, setelah bisa membaca, saya belajar dari buku petunjuk bermain piano”.
 

Istrinya, Yulia, adalah bekas teman sekelasnya ketika di SMA. Pasangan ini menikah di Jerman Barat. Disana, waktu itu, Yulia studi bidang vokal. Sering pentas bersama, mereka belum mendapat anak. “Saya takut punya anak, nanti tidak bisa mengawasinya”, kata Jaya.
 
Baru-baru ini Jaya Suprana memperoleh penghargaan dari pemerintah Polandia atas jasa-jasanya memperat hubungan kebudayaan Indonesia dengan Polandia, khususnya saat memperingati hari lahir ke-200 komposer kenamaan asal Polandia Fryderyk Chopin. Penghargaan ini ditandatangani Menteri Kebudayaan Polandia, Bogdan Zdrojweski dan disampaikan melalui kedutaan Polandia di Jakarta.
 
Penghargaan ini untuk menghargai sejumlah ikhtiar yang telah dilakukannya selama tahun 2010 dan 2011. Aktifitas tersebut antara lain, adalah sayembara piano F. Chopin di Jakarta, pergelaran kebudayaan menyambut kinjungan Lech Walesa dan recital piano 4 impromptu dan 4 scherzo karya Chopin oleh Gillian Geraldine Gani (pianis muda Indonesia berusia 12 tahun). Ia juga dihargai karena mengangkat Prof. Andrzej Dutkiewicz, Dekan Musik Kontemporer Chopin University of Music, Warsawa, sebagai salah satu juri dari delapan Negara dalam Indonesia Pusaka International Piano Competition yang berlangsung di Jakarta Desember 2011.         
 
(Dari Berbagai Sumber)if)

Nama :
Jaya Suprana
 
Lahir :
Denpasar, Bali,
27 Januari 1949
 
Pendidikan :
SD Karangturi, Semarang (1961),
SLTP Karangturi, Semarang, (1964),
Hochshulreife, Jerman Barat (1967),
Musikhocshchule Muenster,
 Jerman Barat (1972),
Kunstfachhochschule Muenster, Jerman Barat (1973),
Akademie fuer Fuehrungskraefte der Witrschaft Bad Harzburg, Jerman Barat (1974)
 
Karier :
Firma Winkhaus, Telgte, Jerman Barat (1968), Firma Dahlmann, Jerman Barat (1969),
Volkeningsheim, Jerman Barat (1970),
Guru Musikhoch Schule Muenster, Jerman Barat
(1970-1972),
Guru Kepala Musikhoch Schule, Greven, Jerman Barat (1972-1975),
Dosen tamu Paedagogische Hochschule Muenster, Jerman Barat (1974-1975),
Direktur Marketing PT Jamu Jago (1976-1983),
Presiden Direktur PT. Jamu Jago (1983-1991)
Presiden Komisaris PT Jamu Jago (1991 s/d sekarang)
 
Organisasi :
Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu (1994-2004),
Ketua Umum Yayasan RS Tlogorejo Semarang
(1985-1994)
 
Karya Buku :
Kaleidoskopi Kerilumologi Jilid I-VI (1997-1998),
Humor Politik (1989),
Kelirumologi Reformasi (1999)
 
Penghargaan :
Rotarian of the Year (1986),
Penghargaan dari pemerintah Polandia atas jasanya mempererat hubungan antara Indonesia dan Polandia (2011),
Penghargaan Hak Kekayan Inteletual (2012),
Anugerah Yayasan Pendidikan Musik (2012)   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *