Jose Rizal Manua


Jose Rizal Manua
 
 
 
Pertama kali naik pentas pada 20 Agustus 1969 untuk pentas Agustusan. Lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 September 1954, ia merupakan seniman yang melahirkan banyak sajak humor. Tatkala dia menggelar pembacaan sajaknya, kalangan seniman lain bertutur untuk apa kok pakai ditambah humor atau apa itu sajak humor, sajak ya sajak saja. Tapi ada pesan menyejukkan, “kamu teruskan saja, jangan pedulikan mereka”, kata Rendra. Siapa sangka umpatan dan cacian serta hinaan itu malah berbalik. “Ternyata mereka yang mencela saya justru mengirim sajak-sajak mereka untuk saya bacakan”, kata Jose.
 
Sebetulnya puisi-puisi humor ini juga banyak yang dalam maknanya, tidak sekedar melucu tetapi sarat dengan kritik sosial dan bahkan religius. “Saya yakin puisi-puisi humor akan mendapatkan tempat sendiri di hati masyarakat kalau kita melihat situasi dan kehidupan yang begitu kompleks, orang perlu pengendoran otak, jadi tidak melulu tegang. Maka sajak humor, saya kira merupakan salah satu sarana yang bisa mengantisipasi itu, jadi ada prospeknya juga dengan puisi-puisi humor”, katanya.
 
“Saya dulunya pemain bola. Tahun 1966, saya masuk MBFA sebuah klub sepakbola yang sangat terkenal di Jakarta, yang melahirkan Iswadi Idris. Saya main sepak bola mulai dari bocah, kemudian naik ke sub junior. Waktu itu tahun 1969, saya ditarik ke Persija Jakarta Timur. Teman main saya waktu itu Aun Harhara dan Dede Sulaiman. Nah, mereka satu klub sama saya. Tapi pada tahun 1972, mereka berdua didukung sama orangtuanya, artinya didukung materi untuk latihan. Saya nggak, sepatu beli sendiri, kaos, pokoknya semuanyalah, sampai-sampai buat beli itu saya jualan koran, nyalo oplet supaya bisa dapat uang untuk beli sepatu main bola. Yang lebih sedih saya jalan kaki sekitar 10 kilo dari rumah saya ke lapangan Persija”, kenangnya.
 

“Akhirnya saking jengkelnya saya lari ke TIM. Mula-mula menggelandang, pokoknya di TIM saya kerja apa saja, serabutan sampai tahun 1974 dan secara kebetulan ketika itu TIM butuh tenaga kerja dan saya diminta bekerja di TIM sampai sekarang”, tutur alumni IKJ (1980-1986) ini. Tahun 1975, ia bergabung dengan Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya Menjadi anggota Bengkel Teater sejak tahun 1977. Bedanya dengan kebanyakan anggota Bengkel Teater lainnya, dia tidak menjadi benalu di padepokan tersebut. Jose termasuk anggota Bengkel Teater yang bisa lepas dan mandiri.

 
Berbagai lomba baca puisi di Jakarta baik tingkat DKI Jakarta maupun nasional telah diikutinya sejak awal tahun 80-an dan selalu menang, sampai pada tahun 1986 para juri termasuk penyair Sutardji Calzoum Bachri memintanya untuk tidak lagi mengikuti lomba. Sejak saat itu Jose menempuh hidupnya sebagai deklamator. Tahun 1988, ia mendirikan Bengkel Deklamasi Jakarta, mendramatisasikan dan memusikalisasikan puisi diberbagai tampat.       Di tahun 1989, ia pernah membaca puisi keliling ke beberapa kota besar di Indonesia dan Pembacaan Puisi Humornya mendapat sambutan hangat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Malaysia.
 
Jose yang menyukai fotografi ini masih mengerjakan banyak hal, seperti melatih teater untuk anak-anak. Sampai sekarang, Jose malah tambah bekibar menancapkan kukunya pada bidang seni drama dan dunia kepenyairan. “Agar kesenian ini tidak pernah mati, saya juga mendirikan teater anak-anak, yang diberi nama Teater Tanah Air pada tahun 1988. Disini saya bisa menularkan lewat kesenian, drama, tari, pantomin, puisi dan menyanyi pada anak-anak sejak dini”, katanya. Pada 5 November 2011 lalu, ia meyelasaikan Program Magister di bidang Film di ISI Surakarta.
 
 (Dari Berbagai Sunber)

Nama :
Jose Rizal Manua
 
Lahir :
Padang, Sumatera Barat,
14 September 1954
 
Pendidikan :
STM,
Institut Kesenian Jakarta Jurusan Teater  (1980-1986),
Program Magister bidang Film di ISI Surakarta
 
Kegiatan lain :
Anggota Komite Teater DKJ (2009-2012)
 
Karier :
PNS Dinas Pariwisata & Kebudayaan DKI Jakarta
Pengajar Fakultas Teater IKJ (1989-1997),
Pengajar FFTV IKJ
 (2002 s/d sekarang)
 
Perjalanan Karir berteater :
1972-1976, bergabung dengan Teater Wijaya Kusuma pimpinan Rendra Karno,
1975 s/d sekarang bergabung dengan Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya,
1975-1981, mendirikan teater anak Adinda bersama Yose Marutha Effendi,
1977 s/d sekarang bergabung dengan Bengkel Teater Rendra,
1978-1982, menyutradarai Sanggar Pravitasari pimpinan Drs. M. Masbuchin,
1982-1984, menyutradarai teater anak-anak Gelanggang Remaja Planet Senen,
1982-1986, menyutradarai Sanggar Legenda,
1986-1992, mendirikan dan menyutradarai Bengkel Deklamasi Jakarta,
1988 s/d sekarang  mendirikan dan menyutradarai teater anak-anak, Teater Tanah Air,
2000 s/d sekarang bergabung dengan Dapur Teater Remi Sylado
 
Penghargaan :
Membawa teater Adinda menjadi juara empat kali berturut-turut Festival teater anak-anak se-DKI (1978-1981),
Juara I Festival Pantomim Kelompok se-DKI Jakarta (1981),
Juara I lomba baca puisi tingkat Jakarta maupun nasional (1981-19886),
Membawa teater anak-anak Gelanggang Remaja Planet Senen menjadi juara I festival anak-anak se-DKI Jakarta (1982/1983),
Bersama Teater Tanah Air meraih 10 medali emas, termasuk sebagai The Best Performance dan Sutradara Terbaik dalam The Asia Pacific Festival Of Childrens Theater di Toyama, Jepang (2004),
Bersama Teater Tanah Air meraih 19 Medali emas, termasuk sebagai sutradara terbaik  dalam 9th Word Festival Of Childrens Theater di Lingen (EMS) Jerman
 (2005-2006),
Mendapat penghargaan Satyalencana Wira Karya dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono atas pengabdian dan prestasinya dalam bidang teater (2006),
Bersama Teater Tanah Air meraih The Best Performance dan Sutradara Terbaik pada 10th World Festival of Children Theatre di Moskow, Rusia (2008),
Bersama Teater Tanah Air diundang khusus oleh PBB ke Genewa, Swiss pada 19-27 November 2008,
Mendapat Penghargaan Lingkungan Hidup dari Gubernur DKI Jakarta (2008),
Bersama Teater Tana air meraih penghargaan MURI sebagai grup teater yang memperoleh penghargan internasional terbanyak (2008)
 
Karya Tulis :
Menghayal Jadi Presiden (2008)
 
Filmografi :
Oeroeg,
Gordel van Smaragd,
Angel’s Cry,
Puisi Tak terkuburkan,
Fatahillah,
Fik si,
Asmara 2 Diana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *