Lalan Ramlan

Nama :
Lalan Ramlan
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
4 Januari 1964
 
Pendidikan :
D-3 bidang Tari di Akademi Seni Tari Indonesia Bandung, Jawa Barat, (1988),
S-1 Sekolah Tinggi Seni Indonesia  Surakarta, Jawa Tengah, (1996),
S-2 bidang Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2002)
 
Profesi :
Pengajar Jurusan Tari
 STSI Bandung
(1993 s/d sekarang)
 
Aktifitas Lain :
Ketua Umum Pengurus Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia Jawa Barat
 
Karya Tari :
Benteng Amarta (1988),
Drama Tari Bayong (1994),
Mundinglaya Di Kusumah (1996)
 
Karya penelitian:
 Konsep dan Struktur Penyajian Ibing Tayub di Keraton Kasepuhan Cirebon (2000),
HELARAN: Seni Teater Jalanan (1996),
Proses Dialogis Antara Tradisi Besar dan Tradisi Kecil: Studi Kasus Terhadap Seni Pertunjukan Doger
   Kontrak dan Tayuban di Kabupaten Subang (1994)
 
Karya Tulis Artikel :
Rd. Ono Lesmana Kartadikusumah Seorang Tokoh Pencipta Tari Wayang Gaya Sumedang, Jawa Barat; Nilai Sebuah Kreativitas dan Tradisi yang Tak Basi’, Pikiran Rakyat Bandung (2001),
 Gelitik Tradisi; Tak Harus Selalu Dikritik (2002)
 
Karya Ilmiah Popule:
PANGGUNG di lingkungan STSI Bandung,
Dombret : Kesenian Khas Masyarakat Pesisir (2000),
Persoalan Gaya: Dalam Genre Topeng Cirebon; kajian buku karya Juju Masunah Sawitri Penari Topeng Losari (2001),
Bedaya Rimbey: Tari Klasik Bernuansa Islami di Keraton Kanoman Cirebon (2001),
Mencari Pemahaman Alternatif Tentang Islam Dalam Kontek Budaya Lokal Cirebon Sebuah kajian
   buku karya Dr. Muhaimin A.G. ISLAM Dalam Bingkai BUDAYA LOKAL, Potret Dari CIREBON  (2002),

Karya Tulis dalam
Bentuk Buku :
Tari Keurseus
(STSI Press Bandung, 2003)
Bedaya Rimbey: Tari Klasik Bernuansa Islamik, Dalam Endang Caturwati,dkk, Lokalitas Gender Dan Seni Pertunjukan di Jawa Barat, (Yogyakarta:
 Aksara Indonesia, 2003)

Seniman Tari
Lalan Ramlan
 
 
 
Lahir di Bandung, Jawa Barat, 4 Januari 1964. Berlatar belakang pendidikan D-3 bidang Tari di Akademi Seni Tari Indonesia, Bandung, Jawa Barat, (1988). S–1 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, Jawa Tengah, (1996). S-2 dalam bidang Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan tesisnya ‘Tayub Di Keraton Kasepuhan Cirebon’ (2002).
 
Sempat belajar menari di Padepokan Jugala Pimpinan Gugum Gumbira (1984). Mulai terlibat sebagai penari dalam karya tari ‘Ringkang Gumiwang’ karya Gugum Gumbira, pada acara pembukaan FFI di Bandung (1984), selanjutnya pada tahun 1985, menjadi penari dalam garapan tari ‘Kariaan’ karya Nanu Muda, pada acara Temu Tari Tiga Kota, Solo (ASKI), Yogyakarta (STSI) dan Bandung (ASTI). Sebagai penari dalam garapan tari ‘Nyai Puun’ karya Abay Subardja dari Lingkung Seni Kamandaka, Bandung (1986).
 
Ketua Umum Pengurus Provinsi  Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Jawa Barat ini, juga dikenal sebagai koreografer yang handal, karyanya berupa garapan tari ‘Benteng Amarta’, disajikan di Auditorium ASTI Bandung (1988), menggarap tari kolosal dalam acara pembukaan Festival Istiqlal, Jakarta (1992), karya tari dramatik ‘Bayong’, disajikan di G.K. Sunan Ambu ASTI Bandung (1994).
 
Pernah terlibat dalam beberapa pementasan teater yang sebagian besar disutradarai oleh Sis Triaji, diantaranya menjadi pemain dalam garapan ‘Dramatika Puisi Balada Ken Arok’, sutradara Sis Triaji, pada acara Pekan Seni Bulungan, Jakarta (1987). Menjadi pemain dalam garapan Teater Suluk ‘Amurwa Bumi’ sutradara Sis Triaji, pada Festival Teater Tingkat Nasional di TIM Jakarta (1987). Menjadi Penata gerak dan pemain dalam garapan Meta Teater ‘Dunia Tanpa Makna’ karya sutradara Rachman Sabur, disajikan di Auditorium ASTI Bandung dan di TIM Jakarta, produksi Kelompok Payung Hitam Bandung (1991). Menjadi Penata gerak dan pemain dalam garapan Teater ‘Opera Ken Arok’ karya sutradara Sis Triaji, disajikan di G.K. Sunan Ambu STSI Bandung yang diproduksi oleh Goethe Institut (1992).
 
Ketua Jurusan Seni Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung ini  merevitalisasi seni Tayub Cirebonan. Ia mengatakan bahwa sebagai bagian dari kebudayaan daerah, seni tayub adalah aset nasional yang harus dijaga dan dipelihara, termasuk dari kemungkinan diakui oleh negara lain. Ia juga menambahkan bahwa sulit berkembangnya seni tari tradisional Sunda di wilayah Jawa Barat akibat kurangnya acara yang digelar, baik oleh pemerintah maupun swasta. Akibatnya apresiasi dari masyarakat terhadap seni tari tradisional Jawa Barat sangat kurang.
 
Lalan Ramlan bersama keluarga kini menetap di Komplek Perumahan GBA II. Blok f. 10 No. 25. Ciganitri, Buah-Batu, Bandung, Jawa Barat.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *