Lalu Suryadi Mulawarman

Koreografer
Lalu Suryadi Mulawarman
 
 
 
Surya, demikian panggilan akrabnya, lahir di Mataram, NTB, 20 Mei 1970. Kuliah di IKJ jurusan tari pada tahun 1989 atas rekomendasi Gubernur NTB. Di usia remaja ia sudah mewakili NTB dalam Festival tari kreasi Tingkat Nasional di Jakarta pada tahun 1985 dan 1987.
 
Tahun 1991, ia mewakili IKJ dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Solo. Karyanya ‘Tidi Lo Mbu Inga’ masuk VI besar dalam Festival Koreografi Indonesia di Jakarta tahun 1992. ‘Dedare’ karyanya yang dalam bahasa Lombok berarti perempuan tampil di Indonesia Dance Festival tahun 1993. Karya itu pulalah yang juga mewakili IKJ dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional II di Bali pada tahun 1993.
 
Tahun 1994, ia menjadi penata tari terbaik pada Festival Penata Tari Muda Indonesia dengan karya ‘Ngigel’. Kendati ia adalah putra Lombok asli, pada tahun 1995, ia banyak berpartisipasi pada acara-acara seni yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, beberapa diantaranya pada acara Pekan Raya Jakarta, Kenduri Nasional di Monas, dan Pawai Pembangunan, dimana ia berperan sebagai asisten koreografer.
 

 

 

Pada tahun itu juga, ia menjadi asisten koreografer dalam acara Terima Kasih Indonesia yang ditayangkan SCTV bekerjasama dengan Deddy Dance Company. Ia pun tidak segan menjadi koreografer untuk Marching Band dan tari masal. Khusus untuk Nusa Tenggara Barat, ia menjadi koreografer pada acara Ulang Tahun NTB, Perayaan 17 Agustus Propinsi NTB, Pekan Apresiasi Budaya NTB 2001, 2002, dan 2003, serta STQ Nasional 2002 di Mataram.
 
Tahun 1997, dua gelar juara ia raih dalam Fesitval Gedung Kesenian Jakarta Award, yakni juara I untuk kategori tradisi dengan karya ‘Para-mpuan’ dan juara III untuk kategori kontemporer dengan hasil ciptanya ‘Dongeng Kini’. ‘Para-mpuan’ inilah yang menerbangkannya mengikuti Expo di Utah dan Boston, Amerika Serikat, bersama rombongan LIA-PPIA. Di tahun ini juga ia berkesempatan mengadakan pertunjukan tunggal di kampung halamannya Lombok dengan karya ‘Para-mpuan’, ‘Dongeng Kini’ dan ‘Sak-Sak’.

 
Hampir seluruh karyanya bertemakan tentang perempuan. Dan hampir 20 karya ia ciptakan dalam kurun waktu I dekade dalam karirnya sebagai koreografer. ‘Belenggu’, ‘Kodrat Wanita’, ‘Nyatu Telu’, ‘Deyu’ (Cermin Wanita Zaman), ‘Empuan’, ‘Wanita Bersujud’, ‘Sampela’, ‘Kemang Puri’, ‘Ba-io-io’, adalah beberapa diantara karyanya.
 
Pada tahun 1999, ia berkesempatan tampil di Graha Bhakti Budaya, Jakarta dalam rangka Pentas Empat Koreografer Muda Indonesia atas undangan Dewan Kesenian Jakarta dengan membawakan karyanya ‘Feto Klosan Kiak Husi Timor’ (Wanita yang Luluh dari Timor). Dalam menciptakan koreografinya, ia hampir tak pernah meninggalkan nuansa Sasak, budaya yang membesarkannya, yang ia kemas pula dengan kritik terhadap budaya Sasak. Tahun 2001, ia mewakili NTB dalam Festival Seni Pertunjukan Indonesia 2001 di Jakarta sebagai Sutradara Koreografer dengan mementaskan karya ‘Ajatukrama’.
 
Karyanya, ia tampilkan pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Jakarta mewakili NTB pada tahun 2002. Tahun 2003 ia mendapatkan hibah seni dari Yayasan Kelola. Dengan dana hibah itu, ia menampilkan 4 karyanya di Hotel Sahid Legi Mataram, yaitu ‘Bakutiko’, ‘Dongeng Kini 2’, ‘Ajatukrama’, dan ‘Kisah yang Terkubur’. Di tahun 2003 juga ia diundang kementerian Pariwisata, Seni dan Budaya dalam rangka Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) di Nusa Dua Bali. Selain mencipta karya, ia pun sering berpartisipasi dalam pementasan karya koreografer senior, seperti;  Sentot Sudiharto, Tom Ibnur, Deddy Lutan dan Boi G. Sakti.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Lalu Suryadi Mulawarman
 
Lahir :
Mataram,
Nusa Tenggara Barat,
20 Mei 1970
 
Pendidikan :
IKJ Jurusan Tari (1989)
 
Karya :
Tidi Lo Mbu Inga (1992),
Dedare (1993),
Ngigel (1994),
Para-mpuan (1997),
Dongeng Kini (1997),
Belenggu,
Kodrat,
Wanita,
Nyatu Telu,
Deyu (Cermin Wanita Zaman),
Empuan,
Wanita Bersujud,
Sampela,
Kemang Puri,
Ba-io-io,
Ajatukrama,
Perwangsa,
Bakutiko,
Dongeng Kini 2,
Feto Klosan Kiak Husi Timor
 
Pencapaian :
VI besar dalam Festival Koreografi Indonesia di Jakarta pada tahun 1992,
Juara I untuk kategori tradisi dengan karya Para-mpuan dan juara III untuk kategori kontemporer Fesitval Gedung Kesenian Jakarta Award (1997)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *