Made Wianta


Pelukis
Made Wianta
 
 
 
Made Wianta dilahirkan disebuah desa Apuan, Tabanan, Bali. Sudah kurang lebih 25.000 karya seni yang ia hasilkan dalam dua dekade semua itu tercipta dari hasil kreatifitas dan energinya. Semua karya seni tersebut sudah pernah di pamerkan baik nasional maupun internasional.  Ia adalah seorang seniman yang memiliki banyak bakat. Ia juga seorang seniman yang mempunyai kepedulian yang sangat besar terhadap misi perdamaian dan kepedulian sosial. Wianta sangat sadar bahwa hidup dan kreatifitasnya berasal dari seni dan budaya daerah dimana ia berasal. IA berharap semua pihak mewartakan bahwa Bali masih eksis, seni dan budaya Bali masih hidup. Di antara kesibukannya, Wianta masih sempat wira-wiri Apuan, Denpasar, Yogyakarta dan Santa Barbara, USA.
 
Suami dari Ir. Intan Kirana, cucu tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara, ini mengaku gelisah. Untuk itu, Wianta menapak tilas ke tempat-tempat bersejarah seperti bekas kerajaan Majapahit, Kediri, Jenggala, Kahuripan, serta mendatangi candi-candi yang pada zaman keemasannya menjadi tempat pemujaan. Bukan untuk berklenik, namun dimaksudkan untuk menggerakkan feeling estetik. Untuk keseimbangan, Wianta menikmati suasana lain di Santa Barbara, AS, tempat tinggal anaknya Buratwangi, M.A, yang menikah dengan Noel Cohen, putra Vice President Warner Bros.
 


Sulur-Sulur, 150 x 250 cm, 1986

Di studionya, Wianta menyimpan dokumentasi sekitar 25.000 karya lukisnya. Dia tidak bosan mengulang-ulang pentingnya dokumentasi bagi seorang seniman seperti yang ia lakukan sejak 1970. Dari karya tersebut telah melahirkan 12 buku tentang perjalanan kreatif Wianta dalam bidang seni rupa maupun sastra (puisi) dan tiga manuskrip lainnya menunggu untuk diterbitkan.

 
Buku memiliki arti penting bagi perjalanan Wianta sebagai dokumentasi yang belakangan banyak memberikan kemudahan bagi Wianta menembus pameran bergengsi di luar negeri. Tidak semua undangan dan tawaran diterima begitu saja, karena dia harus mendapatkan informasi lebih dulu seberapa bonafid tempat pameran dan reputasi penyelenggaranya. Pengalaman Wianta bekerja selama empat tahun di Belgia pada 1970-an membuatnya antisipatif dalam berbagai hal ketika akan bekerja sama dengan pihak lain untuk pameran di mana pun.
 
Ketika ditanya mengenai infrastruktur seni di Bali saat ini, Wianta berpendapat bahwa kita perlu menata ulang kembali infrastruktur yang sudah ada, tapi untuk menghadapi perkembangan yang ada sekarang sudah tidak memadai lagi. Pemerintah perlu lebih sering menyertakan seniman, budayawan, tokoh adat dalam rembuk atau aktivitas pariwisata untuk memberikan keseimbangan, jangan hanya melibatkan pengusaha pariwisata. Kita harus melakukan percepatan untuk mengejar ketertinggalan. Jangan lagi ada dikotomi seni tradisional dan modern, apalagi kontemporer. Ketiganya perlu sama-sama mendapat tempat, karena masyarakat sekarang memang memerlukan ketiganya.
 
Selanjutnya anak dari pemangku Pura Pucak Padang Dawa, Baturiti, Tabanan ini mengatakan galeri, museum, tempat pertunjukan harus memiliki standar dan dikelola dengan lebih profesional. Wianta salut ada event seni rupa seperti Bali Biennalle yang menurutnya merupakan bagian dari tata ulang kembali itu tadi. Tapi, masih diperlukan banyak event lagi seperti Art Fair dan kompetisi bergengsi yang memungkinkan semakin bertumbuhnya sistem dan akses untuk mengimbangi yang sedang terjadi di luar.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Made Wianta
 
Lahir :
Apuan, Baturiti,
 Tabanan, Bali,
20 Desember 1949
 
Pendidikan :
Belajar Musik Tradisional Karawitan pada Conservatory Karawitan (1967),
Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI – Indonesian Art School) Denpasar, Bali (1969),
Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta (1970-1974)
 
Profesi :
Perupa & Penulis
 
Karya Sastra :
Korek Api Membakar Lamari Es (1995),
2 Menit (2000)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.