Mardian

Nama :
Mardian
 
Lahir :
Sosromenduran, Yogyakarta,    10 Januari 1926
 
Wafat :
……………….
 
Pendidikan :
Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI), Yogyakarta
ASRI Yogyakarta (1952),
Sanggar Indonesia Muda (SIM)
 
Profesi :
Pelukis
 
Penghargaan :
Hadiah Seni Lukis Indonesia Baru, dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN)


Pelukis
Mardian
 
 
 
 
Pertama kali belajar melukis pada Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) di Yogyakarta, dibawah pimpinan Djajeng Asmoro, bersama dengan S. Sutopo dan Sumitro Cs. Di tempat itulah ia mulai belajar melukis dengan cara terus membuat sket, menggambar model. Tahun 1952, loncat ke ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta ia termasuk angkatan ke II sejak ASRI berdiri bersama Sunarto Pr, dan Wim Nirahuwa. Waktu itu guru praktek melukis adalah Trubus, yang mengajar komposisi adalah Kusnadi dan yang mengajar psikologi adalah Dan Suwaryono.
 
Mardian belajar di ASRI hanya satu tahun itupun atas biaya dari jawatan Kebudayaan istilah sekarang adalah Direktorat Kesenian P & K. Pada tahun yang sama (1952-1953) ia juga belajar di sanggar Seniman Indonesia Muda (SIM) dibawah bimbingan S. Sudjojono, Suromo, dan Haryadi S. (Sumodidjojo). Pelajaran disanggar hampir sama dengan pelajaran yang ia terima di ASRI, memang dosen-dosennya juga dari sanggar.

 
Belajar di SIM lebih banyak praktek melukis keluar dan melukis model. Sedangkan pelajaran teorinya ia disuruh banyak membaca, selanjutnya secara terus menerus melukis. Ia tinggal di sanggar lebih dari satu tahun. Sejak itulah ia mulai menyadari arti melukis. Sebagai alat melukis ia menggunakan Arang (konte), tinta, pastel, cat minyak dan cat air. Pada saat itu materi melukis diperoleh dari Sticusa suatu badan kerjasama Kebudayaan Belanda yang pusatnya berkedudukan di Jakarta.  Baru dua kali mengadakan pameran secara kolektif dengan karya kawan-kawannya yang sering kali diadakan baik di dalam maupun di luar negeri. Pameran tunggalnya yang pertama kalinya diselenggarakan tahun 1957 di Balai Budaya Jakarta. Pada kesempatan itu, ia menampilkan kurang lebih 40 karyanya yang terdiri dari lukisan hitam putih (tinta), karya sketsa, cat plakat, dan cat air (lukisan berwarna).


Pemandangan (1979), 70 x 70 cm

 
Pameran bersama sering ia ikuti sejak tahun 1957-1982 di berbagai kota besar di Indonesia, juga di luar negeri. Pameran tunggalnya yang kedua, ia lakukan pada tahun 1977 di Balai budaya Jakarta dengan menampilkan karya-karya: sketsa, karikatur, cat air, dan cat minyak sejumlah 60 karya.
 
Ada beberapa hal yang mendorong Mardian untuk berpameran, antaranya adalah : karena sudah banyak karya yang dihimpun, sehingga dapat dijadikan ukuran untuk melihat secara keseluruhan dalam hal perkembangan nilai yang telah ia capai. Dalam kesempatan pameran kolektif ia dapat mencari perbandingan nilai karyanya dengan pelukis lain. Melalui sebuah pameran ia  dapat membagi pengalaman hidupnya kepada masyarakat sekeliling melalui seni lukis dan dapat dijadikan biaya hidup pelukis dan melanjutkan kerja kreatifnya melalui penjualan karya lukisnya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *