Mira Lesmana

Produser dan Sutradara Film
Mira Lesmana
 
Sejak usia 16 tahun, ia menyadari ingin berada di dunia film. Ketika keluarganya tinggal di Sydney, Australia (1979-1984), ia bertekad untuk menggelutinya. Setamat SMA di sana, ia diterima di Australian Film & Television School, Sydney, Australia. Tapi celakanya, satu syarat yang tidak bisa dipenuhi adalah harus menunjukkan karyanya. Karena sama sekali tidak memiliki, ia kemudian sekolah di Institut Kesenian Jakarta, dan menamatkan kuliahnya di Jurusan Penyutradaraan (1985-1988). Pada bulan Maret 1995, ia kemudian mendirikan Miles Productions. Ia dikenal sebagai sutradara dan produser wanita bertangan dingin.
Perhatian besarnya pada anak-anak, mengantarkannya menjadi produser film ‘Anak Seribu Pulau’, sebuah dokumentasi drama televisi 14 episode tahun 1996. Kemudian film ‘Petualangan Sherina’ yang sukses di bioskop tahun 2000. Ia juga memberi perhatian untuk masalah wanita seperti miniseri ‘Kembang Untuk Nur’ yang merupakan produk hasil kerjasamanya dengan John Hopkins University.
Ketika film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ meledak di pasar (2002), orang lantas mengaitkan dengan namanya. Film layar lebar itu salah-satu film produksinya. Dan orang menilai, sukses film tersebut tak lepas dari campur tangan si Mia, panggilan akrabnyaa dalam keluarga. Bersama sutradara muda lainnya, namanya identik dengan kembali bangkitnya perfilman nasional. Perempuan ini banyak membidani lahirnya film layar lebar, yang sukses di pasar.
Setelah berhasil menjadi produser serial ‘Anak Seribu Pulau’ di lima stasiun televisi pada pertengahan 1996 lalu, wanita periang ini mendulang sukses di film ‘Petualangan Sherina’ dan ‘Ada Apa Dengan Cinta’. Dua film yang ramai ditonton hingga mendekati dua jutaan orang dan meraup untung besar ini tentu saja bagai angin segar bagi dunia film nasional yang sudah lama mati suri.
Perkenalan dengan film sebenarnya bukan baru kemarin. Ibu dua anak ini mengaku sudah sejak kecil gandrung pada film. Ia banyak menonton bioskop. Ia sering menonton apa saja, drama, komedi asal jalan ceritanya bagus. Ketika tinggal di Sydney, Australia, kegilaannya pada film menjadi-jadi. Tapi kakak penyanyi dan komponis Indra Lesmana ini bukan sekadar menonton. Ia juga tertarik mengetahui siapa orang-orang di belakang pembuatan filmnya. Dari sana, ia mulai tertarik dan mengenal orang-orang seperti Steven Spielberg.
Pengagum Martin Scorsese, Steven Spielberg, Jiang Jin Woo, dan Winn Landers ini. lantas punya semacam cita-cita menjadi pembuat film. Secara formal, bahasa film mulai ditekuninya di Australian Centre for Photography. Pulang ke tanah air (1985), ia kuliah di Fakultas Film dan Televisi IKJ, Jakarta, mengambil spesialisasi penyutradaraan. Tapi kuliah ini ditinggalkan di tengah jalan dan ia memilih bergabung dengan industri periklanan sebagai produser dan sutradara. Dari sini, ia mengaku, mulai mengenal seni visual yang lebih estetis, salah satunya dengan membuat video musik. Satu di antara video klip itu adalah untuk lagu ‘Hold On’ yang dinyanyikan Sophia Latjuba (1994). Video yang kabarnya dibuat sebagai hadiah perkawinan Sophia Latjuba dan Indra Lesmana, adiknya itu, jadi runner up video musik terbaik di Rumania.
Ia yang sering juga menulis lirik lagu ini kemudian membangun rumah produksi Miles Productions. Produksi awalnya film dokumenter ‘Anak Seribu Pulau’, yang mencapai 14 episode. Film inilah yang kemudian mengantar Mia ke lahan sukses. Ia lantas mulai mencoba layar lebar. ‘Kuldesak’, adalah film layar lebar pertama yang disutradarainya bersama Rizal Mantovani, Riri Reza, dan Nan Triveni Achnas, tiga sutradara muda lainnya. Saat ditayangkan pada 1998, film itu sebenarnya cukup menyita perhatian, karena disutradarai orang-orang muda. Sayang, pasar kurang menyambutnya. Kini, nama perempuan yang ketika kecil suka memanjat pohon ini sudah menjadi label tersendiri bagi dunia film nasional. Almamaternya, IKJ, bahkan memberi kesempatan colesseum dictum padanya untuk menyelesaikan kuliah S1-nya yang pernah ia tinggalkan.
Promosi adalah kiatnya membuat film laris kata ibu Galih Galinggis dan Kafka Keandre, buah pernikahannya dengan aktor Mathias Muchus. Dengan segala sukses yang ia raih ternyata ia mempunyai satu obsesi, membuat panjang membuat film dan menerjemahkan buku-buku film atau buku-buku kesenian anak-anak. “
 (Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Mira LesmanawatiLahir :
Jakarta, 8 Agustus 1964Pendidikan :
TK s/d SMP di Perguruan Cikini, Jakarta Pusat ,
SMA di Ecolle International Independent, Sydney, Australia,
Australian Centre for Photography,
Departemen Film, Jurusan Penyutradaraan,
Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian, Jakarta (1988)Karier :
Audio Visual Lintas Advertising Agency
(1988-1992)
Asisten produser Katena Films (1992-1995)
Sutradara/Produser/Pemilik Miles Productions
(Maret 1995-sekarang)Video Klip :
Hold On (1994)

Filmografi :
Kuldesak (1994),
Anak Seribu Pulau (1996),
 Mata Ketiga (1997),
Petualangan Sherina (2000),
Ada Apa dengan Cinta (2002),
Laskar Pelangi (2008),
Sang Pemimpi (2009),
Atambua 39 derajat Celcius (Produser, 2012),
Sokola Rimba
(Produser, 2013),
Pendekar Tongkat Emas (Produser, 2014)
 
Pencapaian :
Runner Up Video Musik Terbaik di Rumania (1994),
PKS Award (2012)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *