Mochtar Lubis

 

 Nama :
Mochtar Lubis
 
Lahir :
Padang, Sumatera Barat,
 7 Maret 1922
 
Wafat :
Jakarta, 2 Juli 2004
 
Pendidikan :
HIS Sungai Penuh,
Kerinci (1936),
Sekolah Ekonomi Kayutanam,
 Sumatra Barat (1940),
Jefferson Fellowship, East West Center, University of Hawaii, Amerika Serikat.
 
Karier :
Redaktur Radio Militer dijaman pendudukan Jepang,
Wartawan Antara (1945), Menerbitkan Indonesia Raya (1949-1974),
Pimpinan Redaksi Indonesia Raya (1952-1958),
Media Advisor Corporate Media Indonesia Group
  
Karya Buku :
Tak Ada Esok,
 Si Djamal,
 Jalan Tak Ada Ujung, Perlawatan ke Asia Tenggara, Catatan Korea, Perempuan,
Perlewatan ke Amerika Serikat, Kisah Dari Eropa,
Twilight in Jakarta,
Tanah Gersang,
Pers dan Wartawan.
 
Penghargaan :
Ramon Magsaysay Award kategori Literature dan Creative Communication Arts dari Yayasan Magsaysay Filipina (1958),
Hadiah Pena Emas dari World Federation of Editor and Publishers (1967),
Hadiah Sastra Nasional BMKN (1952),
 

 

Seniman Sastra
Mochtar Lubis
 
 
 
Ia terkenal sebagai wartawan, pemimpin redaksi kemudian menjadi pemimpin umum harian Indonesia Raya. Dalam dunia kesusastraan dikenal karena romannya Jalan Tak Ada Ujung yang melukiskan tokoh ragu- dalam revolusi. Untuk buku itu ia mendapat hadiah dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional sebagai roman yang paling baik pada tahun 1952. Sesudah aksi militer pertama bersama-sama dengan beberapa kawannya ia mendirikan harian Masa Indonesia kemudian ia menjadi wartawan Merdeka, pemimpin redaksi majalah Mutiara, penerbit Mingguan Masa, direktur kantor berita Antara. Kemudian ia menjadi pemimpin redaksi dan pemimpin umum harian Indonesia Raya. Sesuai dengan pekerjaan, ia berkali-kali melawat ke luar negeri keberbagai negara. Dan iapun banyak menulis buku, diantaranya Asia Tenggara, Gapura 1951. Waktu di Korea berkecamuk perang, ia pergi kesana sebagai wartawan perang. Dan menulis sebuah buku berjudul Tjatatan Korea (Balai Pustaka, 1951) dan mendapat penghargaan tinggi dibidang reportase. Disamping itu ia banyak menterjemahkan kesusastraan asing kepada masyarakat Indonesia, diantaranya buku Tiga Cerita Negeri Dollar (Balai Pustaka, 1950).
 
Karena keberaniannya mengkritik pemerintah, sejak tahun 1956, untuk waktu yang tak ditentukan ia ditahan. Awalnya dalam sel, kemudian sebagai tahanan rumah. Hampir sepuluh tahun disekap di penjara tanpa diadili tentu saja bukan pengalaman yang menyenangkan baginya. Tetapi seperti dikatakannya sendiri, “Yang lebih berat justru yang ditinggal di rumah, istri dan anak-anak saya. Hally (panggilan istrinya yang bernama lengkap Halimah) selain mengunjungi saya sekali sebulan di Madiun, harus mengurus sendiri segalanya Itulah senjata rahasia saya. Dia mendukung perjuangan saya”. Untuk menjaga ketahanan fisik serta mentalnya selama di dalam tahanan, Mochtar tidak berpangku tangan. Ia belajar membuat keramik, belajar bahasa Prancis, Spanyol, melukis, memasak bahkan menulis buku. “Supaya tahan dipenjara, seseorang harus sibuk dan jangan mengharapkan besok akan dibebaskan. Kemudian jangan memelihara dendam terhadap mereka yang menahan, karena bisa membuat kita jatuh sakit”, katanya.
 
Kesan lain yang diperolehnya dari penjara ialah, bahwa seseorang baru betul-betul menghargai kebebasan bila telah berkenalan dengan penjara. Merampas kemerdekaan manusia katanya sama seperti menghentikan orang bernafas.
 
Dengan ke sembilan saudaranya dibesarkan oleh ayah mereka yang penuh disiplin dan ibu yang lemah lembut serta periang. Walau keluarga berada, sejak kecil mereka sudah dibiasakan bekerja. Sejak duduk di kelas SD hampir semua buku diperpustakaan ayahnya habis dibacanya. Salah satu yang buku yang mempengaruhinya adalah Tom Sawyer. Ia begitu senang dengan semangatnya yang bebas.”Kalau tidak membaca, jiwa bisa kering. Bila otak sudah loyo, buku bagaikan aliran listrik untuk mengisinya”, katanya.
 
Semula ia ingin jadi dokter, tapi ayahnya lebih suka anak-anaknya memasuki dunia swasta, bukan pegawai negeri. Maka setamat SD ia meneruskan sekolah di sekolah Ekonomi yang baru dibuka di Kayu Tanam (Sumatra Barat). Dengan bekal ilmu yang diperolehnya, berangkatlah ia ke Pulau Nias menjadi guru pada sekolah rendah yang lebih dikenal dengan sebutan HIS. Pekerjaan itu ternyata membosankannya. Ia pindah ke Batavia, ia bekerja pada sebuah bank milik Belanda yang membiayai pabrik-pabrik gula. Dari situlah ia tahu betapa banyak keuntungan yang dikeduk Belanda dari Indonesia. Belum lama ia bekerja disitu ketika pecah Perang Dunia II. Jepang menyerbu Indonesia dan bank itu ditutup. Kemudian bekerja pada Radio Militer Jepang bersama bekas-bekas pegawai Kantor Berita Aneta. Kewajibannya antara lain mendengarkan siaran radio pihak sekutu seperti BBC London dan VOA Amerika. Sebagai editor Tentara Jepang di Jawa.
 
Maka sejak itu, ia berketetapan hati menerjunkan diri dalam dunia kewartawanan. Ia bekerja di Antara sampai 1952. selain itu ia juga bekerja di harian Indonesia Raya sejak tahun 1949. Tahun 1952, ia Mengundurkan diri dari Antara karena bertentangan faham dengan pemimpin redaksinya waktu itu, yakni Djawoto yang beraliran komunis (waktu G-30 S/PKI meletus diketahui berada di Peking).
 
Koran yang paling sering diberengus ini berakhir beredar tahun 1974. Koran yang terkenal garang itu nyatanya kurang mendapat tempat dimasa pemerintahan Soekarno dan Soeharto. Bahkan prinsip kebenaran dan keadilan yang dianut koran ini beberapa kali mengantarnya ke penjara. Dan ia tidak jera bahkan tetap membela yang tertindas dan berusaha menegakkan keadilan. “Saya menulis banyak buku karena saya yakin pada kekuatan pikiran baik dalam bentuk roman, cerpen, essei atau apa saja. Buah pikiran yang dituliskan itu seperti benih. Mungkin lama tumbuhnya tapi saya yakin, asalkan buah pikiran itu benar, buah pikiran itu punya kekuatan hidup yang tak bisa dilenyapkan”.
 
Sejak kepergian istri (yang dinikahinya pada tahun 1944), kondisi kesehatannya terus menurun. Ia mulai mengidap penyakit Alzheimer. Penyakit ini menyebabkan ia tidak bisa mengingat orang-orang terdekatnya. Bahkan ia masih memanggil nama istrinya yang sudah meninggal. Pada 23 Juni 2004, ia masuk RS Medistra setelah mengalami sesak napas. Ia menderita penyakit batuk dan susah membuang dahak di tenggorokannya, dan sudah lama pula menderita penyakit asma. Di RS tersebut ia menjalani perawatan intensif selama satu hari di ruang ICU. Kemudian menjalani perawatan normal di ruang rawat inap biasa. Rencananya ia akan diperbolehkan pulang oleh dokter setelah dirawat selama sepuluh hari, tapi pada dua hari terakhir kondisi kesehatannya menurun dratis. Ia Lubis tidak bisa buang air kecil. Menurut dokter, penyakit prostatnya yang sudah berhasil disembuhkan setelah menjalani operasi 12 tahun lalu kembali kambuh. Akhirnya tokoh idealis yang konsisten ini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada hari Sabtu, 2 Juli 2004 pukul 19.00 WIB di RS Medistra, Jakarta. Di semayamkan di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta sebelum dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan di samping kanan pusara istrinya, Nyonya Siti Halimah, yang wafat pada 27 Agustus 2001.
 (Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *