Mus Mulyadi

Nama :
Mus Mulyadi
 
Lahir :
Surabaya, Jawa Timur,
14 Agustus 1945
 
Album :
Album Mus Mulyadi – edisi khusus – album pop keroncong terbaik,
Album pop keroncong – Mus Mulyadi – vol 1,
Bersenandung –  Keroncong,
Lagu Keroncong volume 3,
Gethuk Blauran – Jawa,
Mawar Merah-volume 6,
Album Favourite Band – ” Tetes hujan dibulan April”,
Album Seleksi Mega Hits – Terlaris dan Terpopuler,
Album Pilihan evergreen keroncong vol 7,
Album Raja & Ratu campursari lagu keroncong Mus Mulyadi & Waljinah,
Album Mus Mulyadi lagu karya emas Ismail Marzuki – “Sabda Alam”,
Album pop keroncong – “Dari Masa ke Masa”,
Album: Chinese New Year Special Album,
“Jauh dimata” bersama Laily Dimyatie,
“Panah Asmara” bersama Herlina Effendy,
Rondho Kempling bersama Wadljinah, Dinda & Kanda Bestari,
lagu Keroncong Disco Reggae bersama Helen Sparingga,
Hening -Lagu keroncong bersama Hetty Koes Endang,
Pop Jawa Mus Mulyadi bersama Waldjinah,
“Pergi Tanpa Pesan”, duet bersama Ida Laila
 
Lagu Keroncong Rohani :
Kasih setiamu,
Betapa hatiku,
Sadarlah Manusia,
Persembahanku,
Hanya ada satu Jalan,
Saat ini saat indah,
Peganglah tanganku Roh Kudus,
Yesus seperti Gembala,
Kasih dari Surga,
Penuh Hidupku,
Tuhanlah Perlindunganku,
Padamu Bapa
 
Filmografi :
Putri Solo (1974)


Penyanyi
Mus Mulyadi
 
 
 
Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 14 Agustus 1945. Sebelum terjun sebagai penyanyi, terlebih dulu menjadi pelatih band Irama Puspita yang kemudian berubah menjadi Dara Puspita. Selanjutnya, ia mendirikan grup band Arista Birawa (1964), sebagai pemegang bas dan merangkap sebagai vokalis bersama Sonata Tanjung dan sempat menelurkan satu album yang diproduksi PT Demita Record.
 
Tahun 1967, bersama tiga rekannya, meninggalkan Surabaya dan pergi merantau ke Singapura. Sempat menggangur sambil belajar menciptakan lagu. Hasil kerja kerasnya membuahkan hasil dengan terciptanya lagu “Sedetik Dibelai Kasih”, “Jumpa dan Bahagia”, dan lainnya sebanyak 10 lagu. Ia menawarkan karya-karyanya itu ke Live Recording Jurong (1969) yang kemudian menerbitkannya dalam dua buah piringan hitam.
 
Setelah mempunyai modal yang cukup, bersama tiga rekannya kembali ke tanah air. Tahun 1971 rekaman solo di Remaco, diiringi Empat Nada Band pimpinan A. Riyanto. Kemudian A. Riyanto mengajaknya bergabung dengan Empat Nada Band yang kemudian akhirnya berubah menjadi Favourite Band. Mereka lalu masuk dapur rekaman di Musica dan lahirlah lagu, “Cari Kawan Lain”, “Angin Malam”, “Seuntai Bunga Tanda Cinta”, serta “Nada Indah”. Kasetnya ‘meledak’ di pasaran. Mus Mulyadi sendiri kemudian dibuatkan lagu berbahasa Jawa oleh Is Haryanto berjudul “Rek Ayo Rek”.
 
Mencoba menyanyikan lagu keroncong pop, ternyata hasilnya luar biasa dan ‘meledak’ di mana-mana, seperti lagu “Dewi Murni”, “Kota Solo”, “Dinda Bestari”, “Telomoyo” dan “Jembatan Merah”. Kasetnya laku keras, julukan ‘Buaya Keroncong’ pun melekat padanya. Saat show ke luar negeri seperti Belanda atau Amerika, ia dikenal sebagai ‘The King of Keroncong’.
 
Cengkoknya sangat khas, tentang ini Mus Mulyadi berujar, “Modal saya cuma berani berimprovisasi. Saya itu punya feeling, biasanya orang kalau dari fa ke mi atau mi ke fa, itu kan hanya dua tangga nada, saya bisa enam tangga nada. Saya berani memainkan tangga nada,” begitu kiatnya, yang telah merilis kurang lebih 80 album keroncong ini.
 
Mus Mulyadi pernah bermain dalam film Putri Solo (1974) yang di sutradarai oleh Fred Young bermain bersama Mieske Bianca Handoko, Harris Sudarsono, Ratmi B-29, Rendra Karno, S. Poniman, Chitra Dewi, Debby Cynthia Dewi, produksi, PT. Agasam Film.
 
Menikah dengan Helen Sparingga yang juga di kenal sebagai seorang penyanyi. Karena penyakit diabetes tinggi yang di deritanya sejak tahun 1982,  kakak kandung Muss Mujiono ini kini tak lagi bisa melihat
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *