Nana Banna


Pelukis
Nana Banna
 
 
 
Lahir di Bandung, Jawa Barat, 22 Februari 1942. Pendidikan formalnya dalam bidang seni rupa diperolah dari Jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP (UPI) Bandung. Sejak menjadi mahasiswa telah banyak banyak membuat rencana kulit buku dan ilustrasi untuk majalah-majalah di Bandung dan Jakarta, antara lain : majalah Mingguan Sunda (1965-1967), Gondewa, Mangle dll.
 
Tahun 1967, sempat membuka Galeri ‘Idea’ di rumah orang tuanya di Jl. Pungkur, galeri tersebut merupakan galeri pertama di kota Bandung pada masa sesudah kemerdekaan. Tetapi, galeri tersebut hanya bertahan selama dua tahun, karena pada waktu belum tumbuh minat masyarakat terhadap lukisan. Setalah tamat di IKIP Bandung, ia mengajar di almamaternya sampai dengan pensiun. 
 
Karya lukisannya yang bernafaskan akademi mencerminkan pengalaman akademis yang pernah diperoleh, khususnya pada awal perkembangan. Keterikatannya pada asas-asas seni dan teori seni lukis kadang-kadang ikut membentuk gaya lukisan yang sedikit banyak mirip dengan gaya lukisan dari pembimbingnya, Popo Iskandar.
 

Namun tahap identifikasi ini telah lewat, karena Nana telah memiliki pengalaman sendiri melalui kecenderungan gaya yang realistis. Nana Banna memang bukan tipe kreator yang bertemperamen meletup-letup yang ingin menggali ide dasar baru melalui eksperimentasi dengan meninggalkan konsep lama.
 
Tapak tilas nuansa ekspresi dari seorang illustrator buku, rupanya masih menjadi acuan kreativitasnya. Gambar ilustrasinya memang tidak sekedar menampilkan kecekatan teknik menggambar tapi juga nilai ekspresi yang berpengaruh pada garapan bahasa rupa pada karya lukisannya. Sebagai illustrator Nana butuh akrab dengan lingkungan hidup manusia. Pilihan manusia sebagai sebagai tema pokok pada karya-karya terakhirnya membuka peluang baginya untuk menampilkan nilai-nilai psikologis. Keberhasilannya memang tergantung dari suasana kehidupan yang ingin disampaikan melalui media dan teknik lukisan yang pas.


Di Depan Etalase

 
Penyederhanaan bentuk pada karya awalnya dicapai dengan intensitas garis dan sapuan ekspresif dari kuas dengan media hitam putih dan cat air, pada karya-karya yang baru berubah. Teknik air brush seni grafis membantu pencapaian gaya ‘stumato’ yang mampu menghadirkan suasana yang serba sejuk, tenang dan teduh. Atmosfir dari lingkungan hidup masa muda pelukis Nana, lingkungan hidup yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota besar.
 
Dengan pencapaian gaya lukisan tersebut, kecenderungan pendekatan spiritual dalam proses kreatifnya mulai tampak pada simplifikasi sosok manusia untuk tidak menjurus pada penggambaran cerita belaka, suatu penyederhanaan berdasarkan penemuan nilai baru dengan menyatakan rasa dalamnya. Nana memang masih akan mencari terus dan menemukan ekspresi baru tanpa melupakan masa lampau sebagai pencipta. Sikap ini menyiratkan harapan untuk tidak berhenti pada rasa puas diri dan tenggelam dalam arus manirisme dengan bentuk-bentuj yang streotip.
 
Nana Banna sering mengikuti pameran bersama baik di dalam maupun di luar negeri antara lain, Bandung, Jakarta, Osaka, Singapura, Kualalumpur, Brunei Darussalam, Manila dan Bangkok. Pameran tunggalnya diselengarakan di TIM (1993), yang kemudian diikuti setiap tahunnya diberbagai galeri lain, antara lain. Galeri Tachibana, Osaka (1992), dan Galeri Blanche, Ikeda, Jepang (1998). Lukisannya banyak digemari kolektor karena warnanya yang lembut.  
 
(Dari Berbagai Sumber)      

Nama :
Nana Banna
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
22 Februari 1942
 
Pendidikan :
IKIP (UPI), Jurusan Pendidikan seni Rupa, Bandung
 
Profesi :
Dosen UPI Bandung,
Ilustrator,
Pelukis
 
Penghargaan :
Raden Saleh Prize untuk karya seni grafis dalam Pameran Budaya Generasi Muda di Jakarta (1972)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.