Nanu Muda

Nama :
Nanu Munajar Dahlan
 
Lahir :
Subang, Jawa Barat,
6 Desember 1960
 
Pendidikan :
Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Bandung, jurusan Karawitan/Konservatori Karawitan Bandung
 (1977-1982),
Jurusan tari di Akademi Seni Tari Indonesia, Bandung
(1982-1986),
Strata 2 Ilmu Humaniora, pada Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (2004)
 
Profesi :
Pengajar Jurusan Seni Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung
 
Kegiatan lain :
Koordinator dan Penasehat Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat,
Kurator Balai Pengelola Taman Budaya Jawa Barat,
Ketua Asosiasi Tari Bandung,
Penasehat Padepokan Kalang Kamuning Bandung Barat,
Penasehat Sanggar Fitria Cimahi  
 
Pencapaian :
Membawa Doger Kontrak menjadi juara di Festival Parede Tari di Jakarta
(1990),
Penata Tari Terbaik Festival Kesenian Nasional (1995)
 
Karya Tari :
Doger Kontrak (1990),
Cikeruhan,
Gaplek

Seniman Tari
Nanu Muda
 
 
 
Bernama lengkap Nanu Munajar Dahlan, anak kepala desa Bumiayu, Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang juga seorang tentara. Mendalami kesenian secara formal pertama kalinya di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Bandung, jurusan karawitan. Meneruskan kuliah di jurusan tari di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung yang kini menjadi STSI Bandung hingga lulus sarjana muda tahun 1986. Melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2, Ilmu Humaniora, program studi Pengkajian Seni Pertunjukan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, lulus tahun 2004. Dalam desertasinya, Ia mengangkat tarian rakyat pantai utara Jawa Barat.
 
Sering menyingkat namanya dengan Nanu Muda, sejak lama ia sudah menyukai kesenian rakyat terutama seni doger. Setiap kali ada kabar akan ada kelompok seni doger pentas di Subang, ia pasti akan datang ke tempat pementasan. “Saya menonton doger terakhir kali pada tahun 1973, waktu saya di SMP”, ujarnya, tentang kesenian doger yang merupakan kesenian asal Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang sudah punah sejak tahun 1980-an.
 
Ketika ia menjadi pengajar di Jurusan Seni Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, kerinduannya akan doger timbul kembali. Beruntung saat ia mendapat kesempatan untuk meneliti kesenian rakyat di Subang, ia bertemu Jaim, tokoh doger satu-satunya yang masih tersisa di kabupaten tersebut. Hampir setiap hari, selama dua tahun dari tahun 1987, ia menemui Jaim untuk mendengarkan sejarah doger dan mempelajari berbagai unsur dari kesenian tersebut.
 
Tahun 1990 tekadnya makin kuat untuk merekonstrusikan kembali kesenian doger. Hasilnya sebuah rekonstruksi sempurna yang dinamai Doger Kontrak. Kata kontrak diambil karena pada tahun 1940-an masyarakat yang membayar kelompok doger sebagian besar adalah buruh kontrak di perkebunan. Ditahun yang sama, Doger Kontrak menjadi juara di Festival Parade Tari di Jakarta. Sejak saat itu, ia telah menampilkan Doger Kontrak pada berbagai misi kebudayaan dan festival tari di Malaysia, Jepang, Thailand, India, Italia, Perancis dan Amerika Serikat.
 
Selain peduli akan kelestarian kesenian doger, ia juga aktif melestarikan kesenian yang juga berasal dari Jawa Barat yaitu Jaipongan. Koordinator Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat ini bahkan tidak segan-segan mengeluarkan kritikan keras terhadap pihak-pihak yang kurang perduli terhadap kesenian Jaipong serta menganggap Jaipong sebagai tarian yang menyuguhkan gerakan erotis.
 
Seniman tari yang juga menciptakan tarian ‘Cikeruhan’ dan ‘Gaplek’ yang merupakan gabungan dari tarian rakyat dari berbagai daerah di Jawa Barat ini, berharap semua pihak di jawa Barat ikut melestarikan kesenian tradisional khususnya yang berasal dari Jawa Barat.
(Dari Berbagai Sumber) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *