Ngimbai

Nama :
Umi Kalsum
 
Lahir :
1937
 

Seniman Tari Rimba
                                                                                    Ngimbai
 
Ia tak tahu kapan persis tanggal lahirnya. Dengan kusuk ia membawakan tariannya. Setiap gerakan diiringi nyanyi-nyanyian berbahasa rimba yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh pihak luar. Gelora itu tersirat jelas saat ia membawakan seluruh rangkaian tari. Mulai dari tari layang, tari elang, dan tari tao yang biasa dibawakan mengiringi prosesi ritual pernikahan, serta tari-tarian dalam upacara besale pengobatan bagi orang sakit. Dulu, selama dalam rimba, dirinyalah yang kerap memimpin tari-tarian, khususnya pada upacara menyambut bayi yang baru lahir. Kesempatan itu diperoleh karena dirinya berasal dari keluarga terpandang di kelompoknya.
 
Dengan alasan perut, bersama suaminya, Tumenggung Renguak, ia memutuskan keluar dari rimba dan membawa empat dari lima anaknya. Sementara satu anaknya sampai kini masih tinggal di rimba. Dulu mereka dapat menggantungkan kelangsungan hidup dari alam, yaitu dari hewan-hewan hasil buruan, atau buah-buahan. Hutan di Taman Nasional Bukit Dua Belas saat itu masih menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh warga suku pedalaman.
 
Seiring maraknya penebangan pohon dalam taman nasional, ketidakseimbangan ekosistem telah mengakibatkan hewan-hewan buruan makin menghilang. Stok makanan semakin menipis. Dalam keadaan terjepit, keluarganya, termasuk sejumlah keluarga lain suku Suku Anak Dalam, memutuskan mengadu nasib keluar dari rimba. Nasib baiklah yang membuatnya bersama keluarga kini telah memiliki rumah dari kayu, di desa Sungai Keruh, kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.
 
Pertama kali menari ia diajari oleh nenek moyangnya, yaitu sekitar usia delapan tahun. Menjadi kewajiban warga Suku Anak Dalam untuk menari dan menyanyi bersama di tengah-tengah hutan, pada momen-momen tertentu. Ia sadar betul, di dalam hutan rimba, tari-tarian ini menjadi ekspresi puji-pujian mereka kepada alam. Masyarakat Suku Anak Dalam dalam hutan rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas memang masih menganut animisme. Tarian dianggap sakral dan dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk melanggengkan penyampaian rasa syukur dan doa-doa. Namun, baginya, ketika dirinya tak lagi menjadi warga rimba, maka tarian ini lebih dianggap sebagai ekspresi jiwa.
 
Perempuan yang belum bisa baca dan menulis ini mengatakan, tarian rimba yang dibawakan di luar rimba hanya menjadi sebuah karya seni. Ia sendiri tidak lagi menari dengan selembar kain, dengan dada terbuka. Ia sudah menggunakan jilbab sehingga tarian dibawakan dengan kain. Ia pun memanfaatkan selendang. Dikalangan warga Suku Anak Dalam yang telah keluar rimba, keterampilan menari ini tak lagi dimiliki. Di desa itu, tinggal dirinya yang masih fasih dengan nyanyian-nyanyian lengkap dengan tariannya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *