Nortier Simanungkalit


Komponis
Nortier Simanungkalit
 
 
 
Dikenal dengan julukan Bapak Panduan Suara Indonesia. Lagu-lagu berirama mars dan himne menjadi identitas bagi pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, 17 Desember 1929 ini. Lulusan Pedagogi UGM, mulai menekuni musik sejak berusia 19 tahun. Belajar bermusik dilakukannya secara otodidak, mengingat ia tak mempunyai latar belakang akademik.
 
Dengan latar belakang otodidak ini jugalah yang akhirnya mempengaruhi caranya dalam menyusun komposisi. “Karena saya tidak pernah menempuh pendidikan masuk formal, saya harus menguatkan ungkapan perasaan musikal saya melalui imajinasi. Saya seolah-olah mendengar alunan lagu pada saat saya mengarang sebuah lagu. Komposisi nada, irama, harmoni, dan suara penyanyinya, solo atau koor terbayang dalam benak saya. Inspirasi itu lalu segera saya tulis pada secarik kertas, yang kemudian saya sempurnakan agar dapat dibaca dan dimainkan oleh orang lain,” ujar mantan Komandan Tentara Pelajar Sub-Teritorial VII Sumatera Utara dan mantan anggota MPR-RI (1987-1992) ini.
 
“Setelah lagu itu lengkap, saya menyodorkannya kepada seorang pianis untuk memainkannya. Sang pianis ternyata dapat memainkan lagu itu persis seperti yang saya bayangkan sebelumnya, yaitu sewaktu saya memperoleh inspirasi lagu itu. Ciptaan baru yang telah saya tulis dengan rapi kemedian saya serahkan kepada pihak yang membutuhkan atau memesan lagu tersebut”. Misalnya saat mencipta ‘Mars Pemilu 2004’, ia menggunakan jasa seorang pianis di studio Monang Sianipar, Jakarta. “Di situlah kekuatan imajinasi dan seni,” kata pencipta lagu ‘Sekuntum Bunga di Taman’, yang merupakan karyanya yang pertama itu.
 
Lagu ‘Sekuntum Bunga Di Taman’ merupakan debutnya di luar jalur mars dan himne, lagu tersebut di tulisnya ketika ia baru satu semester saat menuntut ilmu di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Semangat mencipta lagunya makin menggebu ketika lagunya itu diputar RRI Yogyakarta. Lewat stasiun radio itu pula, guru seni suara sebuah SMA di Yogyakarta (1957-1964) itu mendengar siaran musik klasik kesukaannya. Kalau akhirnya ia lebih terpikat pada mars, tak lain karena menurutnya mars adalah induk seluruh lagu.
 
Ia juga memperhatikan betul keselarasan lirik, yang senantiasa filosofis, dengan lagu ciptaannya. Empat unsur penting selalu diupayakan ada dalam tiap ciptaannya, melodi, harmoni, ritme, dan timbre. Kehati-hatian itulah yang membuat penerima penghargaan Lifetime Achievement dari Koalisi Media KPU dan SCTV itu enggan mengikuti lomba bila jurinya bukan maestro musik atau seorang musikolog.
 
Karya mars dan himnenya banyak di pesan untuk berbagai event penting di tanah air, diantaranya mars dan himne untuk SEA Games X (1979), musik ‘Senam Pagi Indonesia’ dan ‘Senam Kesegaran Jasmani’  (1980-an), serta mars dan himne dari sejumlah instansi pemerintah, swasta, kampus, hingga partai politik. Bahkan Mars ‘Pemilihan Umum 1999’ dan ‘2004’ pun dibuat oleh pengubah Simfoni Gondang Batak itu.

Karya ciptanya juga tersebar sampai ke negeri Paman Sam. Lewat Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, Palang Merah Amerika Serikat memesan sebuah himne darinya pada tahun 1999. Sebulan penuh dihabiskan Simanungkalit sebelum mendapatkan komposisi yang pas. Untuk keberhasilannya, ia mendapat medali jenis Special Recognition dari Palang Merah Amerika Serikat (1999).
 
Namun Itu bukan pengalaman pertamanya dengan negeri Paman Sam. Pada tahun 1972, Simanungkalit pernah bersantap siang dengan Presiden Richard Nixon. Ia berada di Amerika Serikat dalam rangka menjadi juri Festival Paduan Suara Mahasiswa Internasional. Kiprah dosen koor Akademi Musik Indonesia Yogyakarta (1964-1966) itu di pentas internasional tak hanya sebatas menjadi juri. Selama periode 1968-1981, ia menjadi anggota International Music Council UNESCO.
 
Pria yang pernah dipercaya menjadi ketua dewan juri Bintang Radio dan Televisi pada 1967-1989 itu tercatat telah mencipta lebih 150 komposisi musik yang semuanya berupa mars dan himne. Di luar dua komposisi itu, masih ada ratusan, tepatnya 268, komposisi lain yang sudah dihasilkannya. Seluruhnya diciptakan ompung empat cucu itu sejak ia remaja, pada 1950-an.
 
Sampai saat ini komponis yang pernah menerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II ini masih terus berkarya dan aktif sebagai pendidik di bidang musik. Menikah dengan Sri Sugiarti boru Simorangkir pada 19 September 1966, dari perkawinannya tersebut, ia di karuniai tiga orang anak, Meirana Sinamungkalit, Eldira Roselita Simanungkali, Ilmiata Herriati Simanungkalit dan lima orang cucu.
 
Pemrakarsa lomba paduan suara mahasiwa tingkat nasional pada tahun 1978 ini, wafat pada hari Jumat, 9 Maret 2012 dalam usia 82 tahun.   
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Nortier Simanungkalit
 
Lahir :
Tarutung, Sumatera Utara,
 17 Desember 1929
 
Wafat :
Jakarta, 9 Maret 2012
 
Pendidikan :
Pedagogi UGM
 
Kegiatan lain :
Komandan Tentara Pelajar Sub-Teritorial VII Sumatera Utara,
Guru Seni SMA di Yogyakarta (1957-1964),
Dosen koor Akademi
 Musik Indonesia Yogyakarta
(1964-1966),
Ketua dewan juri Bintang Radio dan Televisi (1967-1989),
Anggota International Music Council UNESCO (1968-1981),
Anggota MPR-RI (1987-1992)
 
Penghargaan :
Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan I,I
Lifetime Achievement Award dari Koalisi Media KPU dan SCTV,
Special Recognition Medal dari Palang Merah Amerika Serikat (1999)
 
Karya :
Sekuntum Bunga di Taman,
Mars dan himne untuk SEA Games X (1979),
Musik Senam Pagi Indonesia dan Senam Kesegaran Jasmani  (1980-an),
Mars Pemilihan Umum
 (1999 dan 2004),
Sebuah himne Palang merah Amerika Serikat
150 komposisi musik mars dan himne

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *