Nurdin B.S

Nama :
Nurdin B.S.
 
Lahir :
Padang, Sumatera Barat
10 Oktober 1915 
 
Wafat :
Jakarta, 14 Juni 1987
 
Pendidikan :
INS/Indonesia Nationale School) Kayutanam, Sumatera Barat
(Lulus tahun 1937)
STICUSA /Stichting voor Cultuur Samenwerking (1953-1957)
 
Penghargaan :
Penghargaan Seni dari Pemerintah Daerah Jawa Timur (1967)
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Pelukis
Nurdin B.S
 
 
 
Lahir 10 Oktober 1915 di Padang, Sumatera Barat. Berlatar belakang pendidikan INS (Indonesia Nationale School) Kayutanam, Sumatera Barat, pimpinan Moh. Syafei, Lulus tahun 1937. Di tempat tersebut ia belajar melukis pertama kali dengan bimbingan Wakidi, salah seorang pelukis pertama naturalisme terkemuka. Baru tekun melukis di tahun 1950. Tahun 1953, ia mendapat undangan STICUSA (Stichting voor Cultuur Samenwerking) untuk studi seni lukis selama dua tahun di Amsterdam, Belanda dan sempat melukis dengan C. Ezeldijk Jeroel Voskuil.
 


Pabrik Aspal Wonokromo, cat minyak diatas kanvas,
60 x 100 cm (1974)

Tahun 1952, ia mengadakan pameran bersama di Palembang, Sumatera Selatan, dengan rekan-rekan sesama pelukis. Tahun 1957, untuk pertama kalinya ia berpameran tunggal di Balai Budaya, Jakarta. Tahun 1960-1967, ia menjadi perancang motif tekstil pada Ratatex di Surabaya, Jawa Timur. Sesudah itu ia kerap mengadakan pameran lukisan bersama baik di Surabaya atau di Jakarta, serta di berbagai kota di sejumlah negara, antara lain di Amerika Serikat, Inggris, India, Filipina dan Jepang.
 
Pada Pameran Lukisan Dunia Minyak Indonesia yang disponsori oleh Pertamina pada tahun 1974, ia menyertakan tujuh lukisannya; Pabrik Aspal I di Wonokromo, Pabrik Aspal II di Wonokromo, Mengaspal jalan Surabaya, Elnusa Rawa Buaya Cengkareng, Pompa Bensin Jakarta, Pasar dan Kampung Palembang. Pameran tunggalnya yang terakhir, pada tahun 1986, di Balai Budaya, Jakarta.

 
Di tahun 1967, ia menerima Penghargaan Seni dari Pemerintah Daerah Jawa Timur. Lukisannya dikoleksi antara lain oleh mantan Wakil Presiden Adam Malik (alm). Karya lukisnya, dalam naturalismenya, selalu melukiskan berbagai sudut alam sebagai suatu panorama yang wajar yang asing dari pengaruh-pengaruh dari luar. Wafat pada 14 Juni 1987 di Jakarta. Bersama Wahdi Sumanta, ia adalah pelukis dari suatu generasi yang tetap kepada tradisi representasi yang naturalistis di dalam seni lukis moderen Indonesia sampai akhir hayatnya.      
 
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *