Parmin Ras


Parmin Ras
 
 
 
 Bernama lahir Soeparmin Ras. Lahir di Jawa Timur. Sempat mengenyam pendidikan tari di STKW Surabaya selama dua tahun. Pernah juga belajar tari di Padepokan Lemah Putih bersama Suprapto Suryodarmo di Surakarta. Sejak tahun 1970 sudah terlibat dalam grup Chandra Wilwatikta, yang setiap bulan berpentas di Taman Candra Wilwatikta. Tahun 1973 bersama AM. Munardi membuat grup tari Lintasan 73. Sering menjadi penata gerak pementasan teater Bengkel Muda Surabaya (BMS) dengan arahan sutradara Basuki Rachmat, Akhudiat dan Hari Matrais. Tahun 1977, ia mendirikan Sanggar Tari Suita Parani, yang memiliki cabang di Kediri, Tulungagung, Kertosono dan Surabaya sendiri.
Puluhan tahun menggeluti seni tari, puluhan karya tari telah dihasilkannya. Ia adalah sosok seniman tari yang terus berjuang tanpa henti meskipun lingkungan seniman sekitarnya tak memperhitungkannya. Sebab, sebagai seorang seniman tari, ia tidak menari secara lazim, yang selalu menghitung satu sampai delapan, ia tidak mencipta tari yang indah-indah. Tarian Parmin adalah karya yang selalu menunjukkan empati pada situasi sosial, kepedulian lingkungan atau menyuarakan jeritan hati kemanusiaan.
Pandangan orang agak berubah ketika tiba-tiba ia mendapat undangan Sharing Time di Devon, Inggris. Ia bukan hanya pentas, namun memberikan workshop, serta bekerja sampingan dalam upaya bertahan dan mengembangkan jaringan. Sejak itu, berulang kali undangan dari Eropa setiap tahun selalu datang padanya, tercatat ia pernah berpentas di Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. Ia berkolaborasi dengan kelompok-kelompok seni di sana dan berkarya bersama. Bahkan ia sempat bekerja part timer sebagai penjaga toko dan cleaning service untuk membiayai hidupnya selama tur keliling tersebut.
Setelah sempat vakum, penari yang terkenal karena tari Getar-nya, di mana ia menggetarkan tubuhnya selama 24 jam tanpa jeda ini, mendapat mendapat grant award U/ Veret and Observasion seni pertunjukan di New York, USA dari Asian Cultural Council (AAC), selama tiga bulan. Untuk bisa menembus program ACC, Parmin mengaku harus melalui beberapa tes yang diikuti 200-an seniman Indonesia dari berbagai bidang seni. ”Saya dapat poin plus karena punya pengalaman keliling Eropa itu,” ujar penari yang pernah mencatatkan rekor di Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan koreografer kontroversialnya, Surabaya Bergetar, pada bulan Mei 2004.
Di New York dan Washington, USA, seniman minimalis yang selalu tampil tanpa kostum tertentu dan lebih mengutamakan aliran gerak dan olah nafas ini mementaskan dua koreografinya yang berjudul Empty Plates, yang menceritakan tentang pengalamannya di waktu kecil dan 10.10, yang mengingatkan bahwa pada akhirnya kita akan kembali kepada Sang Pencipta Waktu. Kedua tarian tersebut ia tampilkan secara solo dengan musik minimalis. Ia juga menampilkan teater Just A Little Things. Selain menampilkan karya, Oleh ACC ia juga diminta untuk memberikan workshop di beberapa universitas serta lembaga kebudayaan di Amerika dan di beri kehomatan untuk on-air di Radio Suara Amerika (VOA). Setelah itu ia berkunjung ke Jepang, singgah di kota Tokyo, Kyoto dan Osaka.
Kini Pria yang tinggal di Pasirian, Lumajang, Jawa Timur ini, selain aktif mengelola padepokan sendiri di Pasiran Lumajang, ia juga  membuka warung gado-gado di Jalan Arjuna Surabaya.
(Dari Berbagai Sumber)  

Nama :
Soeparmin Ras
 
Lahir :
Jawa Timur
 
Pendidikan :
Pendidikan tari di STKW Surabaya (selama dua tahun), Belajar tari di Padepokan Lemah Putih di Surakarta
 
Penghargaan :
Grant award U/ Veret and Observasion seni pertunjukan di New York, USA dari Asian Cultural Council,
Membuat rekor di Museum Rekor Indonesia  dengan koreografer kontroversialnya, Surabaya Bergetar (Mei 2004)
 
Karya :
Tari Getar,
Empty Plates (2009),
10.10 (2009),
Just A Little Things (Pertunjukan Teater, 2009)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *