Perupa Heri Dono

Nama :
Heri Dono
 
Lahir :
Jakarta, 12 Juni 1960
 
Pendidikan :
Institut Kesenian Indonesia, Yogyakarta
 (Lulus Tahun 1987)
 
Penghargaan :
Penghargaan lukisan terbaik (1981 & 1985),
Visual Arts Award (2011),
Anugerah Adhikarya Rupa kategori Personal (2014)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Perupa
Heri Dono
 
 
 
Lahir di Jakarta, 12 Juni 1960. Pendidikan seninya ia tempuh di Institut Kesenian Indonesia, Yogyakarta (lulus tahun 1987). Setelah lulus, ia mempelajari tentang boneka tradisional dan wayang kulit dari Sukasman di Yogyakarta (1987-1988). Sejak saat itu ia mulai membuat karya kontemporer dengan memasukkan unsur seni tradisi yang di gabungkannya dengan gaya western modern, post-expressionisme dan Kubisme, baik dalam bentuk instalasi maupun lukisan sekaligus di bumbui dengan kritik-kritik sosial di dalamnya.
 
Medium yang digunakannya dalam berkarya beraneka ragam, tapi pilihannya sering jatuh pada karya instalasi yang menggunakan materi-materi ‘sehari-hari’ dan berteknologi sederhana. Di dalam figur-figur yang muncul pada karyanya, seringkali bisa dilihat pengaruh wayang kulit.
 
Perupa yang pernah menjadi juri pada the XI Triennale India, di New Delhi (2005) ini, di kenal mempunyai kecenderungan membenturkan simbol yang satu dengan simbol yang lain. Misalnya bentuk wayang yang tradisional dengan perangkat elektronik. Kekuatan karyanya justru terletak pada kemampuannya menghadirkan benturan simbol-simbol itu. Keistimewaannya yang lain adalah keberhasilannya dalam melakukan transformasi seni tradisi ke dalam bahasa yang lebih kontemporer.
 


The Stinky Headed President, Akrilik diatas Kanvas, 150 cm x 150 cm (2008)

Karya-karya dalam bentuk instalasi dan lukisannya tersebut ia pamerkan didalam beberapa pameran, baik pameran tunggal maupun pameran bersama yang di selenggarakan di dalam negeri maupun di luar negeri . Pameran tunggal yang pernah diadakannya antara lain : Cemeti Contemporary Art Gallery, Yogyakarta (1988), Unknown Dimensions, Museum der Kulturen, Basel, Swiss (1991), The Chair, Canberra Contemporary Art Space, Australia (1993), Blooming in Arms, Museum of Modern Art, Oxford, Inggris (1997), Tanah dari Merapi, French Cultural Center, Yogyakarta (1998) Mythical Monsters in Contemporary Society, Gajah Gallery, Singapura (1999), Dancing Demons and Drunken Deities, The Japan Foundation Forum, Tokyo, Jepang (2000) dan lain-lain.

 
Sedangkan pameran bersama yang pernah di ikutinya adalah ; Art on the Environment, Pantai Parangtritis Yogyakarta (1982), 4th  Biennial of Indonesian Young Artists, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1984), 3rd  ASEAN Youth Artists Exhibition, ISI, Yogyakarta (1985), 5th Biennale  of Indonesian Young Artists, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1986), Sandiwa, Kulay-Diwa Art Galleries/Cultural Center of the Philippines, Manila (1987), Three Indonesian Artists, De Schone Kunsten, Heemstede, Belanda (1988), Hedendaagsde Indonesische Kunst, Volkenkundig Museum Nusantara, Delf, Belanda  (1988), Modern Indonesian Art: Three Generations of Change, 1945-1990, Festival of Indonesia 1990, Sewall Gallery, Rice University, Houston, San Diego, Oakland, Seattle dan Honolulu, Amerika Serikat (1990) dan lain-lain.
 
Selain membuat instalasi dan lukisan, ia juga akrab dengan seni rupa pertunjukan yang memasukan gagasan teater jalanan. Hal tersebut ia tunjukan antara lain dalam seni rupa pertunjukan ‘Kuda Binal’ yang digelar di Yogyakarta (1992). Dalam pertunjukan ini, ia mengadaptasi kesenian rakyat jatilan. Kuda lumping pada pertunjukan rakyat ini diganti dengan berbagai bentuk hewan. Gambaran bentuk hewan yang dominan dalam karyanya tersebut, menunjukan pandangannya, bahwa manusia tidak lagi sentral dalam kehidupan . Prilaku manusia sudah semakin sama dengan mahluk lainnya. Manusia cuma salah satu unsur dari alam yang besar ini.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.