Priyono

Nama :
Priyono
 
Lahir :
Banyuwangi, Jawa Timur,
2 April 1958
 
Pendidikan :
SMP 17 Agustus 1945 (Banyuwangi, Jawa Timur),
Sekolah Menengah Olahraga Atas /SMOA
(Probolinggo, Jawa Timur),
Sekolah Tinggi Olahraga (STO) (tidak selesai),
IKIP PGRI
(Probolinggo, Jawa Timur)
Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta/STKW, jurusan tari (Surabaya, Jawa Timur)
 
Aktifitas Lain:
Staf Dinas Pendidikan Kota Probolinggo, Jawa Timur,
Pimpinan dan pengajar tari pada sanggar tari Bina Tari Bayu Kencana,
Ketua Komunitas Pariwisata/Kopara kota Probolinggo, Jawa Timur
 
Pencapaian :
Penata Tari Terbaik Jawa Timur melalui tari Beksan Lengger (1985),
Penata Tari Terbaik Jawa Timur melalui tari Kiprah Lengger (1987),
Penghargaan Seniman Tari Jawa Timur dari
 Gubernur Jawa Timur (2010)
 
 
 
 
 
 

Seniman Tari
Priyono
 
 
 
Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 2 April 1958. Peni, nama panggilan seniman tari ini. Putra pasangan Lilik Suparni dan Winarko. Sejak kecil ia telah lekat dengan tari tradisi setempat. Bahkan saat bersekolah di SMP 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Jawa Timur, ia ikut menjadi penabuh alat musik angklung yang kerap mengiringi tari. Setelah tamat SMP, ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Olahraga Atas/SMOA di Probolinggo, Jawa Timur. Di SMOA, ia sempat mendirikan klub voli yang diberi nama Yunior Sport Voli Probolinggo. Lulus dari SMOA, ia sempat berminat menjadi tentara TNI AL KKO (sekarang Marinir), namun ia memilih melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Olahraga/STO di Surabaya, Jawa Timur. Namun, baru sebulan kuliah di STO, ia kembali ke Probolinggo dan mendaftar menjadi PNS.
 
Keberuntungan berpihak padanya. Pada tahun 1977, ia diterima menjadi pengajar di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ia kemudian ditugaskan sebagai guru olahraga di SD Gajahmada (kini SDN Sukabumi II). Sambil mengajar, ia juga menjadi wasit voli dan sering pula di minta bantuan untuk melatih tari serta mengurusi masalah kesenian. Pada tahun 1978, ia melanjutkan kuliah di IKIP PGRI Probolinggo, Jawa Timur, dan berhasil meraih gelar sarjana muda untuk jurusan administrasi pendidikan.
 
Berkat keseriusannya membina tari tradisional, pada tahun 1983, ia diberi kepercayaan oleh Depdikbud untuk mengajar di jurusan tari STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya, Jawa Timur. Ditahun yang sama, ia memutuskan untuk berhenti menjadi pengajar olahraga dan memilih menjadi pengajar tari. Sejak saat itu ia aktif membina tari, terutama di Probolinggo, meski ia juga kerap diminta membina seni tari di beberapa daerah lain sekitar Probolinggo. Ia juga turut membina beragam kesenian lain di Probolinggo, seperti lengger, ludruk, sampai karawitan. Ia menyumbangkan ide dan mengarahkan kesenian itu agar mampu bertahan, sampai mendukung kelengkapan kostum mereka.
 
Kiprahnya di dunia tari semakin lengkap dengan didirikannya sanggar tari Bina Tari Bayu Kencana (BTBK) yang ia dirikan bersama empat temannya, Subur Hariyono, Ribut Iriyani, Rudianto dan Nur Ikhsan. Selain sebagai pimpinan, ia juga terlibat sebagai pengajar tari pada Sanggar tari BTBK tersebut. Sanggar tari BTBK mendidik murid dari beragam usia, mulai usia kelompok bermain hingga ibu-ibu. Di sanggar ini, para murid belajar beragam tari tradisional, seperti tarian khas Probolinggo dan tarian Pendalungan. Para ibu yang belajar menari di sanggar ini umumnya adalah guru tari di sekolah-sekolah di Probolinggo.
 
Selain menari dan mengajar tari, ia juga aktif menciptakan berbagai tarian dengan dasar tari tradisional. Dia mengambil dasar budaya Pendalungan, campuran antara budaya etnis Madura dan berbagai etnis lain yang melahirkan suatu budaya baru, untuk menciptakan berbagai tarian baru. Ia relatif tak menemukan banyak kesulitan berarti dalam menciptakan tari tradisi baru, sebab gerakan-gerakan yang ditampilkan dalam tarian-tarian ciptaannya terinspirasi dari aktivitas warga sehari-hari di Probolinggo. Salah satu contohnya adalah tari ‘Cercer’. Ia menciptakan tarian untuk anak-anak itu karena terinspirasi dengan kebiasaan anak-anak di Probolinggo yang suka memainkan tutup gelas. Tarian lain karyanya adalah tari ‘Nyo’co’. Tarian ini, terinspirasi dari proses mengolah tanah sebelum petani menanam bawang merah di Probolinggo.
 
Meski menghidupkan kesenian di Probolinggo tidak mudah, namun ia tetap gigih berusaha terus untuk menghidupkan kembali seni Pendalungan. Alasannya, karena kesenian khas Probolinggo itu terancam punah. Selain karena tak ada penerus, minat terhadap kesenian tradisional pun semakin minim. Kecintaan pada dunia tari jugalah yang membuatnya tak jemu mengajak para seniman di Probolinggo agar bertahan. Caranya dengan mengajak mereka berdialog, mengikuti seminar, hingga berpentas di luar kota. Baginya mengajarkan tari tradisional kepada generasi penerus adalah hal yang utama.
 
Di tengah kesibukannya mengasuh sanggar tari Bayu Kencana, sekaligus menjalani profesinya sebagai pengawas TK dan SD pada Dinas Pendidikan kota, ia didapuk pula menjadi ketua Komunitas Pariwisata (Kopara) kota Probolinggo. Atas peran aktifnya yang tidak pernah surut di dunia seni tari, ia pernah beberapa kali meraih penghargaan, antara lain, penghargaan sebagai Penata Tari Terbaik Jawa Timur melalui tari Beksan Lengger (1985), Penata Tari Terbaik Jawa Timur melalui tari Kiprah Lengger (1987), dan Penghargaan Seniman Tari Jawa Timur dari Gubernur Jawa Timur (2010).
 
Menikah dengan Tatik Sumarti, di karuniai tiga orang anak, Ika Suryawuri, Risang Dwi Ananta, Niar Tri Finansih.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *