Purwanto

Musisi
Purwanto
 
 
Sejak kecil telah akrab dengan alunan musik jawa. Dari radio transistor milik ayahnya, ia terbiasa mendengarkan alunan tembang dan gamelan. Ayahnya yang seorang pengendang, membuatnya makin merasa dekat dengan sumber bebunyian itu. Bebunyian yang membentuk irama dalam jiwanya. “Jadi sejak kecil, saya seperti sudah terbentuk dalam langgam jawa seperti itu”,”kata laki-laki kelahiran Gunung Kidul, 12 Januari 1967 ini.
 
Pada saat bersamaan, melalui radio juga, ia kerap menikmati lagu-lagu populer yang di dendangkan Koes Plus, Panbers, Rhoma Irama, Elvie Sukasih, A. Rafiq, yang membaur dalam telinganya bersama uyon-uyon, wayangan dan ketoprak. Semasa SMP di tahun 80an, ia pun menyukai musik musik pop dari A. Riyanto, Rinto Harahap atau Pance Pondaag.
 
Musik pop yang ia dengar waktu itu membuatnya menyadari ada khasanah bunyi dan musik lain, selain gamelan. Karena itu, ketika ia menempuh studi karawitan di SMKI (Sekolah Menempuh Karawitan Indonesia), dan kemudian meneruskan pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, ia pun tidak menutup diri dalam pergaulan dengan khasanah musik lain.

Purwanto pun mulai bersentuhan dengan musik kontemporer, dengan terlibat dalam proses pentas-pentas Sapta Rahardja dan Otok Bima Sidharta. “Saya saat itu, tentu saja belum ngeh apa itu musik kontemporer. Saya hanya merasakan, bahwa ada musik lain selain apa yang selama ini saya dengar lewat radio, kaset serta musik yang lain yang saya pelajari di kelas. Instrumennya bisa sama tetapi cara menghayatinya yang berbeda. Itu membuat tumbuhnya semacam wawasan bermusik dalam diri saya”,ujarnya


Kua Etnika, Vertigong, 2008

 
Apalagi ketika lingkungan pergaulannya mulai membuatnya dekat dengan teman-teman dilingkungan teater, seni rupa dan sastra. “Pergaulan itu bukan hanya sekedar mempengaruhi ‘selera estetik’ tetapi juga orientasi bermusik saya”,”paparnya. Pada masa itu, ia memang banyak terlibat dalam proses pertunjukan Teater Paku, Komunitas pak kanjeng dan Teater Gandrik.
 
Tahun 1988, ia mendirikan Pusat Latihan Karawitan (PLK) Yogyakarta bersama Otok Bima Sidharta. Ketika grup musik Kua Etnika terbentuk ditahun 1996, ia turut bergabung didalamnya. Bersama Kua Etnika, ia menemukan ruang untuk berekspresi. Menampilkan satu komposisi garapan musiknya pada konser musik Etnovaganza di tahun 1999. Karya ini kemudian di rekam bersama komposi-komposisi lain yang dibuat oleh Djaduk Ferianto dalam album Ritus Swara (2000).
 
Pada pementasan Kua Etnika, Vertigong, Mei 2008 lalu di Graha Bhakti Budaya, TIM. Ia menumpahkan semua pengalaman musikalnya. Mengolah spirit jazz, yang ia dapat selama berproses dan tampil bersama musisi jazz seperti Aminoto Kosim di JakJazz, dan kelompok jazz Pata Master dari Jerman.
 
Dalam jazz, ia menemukan ruang dialog musikal yang sangat personal. “Jazz itu personalitas, artinya, ada eksplorasi dan ekspresi personal, sampai pada titik Jumbuh, bersinergi dengan harmoni. Yang dalam Jawa hal seperti itu sering di sebut sebagai proses menemukan sejatining diri. Itulah titik temu yang saya gunakan ketika mencoba mempertautkan kejawaan saya dan jazz”,”ujarnya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Purwanto
 
Lahir :
Gunung Kidul, Yogyakarta,
12 Januari 1967
 
Pendidikan :
SMKI (Sekolah Menempuh Karawitan Indonesia),
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
 
Kegiatan :
Pendiri Pusat Latihan Karawitan (PLK) Yogyakarta bersama Otok Bima Sidharta
(1988),
Aktif di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo,
Aktif di Teater Gandrik,
Aktif di Kua Etnika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *