R.A Kosasih

Nama :
Raden Ahmad Kosasih
 
Lahir :
Bondongan, Bogor,
Jawa Barat , 1919
 
Wafat :
Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, 24 Juli 2012
 
Pendidikan :
Inlands School 1932, Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan
 
Karir :
Penulis Komik,
juru gambar di Departemen Pertanian Bogor,
Komikus di harian Pedoman Bandung
 
Karya :
Sri Asih (1954),
Siti Gahara,
Sri Dewi,
Mahabrata,
Ramayana,
Pandawa Seda,
Bharatayudha,
Raden Parikesit,
Srikandi
 


Komikus
RA Kosasih
 
 
Dikenal sebagai pelopor komik Indonesia. Lahir di desa Bondongan, Bogor, Jawa Barat, sebagai bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya R. Wiradikusuma, seorang pedagang dari Purwakarta, sedang ibunya, Sumami, perempuan Bogor. Minat menggambar Kosasih datang tanpa sengaja. Ketika kelas satu Inlands Scholl, Bogor, ia acap menunggu ibunya berbelanja. Disaat membantu membongkari belanjaan sang ibu itulah, matanya menangkap komik Tarzan dari potongan-potongan koran bungkus belanjaan.
 
Ia pun menjadi penikmat komik itu, meski dengan cerita yang tentu, tak berurutan. Lulus dari Inlands School 1932, ia melanjutkan ke Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan. Di sinilah ia mulai tertarik pada seni menggambar secara formal, karena, ilustrasi pada buku pelajaran bahasa Belanda bagus. Buku catatannya banyak yang cepat habis karena ia gambari. Selepas HIS ia tak meneruskan sekolah, meski kesempatan menjadi pamong praja menunggunya. Masa menganggur itu ia puaskan dengan menggambar dan menonton wayang golek.
 
Ia selalu pulang pagi, terutama jika lakonnya Arjuna, Bima, atau Gatotkaca. Karena kerapnya, ia sampai hapal semua cerita wayang, juga gaya para pedalang. Ia selalu mendapat ide, jika cerita itu dipersingkat tapi tetap berbobot. Tapi, ide itu hanya sebatas ide. Tahun 1939, ia melamar sebagai juru gambar di Departemen Pertanian Bogor, ia pun menjadi penggambar hewan dan tumbuhan. Seringkali ia menggambar serangga yang ia harus lihat dulu di bawah mikroskop. Gajinya cukup, meski tak mewah. Ketika Jepang masuk, kehidupannya menderita. Kebahagiaanya cuma satu, ia mendapatkan komik Flash Gordon.
 
Setelah merdeka, ia melihat banyak peluang di koran-koran. Tahun 1953, ia melamar kerja sebagai komikus di harian Pedoman Bandung, ia masuk malam, karena siang masih bekerja di Departemen pertanian. Serial pertamanya lahir, Sri Asih (1954), superhero wanita. Ide itu terinspirasi oleh komik Wonder Women. Sri Asih dicetak 3000 eksemplar, langsung tandas. Ia mendapat honor Rp 4.000,- sebulan. Padahal, gajinya sebagai pegawai Rp. 150,-. Kesuksesan Sri Asih melecut semangatnya. Ia pun membuat serial kedua, Siti Gahara. Yang pertama pendekar wanita berbusana wayang, yang kedua berbusana Aladin. Juga laku keras. Semangatnya kian membara. Imajinasinya tambah liar. Ia melahirkan kembali serial sejenis, Sri Dewi. Hebatnya, ia bahkan melahirkan edisi Sri Dewi Kontra Dewi Sputnik.
 
Tahun 1955, ia keluar dari Departemen Pertanian karena kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. Order menggambar terus mengalir. Tapi, kenikmatan ijaminasi itu hanya berlangsung sepuluh tahun. Ketika Lekra berkuasa, komiknya dikecam karena mengandung unsur kebarat-baratan. Pihak Lekra malah membombardir pasar dengan komik keluaran RRC.
 
Tiras komiknya turun drastis. Ia sedih, tapi tak menyerah. Merasa tertantang, Ia bergerak ke wayang. Komik Mundinglaya Dikusuma dan Ganesha Bangun pun lahir. Namun, komik Burisrawa Gandrung dan Burisrawa Merindukan Bulan yang laris. Pasar kembali ia kuasai. Ketika meminjam buku di Perpustakaan Bogor, matanya melahap Bhagawat Gita terjemahan Balai Pustaka. Ide baru pun muncul. Kepada penerbit Melodi, ia katakan ingin mengomikkan wayang dari versi asli. Segera Ramayana dan Mahabrata lahir. Hasilnya, luar biasa, mungkin rekor yang belum terpecahkan sampai saat ini.
 
Dalam sebulan, satu seri komiknya dapat terjual 30 ribu eksemplar. Komikus lain pun terjun bebas mengikuti jejaknya. Tapi, trademark-nya tak tertandingi. Untuk tetap pegang pasar, ia terus berimprovisasi. Ia juga melahirkan superhero wanita lain, Cempaka, wanita berbaju loreng, kekar dan tinggi seksi, yang terinspirasi komik Tarzan. Sayang, perubahan manajemen Melodi membuat komiknya tak lagi diperpanjang, hanya mengandalkan cetak ulang. Tahun 1964, ia pindah ke Jakarta, bekerja untuk Lokajaya. Tapi, masa keemasan komik mulai pudar. Serial Kala Hitam dan Setan Cebol hanya laku 2000 eksemplar. Tahun, 1968, kesehatannya memburuk, ia pun istirahat setahun penuh dan kembali ke Bogor.
 
Tahun 70-an, penerbit Maranatha Bandung memintanya menulis ulang Mahabrata. Tapi lucunya, karya ulang itu tak sama dengan yang pertama. Ia dinilai gagal. Jika menggambar ia mengikutkan suasana hati. Jadi, kadang menjadi berbeda sama sekali. Memasuki tahun 1980-an, komiknya hanya beredar terbatas. Komik asing yang masuk, juga maraknya era komik silat Jan Mintaraga, Djairi dan Ganesh TH ikut memurukkannya.
 
Mulai 1985, pionir komikus wayang ini praktis dilupakan. Namanya hanya hadir dalam seminar dan sejarah komik. Orang bahkan jarang tahu, dengan tubuh renta ia masih acap duduk, sendiri, di meja gambarnya, berteman kalkir dan tinta cina, dan menggambar dengan jari yang gemetar. Ia masih beraksi, sendiri, di paviliun mungil di jalan Pahlawan Bogor, seakan diminta menjadi saksi, zaman yang mengogahi seni tradisi. Disadari atau tidak, karyanya medapat pengaruh dari beberapa komik Amerika Serikat terdahulu. Namun ia tidak menjiplak. Ia menjadikan komik Amerika sebagai inspirasi untuk melahirkan sosok baru jagoan wanita asal Indonesia.  
 
Karya-karyanya memenuhi rak-rak perpustakaan besar Amerika Serikat, termasuk Library of Congress (Washington DC), perpustakaan terbesar di dunia yang. Karya-karyanya juga tersusun rapih di University of California, Berkeley. Namun karyanya yang paling lengkap tersimpan lengkap di Cornell University at Ithaca (New York) dan di Ohio University at Athens (Ohio). Diperpustakaan Cornell University at Ithaca (New York) dan di Ohio University at Athens (Ohio) ini, karya-karyanya berada di jajaran koleksi studi Asia Tenggara, namun oleh pihak perpustakaan karya-karya itu disejajarkan dengan beberapa komik klasik Amerika yang menjadi tonggak sejarah komik dunia, yakni Edgar’s Rice Burrough’s Tarzan karya Hal Foster dan Buck Rogers karya John Dillie dan Dick Calkins.
 
Pada Hari Selasa dini hari, pukul 01.00 wib, 24 Juli 2012, R.A Kosasih wafat dalam usia 93 tahun karena sakit Jantung dirumahnya di daerah Rempoa, Ciputat Tangerang, Selatan, Banten. Komikus yang berhenti berkarya tahun 1993 ini sempat dirawat di RS Bintaro. Disemayamkan di rumah duka, jalan Cempaka Putih III, No. 2, Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, diatas makam istrinya Lilik Karsilah yang telah wafat pada tahun 2004. Meninggalkan seorang anak Yudhowati.
 
 (Dari  Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *