Rachmi D. larasati

Nama :
Rachmi Diyah Larasati
 
Lahir :
Malang Jawa Timur,
 30 Oktober 1968
 
Pendidikan :
Institut Seni Indonesia Yogyakarta (1991),
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1997),
Intercultural Performance and Exchange Program
(1998),
University of California Los Angeles, Amerika Serikat
(2000),
University California Riverside, Amerika Serikat ( 2006)
 
Aktifitas Lain:
Asisten Profesor di universitas Minnesota Departemen Seni Teater dan Tari

Seniman Tari
Rachmi D. Larasati
 
 
 
Sebagai penari dan akademisi, ia tak hanya mengamati dan meneliti, tetapi juga menyelami berbagai kisah tentang tubuh perempuan menari melalui pengalamannya sendiri ketika menari. Menurutnya tubuh tari sering menjadi medan kontestasi, dimana identitas di dalamnya dibentuk dan diformulasikan. Namun, masyarakat pasca kolonialisme sering kali menghubungkan tubuh tari dengan identitas etnik atau nasional, dengan acap kali menanggalkan kesejarahan.
 
Ia menganalisa bagaimana rekonstruksi kultural pasca 1965 berfungsi sebagai bentuk dominasi untuk melakukan kontrol terhadap identitas kultural perempuan dan bagaimana semua itu direfleksikan dalam pertunjukan seni di Indonesia. Narasi untuk tarian dari Indonesia, seperti tarian keraton, tarian etnik adalah simbol harmoni. Kegigihannya dalam membongkar pemaknaan atas tubuh yang menari berangkat dari perjalanan yang sangat panjang, jauh ke belakang. Menurutnya, negara sangat berperan dalam membentuk politik identitas dan bagaimana bentuk-bentuk itu dikonfigurasikan ulang secara aktif dalam proses pertukaran budaya dan pariwisata. Dari situ dapat dipahami bagaimana kategorisasi tari berada di dalam pendekatan global yang baru untuk mematerialkan kebudayaan.
 
“Pembinaan penari perlu dilakukan sampai ke desa-desa. Ini bisa disebut nasionalisasi karena ada standar artistik dan estetik yang dibakukan,” ujarnya. Sertifikasi penari adalah upaya pemetaan kontrol ke tubuh. Analisanya jangan dibaca sebagai ajakan untuk kembali kepada yang orisinal, juga bukan untuk menyatakan secara tidak langsung bahwa sebelum tahun 1965 bentuk-bentuk seni adalah otentik, murni, ritualistik, egalitarian dan orisinil, belum dipolitisasi oleh partai-partai politik. 
 
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *