Rano Karno

Nama :
Rano Karno
 
Lahir :
Jakarta, 8 Oktober 1960
 
Pendidikan :
SD,
SMP,
SMA,
Kursus Akting di Hollywood,
Los Angeles, Amerika Serikat
 
Aktifitas Lain :
Wakil Bupati  Tangerang,  Banten (2008-2011),
Wakil Gubernur Banten
 (2012-2017)
 
Filmografi :
Lewat Tengah Malam (1971),
Malin Kundang (1972),
Si Doel Anak Betawi (1973),
Rio Anakku (1973),
Di Mana Kau Ibu ? (1973),
Romi dan Juli (1974),
Si Rano (1974),
Sebelum Usia 17 (1975),
Jangan Biarkan Mereka Lapar (1975),
Wajah Tiga Perempuan (1976),
Suci Sang Primadota (1977),
Semau Gue (1978),
Gita Cinta dari SMA (1979),
Musim Bercinta (1980),
Detik-Detik Cinta Menyentuh (1981),
Yang (1984),
Ranjau-Ranjau Cinta (1985),
Macan Kampus (1986),
Arini I (1987),
Arini II (1989),
Taksi (1990),
Taxi Juga (1991),
Kuberikan Segalanya (1992, Satu Jam Saja (Skenario, 2010)
 
Sinetron :
Si Doel Anak Sekolahan (I-–V)
Kembang Ilalang,
Erte Erwe (1995),
S.A.R (1996)
 
Pencapaian :
Aktor Harapan I PWI Jaya di Surabaya (1974),
The Best Child Actor pada Festival Film Asia di Taipei, Taiwan (1974),
Aktor Terbaik FFI dalam film Taksi (1991)
Hadiah Surjosoemanto dari BP2N (1997)


Seniman Film
Rano Karno
 
 
Cerdas dan kritis dalam menganalisa perwatakan yang diberikan sutradara film kepadanya. Tapi ia juga punya banyak kemauan. Selain film, ia ingin mengarang novel pop kendati tidak ahli. Karirnya dimulai lewat peranan kecil dalam film Lewat Tengah Malam (1971), Malin Kundang (1971). Namanya menjadi terkenal lewat film Si Doel Anak Betawi (1972) karya skenario Sjumandjaja dari cerita Aman Datoek Madjoindo. Ia bermain sebagai pemeran utama. Film-filmnya yang lain, Dimana Kau Ibu ? (1973), Si Rano (1974), Sebelum Usia 17 (1975).
 
Lewat film Rio Anakku (1973) ia memperoleh penghargaan Aktor Harapan I PWI Jaya tahun 1974 di Surabaya. Dalam Festival Film Asia 1974 di Taipei, Taiwan, ia meraih hadiah The Best Child Actor. Selanjutnya ia mendapat Peranan-peranan dewasa lewat film Wajah Tiga Perempuan (1976), Suci Sang Primadona (1977), Gita Cinta dari SMA (1979). Ayahnya, Soekarno M. Noor, pernah mengatakan bahwa suatu saat, jutaan orang yang pernah memuji anaknya akan berbalik memaki.
 
Di tahun 1974 ia dipergunjingkan pers sebagai ada main dengan anak perempuan sebayanya. Lalu dalam sebuah penerbitan dikecam agak keras dan dituduh mulai besar kepala. Mulai saat itu ia yang dalam banyak filmnya berpasangan dengan aktris film Yessi Gusman mulai berhati-hati dengan para wartawan. Sekalipun serangan-serangan itu tidak menyurutkan niatnya meneruskan karir sebagai pemain film.
 
Apa sebabnya, ia tak tahu, ”pokoknya main film senang”, ujarnya. Acaranya setiap hari cukup padat. Bangun pagi jam 5.30. Kembali paling cepat jam 7 malam. Kalau ada waktu lowong ia main Ice Skating, bersama saudara-saudara kandung, anak tetangga atau bintang film cilik lain. Kalau sudah terlalu lelah ia membenamkan diri di ruangan The Karnos, sebuah diskotik lengkap berdampingan dengan ruang tamu rumahnya. Tahun 1974, penghasilannya bermain film bisa mencapai Rp. 2,1 Juta untuk satu film.
Menurutnya, para produser di Indonesia saat ini dikendalikan oleh telivisi yang mengejar rating, seperti memberi syarat tertentu seperti ada unsur mistik, seks, dan lainnya, ketika ditanyakan tentang perkembangan film dewasa ini.
Ia mengungkapkan bahwa meskipun sebuah film yang mutunya bagus dengan misi membangun karakter bangsa, tapi kalau film tersebut tidak menarik iklan, maka pihak televisi serta-merta menghentikan penayangannya tanpa memperdulikan kerugian produser. “Produser biasanya tidak berkutik jika pihak televisi secara sepihak menghentikan penayangan sebuah serial sinetron akibat tidak menarik iklan setelah dua-tiga episode. Dan jika pihak produser protes atau mempersoalkan, maka produser bersangkutan dicampakkan begitu saja oleh pihak stasiun TV”, ujar Bang Doel. “Meski begitu, katanya, para produser memiliki peluang luas untuk berkreasi dengan munculnya banyak televisi swasta, kendati di sisi lain tantangannya luar biasa berat, terutama dalam misi membangun karakter bangsa”, lanjutnya.
Kendati banyak bermunculan nama baru di bidang seni peran, namun nama Rano Karno hingga kini masih tak tergoyahkan. Kecintaannya yang luar biasa pada dunia akting, merupakan kunci keberhasilannya. Belakangan, rupanya ia tidak hanya jago beraksi di depan kamera. Sejumlah sinetron pernah lahir dari tangan dinginnya. Melalui perusahaannya, PT Karnos Film, lahirlah sinetron Si Doel Anak Sekolah, serta sinetron Kembang Ilalang.
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *