Raspi

Nama :
Raspi
 
Pencapaian :
Penghargaan dari Taman Mini Indonesia Indah (1997) Penghargaan dari Gubernur Jawa Barat (2007),
 Mendapat bantuan dana pembuatan pedepokan seni Rp 200 juta dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat (2009)
 
 
 

Maestro Tari Ronggeng Gunung
Raspi
 
 
Ia adalah maestro tari Ronggeng Gunung asal Cikukang, Desa Ciulu, Kecamatan Banjar Sari, Ciamis, Jawa Barat. Ronggeng Gunung itu sendiri adalah tarian khas dari Ciamis, Jawa Barat. Konon, tarian ini muncul atas nama cinta dan dendam Dewi Siti Samboja, putri ke-38 Prabu Siliwangi, karena kekasihnya, Raden Anggalarang, tewas di tangan perompak. Namun, perlahan dendam itu berubah menjadi ungkapan syukur masyarakat pegunungan Ciamis, Jawa Barat atas hasil ladang dan sawah.
 
Ronggeng Gunung sendiri dapat dikatakan berbeda dengan jenis tarian sunda lainnya yang cenderung mengolah gerakan kepala, tangan dan badan. Tarian Ronggeng Gunung lebih menumpukan gerakan pada kaki yang harus seirama, bergerak melingkari Nyi Ronggeng sebagai porosnya dengan pola langkah tertentu. Sedangkan gerakan tangan atau tubuh lainnya cenderung bebas. Ronggeng Gunung dalam penyajiannya di bedakan menjadi dua fungsi apakah tergolong tari untuk hiburan atau adat. Ronggeng upacara adat biasanya dibawakan dengan pakem tertentu, seperti pentingnya tata urutan lagu. Sedangkan ronggeng untuk hiburan biasanya lebih fleksibel karena tidak ada pakem urutan lagu.
 
Kecintaannya kepada Ronggeng Gunung tersebut tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak kecil. Ia mempelajarinya secara tidak sengaja saat kabur dari rumah karena hendak dinikahkan saat berusia 13 tahun. Guru pertamanya adalah Maja Kabun dari Padaherang, Ciamis, Jawa Barat. Ia mengakui tidak mudah mempelajari Ronggeng Gunung. Ronggeng wajib memiliki fisik kuat. Alasannya, ronggeng harus memiliki kemampuan olah vokal dalam nada tinggi sekaligus menari dalam waktu yang lama. Ronggeng Gunung biasanya dipentaskan 2 jam hingga 12 jam per pertunjukan. Dalam satu pertunjukan biasanya ada enam hingga delapan lagu yang dibawakan antara lain ‘Kudup Turi’, ’Sisigaran Golewang’, ‘Raja Pulang’, ‘Onday’, ‘Kawungan’, ‘Parut’ dan ‘Trondol’. Mayoritas bertema kerinduan kepada kekasih dan sindiran kepada perompak pembunuh Anggalarang.
 
Menurutnya, tari ini sempat menemukan masa emasnya pada 1970-1980. Saat itu, ia selalu kewalahan memenuhi panggilan pentas. Akan tetapi, masuk tahun 1990-an Ronggeng Gunung perlahan tenggelam di tengah gemerlap kehidupan modern. Banyak penari ronggeng dan pemusiknya pensiun karena tidak ada lagi yang mengundang mereka. Puncaknya, Raspi bersama lingkung seni ‘Panggugah Rasa’ satu-satu kelompok Ronggeng Gunung yang bertahan paling banyak hanya sekali pentas dalam tiga bulan selama tahun 2010. Biasanya panggilan tampil ada saat bulan haji atau Syawal sebagai pengisi acara syukuran atau ruwatan.
 
Kini, keberadaan Ronggeng Gunung pun terancam tak berbekas. Fakta bahwa Raspi adalah maestro Ronggeng Gunung terakhir membuktikan jika kesenian ini rentan menambah daftar merah kesenian rakyat yang terancam punah di Jabar. Sekarang ia mencoba meneruskan tarian ini kepada Nani Nurhayati, anak kandungnya. Berkat ketekunannya dalam mempertahankan akar Ronggeng Gunung, Ia berhasil mendapat penghargaan dari Taman Mini Indonesia Indah tahun 1997 dan penghargaan dari Gubernur Jawa Barat 10 tahun kemudian. Yang teranyar adalah bantuan dana pembuatan pedepokan seni Rp 200 juta dari Pemerintah Propinsi  Jawa Barat tahun 2009.
 
Kini di masa tuanya, istri dari Dahlan ini, masih menyimpan harapan. Ke depannya, ia berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik mementaskan dan mempelajari Ronggeng Gunung sebagai warisan tradisional bangsa. Ia ingin menjaga Ronggeng Gunung tetap dikenal masyarakat sekaligus memberikan suntikan semangat kepada generasi muda bahwa ronggeng gunung juga bisa diandalkan membiayai kebutuhan hidup.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *