Rina Hasyim

Aktris Film
Rina Hasyim
 
 
 
Dibesarkan di keluarga yang sangat disiplin dan tegas dalam menjalankan aturan-aturan. Ibunya yang asli Manado, mendidiknya menjadi wanita yang mandiri yang kelak tidak bergantung pada suami. Sang ibu mendidiknya dengan aturan yang ketat. “Kalau tidak perlu benar, ibu melarangku bermain di luar rumah. Pulang sekolah, aku harus melakukan rutinitas yang ditetapkan oleh ibu. Bersih-bersih rumah dan tidur siang. Sorenya aku sudah harus mandi. Sambil menunggu makan malam yang disiapkan ibu, aku membuka buku pelajaran. Begitu setiap harinya rutinitas yang kulakukan. Terkadang hal itu membuatku jenuh,” kenangnya.
 
Padahal sebagai remaja, rasa ingin tahu dan mencoba segala hal sangatlah besar. Untuk menghilangkan rasa bosan, ia banyak melakukan aktivitas di luar rumah secara diam-diam. Ia pernah masuk klub volley Mahesa di Makassar hanya agar bisa bermain dengan teman-teman. Ia juga menjadi pemain band di grup Dara Kusumah dan kemudian Diskonit sebagai pemain bass. Sebagai remaja ia termasuk tipe pemberontak. Ketika di Makassar, saat mode rok mini belum populer, ia sudah mengenakannya. Alhasil, ibunya marah besar dan menghukumnya.
 
Tamat SMA di Makassar tahun 1968, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Tujuannya adalah untuk bekerja. Di kota metropolitan itu, ia tinggal di tempat bibinya dan mendapat pekerjaan di sebuah kantor biro perjalanan, Jakarta Tour. Waktu itu belum terpikir olehnya untuk menjadi bintang film. Hanya saja, ketika masih di Makassar, ia sempat mengidolakan Rima Melati yang kala itu sudah menjadi peragawati ternama. “Rima-lah yang mengajakku masuk Indonesia Model Agency (IMA), pimpinan ibunya sendiri, Non Kawilarang. Dari sinilah kemudian aku mencoba terjun menjadi model,”
 
Meski sudah jadi model, ia tetap bekerja di kantor. Teman-teman sekantornya sudah sering melihat wajah Rina di berbagai sampul majalah. Dari sekian banyak teman di kantor Rina, ada seorang laki-laki bernama Mochtar. Dialah secara iseng menganjurkannya mencoba menggeluti dunia film. Kebetulan Mochtar kenal dengan Turino Junaidi dari Sarinande Film.
 
Ajakan iseng Mochtar itu ia tanggapi serius. Pada dasarnya ia ingin mengetahui seperti apa rasanya main film. Tanpa kuduga, sepulang dari kantor, di rumah tantenya sudah hadir Turino Junaidi bersama asistennya, Bay Isbahi. Pertama bertemu dengannya, Turino langsung tertarik. “Prosesnya begitu cepat. Seperti mimpi saja”.
 
Diterima membintangi film karya Turino yang berjudul ‘Orang-orang Liar’. Tahun 1969, menikah dengan pegawai TVRI bernama Chris Pattikawa. Setahun kemudian lahirlah anak pertama mereka, Jean Pattikawa. Ketika Jean masih berumur satu bulan, dan memberikan ASI untuknya, ia bertemu dengan Nawi Ismail, sutradara terkenal. Dia tertarik melihat dan mengajaknya untuk bermain dalam film ‘Si Pitung’. Film tersebut merupakan tonggak totalitasnya dalam dunia film.
 
Sudah ratusan judul film yang ia bintangi hingga saat ini.. Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun menekuni dunia film, namun ia jarang diterpa gosip meskipun dekat dengan wartawan. Kalaupun ia sekarang dalam kondisi pisah ranjang dengan suaminya, Chris Pattikawa, itu lebih disebabkan kepada kekerasan wataknya yang memang sulit diatur. Sampai sekarang hubungan mereka masih baik-baik saja.
 
(Dari Berbagai Sumber) 

Nama :
Rineke Antoinette Hassyim
 
Lahir :
Makassar,
Sulawesi Selatan,
29 April 1957
 
Pendidikan :
SMU di Makassar (1968)
 
Filmografi :
Mlam Minggu Miko (2014),
Mengejar Malam Pertama (2014),
Godan Perempuan Halus (1993),
Misteri Dari Gunung Merapi (1990),
Secangkir Kopi Pahit (1985),
Mereka Memang Ada (1980),
Pembalasan Si Pitung (1977),
Si Pitung Beraksi Kembali (1976),
Si Pitung (1975) 
 
Serial TV :
Putri Duyung (2001)
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *