Riri Riza

Nama :
Muhammad Rivai Riza
 
Lahir :
Makassar, Sulawesi Selatan,
 2 Oktober 1970Pendidikan :
Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (1993),
Media Arts Department, Royal Holloway University, London, Inggris (2001)
 
Filmografi :
Kuldesak (1994),
Siulan Bambu Toraja (1995),
Kupu-Kupu di Atas Batikku (1995),
 Nafas Batu Merapi (1996)
 Mata Ketiga (1997)
 film televisi Buku Catatanku (1997),
Sinetron Kupu-Kupu Ungu,
episode Emilia,
 AIDS (1998),
 Kuldesak (1998),
 Petualangan Sherina (2000),
 Ada Apa dengan Cinta (2002),
 Eliana, Eliana (2002),
Gie (2005),
Untuk Rena (2005),
3 Hari Untuk Selamanya (2007),
Laskar Pelangi (2008),
Sang Pemimpi (2009),
Atambua 39⁰ Celcius (2012),
Sokola Rimba (2013),
Pendekar Tongkat Emas (Produser, 2014)Pencapaian :
Best Young Cinema dan penghargaan khusus dari juri Networking for Promoting Asian Cinema dan Federation of International Film Critics, pada Festival Film Internasional di Singapura, untuk film Eliana, Eliana (2002),
Film Terbaik Festival Film International di London Untuk film 3 Hari Untuk Selamanya (2007),
Sutradara Terbaik di The 35th Brussels International Independent Film Festival (Belgia) untuk film 3 Hari Untuk Selamanya (2008),
Sutradara Terpuji Festival Film Bandung (2009),
Film Laskar pelangi meraih predikat film terbaik di Festival Film Terbaik Asia Pasifik ke-3 di Kaohsiung, Taiwan (2009),
Film Laskar Pelangi meraih Butterfly award pada Festival Film for Children & Young Adults di Hamedan, Iran (2009),
Film Atambua 39⁰ Celcius mendapat penghargaan sebagai film terbaik pilihan Institut National des Langues et Civilisations Orientales di Festival Film International des Cinemas d’Asia Vesoul, Perancis (2013),
Penulis Skenario Adaptasi Terbaik Festival Film Indonesia 2014      

Sutradara Film
 Riri Riza
 
 
Waktu masih SMA, ia lebih dikenal sebagai anak band. Itu lantaran sejak SMP ia memang punya hobi bermain musik. Makanya, selulusnya dari SMA, ia kemudian berkeinginan melanjutkan kuliah di Jurusan Musik Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tapi entah kenapa, begitu tahu di sana ada jurusan film penyuka fotografi ini, malah lebih tertarik untuk memasuki jurusan film.
 
Ketertarikannya terhadap dunia film bukan tanpa alasan. Sejak kecil, boleh dibilang ia sudah akrab dengan hal-hal berbau film. Ayahnya, seorang pejabat di Departemen Penerangan di era Orde Baru, sering mengajaknya ke pelosok-pelosok daerah untuk memutar film pembangunan. Menurut pria berkacamata minus itu, keliling pelosok tersebut menjadi hiburannya ketika ia anak-anak. Berkat ketekunannya dalam belajar, ia tercatat sebagai mahasiswa paling menonjol di kampusnya.
 
Ia juga menjadi lulusan terbaik IKJ untuk angkatannya. Selain itu, berkat ketekunannya pula, sejumlah prestasi di bidang film diraihnya. Film perdananya (setelah ia lulus dari IKJ) ‘Sonata Kampung Bata’ memenangkan suatu penghargaan dalam Festival Film di Jerman. Atas prestasinya itu, ia diundang ke Jerman, dan itu sekaligus menjadi pengalaman pertamanya jalan-jalan ke luar negeri. Sepulangnya dari Jerman, debut Riri dalam dunia sinematografi seolah tak terbendung. Ia terlibat dalam pembuatan sejumlah film baik film pendek, film dokumenter, film televisi, sinetron, ataupun film layar lebar.
 
Ia juga sempat bertindak sebagai sutradara, penulis skenario dan produser. Meski begitu, ia lebih tertarik untuk berkonsentrasi di bidang penulisan skenario. Itu pula yang didalaminya ketika ia mendapat beasiswa untuk kuliah program master di Inggris, mengambil bidang penulisan skenario film di Royal Holloway University, London (2001). Yang jelas, dunia film kini telah menjadi pilihan hidupnya. Baginya, dunia film bukan cuma sekadar ajang mencari sesuap nasi tapi alat perjuangan.
 
Lewat film, pria bertampang baby face itu ingin mengangkat persoalan hidup yang berkembang di masyarakat, sehingga masyarakat akan terbuka mata hatinya. Untuk jangka panjang, ia ingin membuka sekolah penulisan skenario film. Dan untuk jangka pendeknya, ia ingin membuat film tentang kehidupan pasar tradisional di Indonesia, karena menurut, di pasar itu kita bisa melihat karakter manusia yang sebenarnya. Barangkali, di sanalah tempat hidup yang sesungguhnya, tambah pria yang punya hobi mengisi waktu luangnya dengan jalan-jalan ke pasar tradisional itu.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *