Rizal Mantovani

Nama :
Rizal Mantovani
 
Lahir :
Jakarta, 12 Agustus 1967
 
Pendidikan :
SMA (Overseas Children’s School) Srilanka,
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti, Jakarta
 
Pencapaian :
Sutradara terbaik bersama Richard Buntario Video Musik Indonesia 1995 melalui video musik Cuma Khayalan yang dinyanyikan oleh
 Oppie Andaresta,
MTV Asia Viewers Choice Award pada MTV Music Awards 1995 dalam video musik Sambutlah yang dinyanyikan oleh Denada,
Sutrdara Terpuji Festival Film Bandung melalui film 5 cm (2013)
 
Filmografi :
Demona (Sutradara dan Produser, 2015)
Wewe (2015),
Supernova (2014),
Crush (2014),
Princess, Bajak Laut dan Alien (Sutradara, 2014),
5 cm (2013)
Air Terjun Pengantin Phuket (Special Design, 2013) 
Pupus (2011),
Jenglot Pantai Selatan (2011),
Cewek Gokil  (2011),
Air Terjun Pengantin (2009),
Kesurupan (2008),
Ada Kamu, Aku Ada (2008),
Kuntilanak 3 (2008),
Kuntilanak 2 (2007),
Kuntilanak (2006),
Jatuh Cinta Lagi (2006),
The Uninvited,
The Well,
Jelangkung (2001),
Kuldesak (1999)
 
Sinetron :
Satu Atap (1996)
Gen-X (1997),
Suka-Sukaku
 
Video Musik :
Suka-Sukaku
Kuingin Kembali
Cuma Khayalan
Tanpa Kekasih
Tak Ada Logika

Sutradara Film
Rizal Mantovani
 
Dikenal sebagai sutradara video klip dan film layar lebar. Putra dari pasangan Mohamad Saleh, seorang diplomat, dan Widji Andarini ini lahir di Jakarta, 12 Agustus 1967. Sebagai anak diplomat, ia hidup berpindah-pindah di beberapa negara tempat orang tuannya bertugas.
Perkenalan pertamanya dengan video musik terjadi saat duduk di kelas 2 SMA (Overseas Children’s School) di Srilangka, negara tempat ayahnya bertugas tahun 1983. Saat itu temannya, Eddy Setiawan, memiliki kamera home video keluaran terbaru. Karena sama-sama mengidolakan grup musik Duran-Duran, muncul keinginan membuat video musik. Kebetulan salah satu video musik Duran-Duran berlokasi di Srilangka. Ada dua lagu Duran-Duran yang mereka garap, Lonely in Your Nightmare dan Hungry Like The Wolf. Aksi mereka yang cuma berjalan-jalan direkam dalam pita kaset Betamax, setelah selesai, mereka mengeditnya secara manual, dari VHS ke VHS.
Setamat SMA, ia kembali ke Jakarta dan meneruskan pendidikannya di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti, Jakarta. Sayangnya sang ayah, wafat saat dirinya menginjak tingkat dua. Untuk menambah biaya kuliah, ia mengerjakan poster-poster komikal di toko komik DEHA di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Pada tahun 1991, Edward Buntario, art director di Creative Concepts, sebuah perusahaan periklanan di Jakarta, tertarik dengan poster-poster buatannya. Edward mengenalkannya kepada Richard Buntario yang akhirnya mengajak bergabung.
Awalnya ia bertugas membuat story board untuk keperluan iklan di Creative Concepts. Setahun kemudian, ia ikut bergabung dengan rumah produksi Broadcast Design Indonesia (BDI) yang didirikan oleh Richard Buntario. Selain membuat iklan, BDI juga membuat acara televisi. Ia pun akhirnya menjadi sebagai asisten Richard Buntario dan dilibatkan dalam penggarapan acara Bursa Komedi untuk salah satu TV swasta nasional.
Tak hanya puas sampai di situ, ia kemudian merambah ke dunia pembuatan video musik. Karena menurutnya video musik saat itu (tahun 1990-an) membosankan dan kurang berwarna. Tawaran pertama datang untuk membuat video musik dangdut ‘Suka-Sukaku’ yang dinyanyikan Helvy Mariyand. Indrawati Widjaja, direktur produksi Musica Studio kemudian menawarkan pembuatan video musik rapper Iwa K berjudul ‘Kuingin Kembali’. Ketika ditayangkan, video musik ini dianggap sebuah terobosan baru dalam industri musik Indonesia. Sejak saat itu BDI menerima banyak permintaan untuk pembuatan video musik yang dikerjakan Richard  Buntario bersamanya sebagai asisten. Kerja sama itu berbuah manis. Keduanya meraih gelar sutradara terbaik dalam ajang Video Musik Indonesia 1995 melalui video musik ‘Cuma Khayalan’ milik Oppie Andaresta. Duo ini semakin berkibar ketika meraih MTV Asia Viewers Choice Award dalam ajang MTV Music Awards pada 1995 berkat video musik ‘Sambutlah’ yang dibawakan Denada.
Tahun 1996, ia memutuskan untuk keluar dari BDI dan mendirikan rumah produksi Avant Garde Productions bersama rekan-rekannya. Selain tetap menggarap video musik, ia menciptakan sekaligus menyutradarai serial komedi situasi ‘Satu Atap’ (1996) dan ‘Gen-X’ (1997). Di tahun yang sama, Mira Lesmana menawarinya untuk menyutradarai film ‘Kuldesak’ bersama Riri Riza dan Nan T. Achnas. ‘Kuldesak’ meluncur ke pasaran tahun 1998 dan mampu mengobati kerinduan publik terhadap film Indonesia, yang makin sepi karena aturan pembuatan yang ketat dan biaya produksi yang mahal. Film ini juga di nominasikan untuk mendapat Silver Screen Award kategori Best Asian Feature Film pada Singapore International Film Festival tahun 1999.
Kesempatan membuat film kembali datang dari rumah produksi Rexinema. Ia mengajak Jose Poernomo untuk membantunya dalam penyutradaraan film ‘Jelangkung’. Skenario ditulisnya bersama Jose dengan scriptwriter Adi Nugroho. Cerita dalam film ini dikembangkan dari artikel yang pernah ditulisnya untuk majalah Neo. Pembuatan film dilakukan dengan menggunakan Betacam, kamera yang biasa dipakai untuk membuat video musik. Pertengahan Mei 2001 film selesai dibuat dan muncul keinginan untuk menayangkannya di bioskop, dengan pertimbangan film ini punya nilai sinematik yang beda dari sinetron, baik dari pendekatan visualnya maupun cara bertuturnya. Di luar dugaan, ‘Jelangkung’ menjadi film yang diburu penonton dan menjadi film nasional pertama yang diputar di empat layar sekaligus di beberapa bioskop karena jumlah penonton yang membludak.
Film ‘Jelangkung’ menjadi jalan baginya untuk merambah Hollywood. Bersama Jose Purnomo, sepanjang Februari-Maret 2002, menawarkan konsep modernisasi horor tradisional ke beberapa produser Hollywood. Usaha mereka berhasil. Michael Bay, sutradara dan produser film Armegeddon dan Pearl Harbour, menawarkan dua proyek, menggarap ulang ‘Jelangkung’ menjadi ‘The Uninvited’ (Yang Tak Diundang) untuk konsumsi penonton negeri Amerika Serikat serta pembuatan film ‘The Well’ (Sumur).
Tahun 2003, ia akhirnya memisahkan diri dari rumah produksi Avant Garde dan mendirikan Dreamscape. Hal ini dilakukannya agar memperoleh kebebasan dalam mengembangkan ide-idenya. Hal ini di buktikan dengan di garapnya film-film yang tidak melulu bergenre horror, tetapi lebih memfokuskan diri pada film drama anak muda. Misalnya dalam film ‘Satu Kecupan’ (2004, sebagai executive producer), ‘Jatuh Cinta Lagi’ (2006, sebagai Sutradara), serta ‘Ada Kamu, Aku Ada’ (2008).
(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *