S. Kardjono

Nama :
Surjadi Kardjono
 
Lahir :
Brontokusuman,
Wetan Beteng, Yogyakarta,
30 September 1940
 
Wafat :
Jakarta, 15 Juli 2004
 
Pendidikan :
Pendidikan Taman Siswa,
Perkumpulan Kesenian Tari dan Karawitan Krida Beksa Wirama Yogyakarta
 
Karya :
Mendut Pranacitra,
Klono Panca Tunggal,
Samgita Pancasona (1969),
Semar Boyong (1969),
Ngrenaswara (1972),
Wayang Orang Menak Cina (1973),
Langen Mandra Wanara dengan lakon Sugriwa Subali (1975),
Dewi Sri (1976),
Wiroguno (1976),
Joko Penjaring (1977),
Roro Jonggrang (1977),
Langen Beksa Tumenggung
Saijah dan Adinda
 

Seniman Tari
S. Kardjono
 
 
 
 
Tari-menari dan tetembangan rupanya sudah menjadi dunia kesehariannya sejak menghabiskan masa kanak-kanaknya di ndalem Wirogunan, Yogyakarta. Lingkungan sekitar rumah secara tak langsung telah ikut membentuknya sejak usia dini untuk menggemari tarian Jawa Klasik gaya Yogyakarta dan sekalian tetembangannya.
 
Belajar menari dengan pamannya sendiri yakni KRT Djojowinoto seorang penari keraton pemeran tokoh Ontorejo era pemerintahan Hamengku Buwono VII. Sejak tahun 1950 ia resmi menimba ilmu tari di Perkumpulan Kesenian Tari dan Karawitan Krida Beksa Wirama Yogyakarta. Gurunya pada waktu itu adalah mendiang Basuki Kuswaraga dan Gusti Pangeran Haryo Tedjokoesoema.
 
Menjadi penari istana mulai tahun 1955 sampai dengan tahun 1959. Di Yogyakarta dan selama kurun waktu itu pula ia sering ikut tampil di berbagai forum nasional dan internasional, sebelum akhirnya mulai tahun 1968 hijrah ke Jakarta. Setahun kemudian dan seiring dimulainya kegiatan di Taman Ismail Marzuki, ia mulai aktif menggiatkan seni tari bersama sejumlah seniman tangguh seperti Sardono W. Kusumo, Sentot Sudiarto, Farida Oetojo, I Wayan Diya, Huriah Adam, dll.
 
Menari dan menembang secara benar dan tertib terlebih dahulu untuk kemudian baru belajar tarian dan tetembangannya. Pedagogi inilah yang telah membawanya tekun dan teliti memperhatikan setiap detail gerak tari Jawa klasik gaya Yogyakarta yang menjadi keahliannya. Caranya mengajari para penari pria pemula untuk memperhatikan teknik tari jomplangan, yakni ketika dua kaki tidak boleh menapak bersama di tanah selain hanya saat berhenti menari. Ini gerakan sulit, karena membutuhkan keseimbangan tubuh yang sempurna. Inilah satu unsur gerak yang membedakan tarian Jawa gaya Yogyakarta dibandingkan gaya Surakarta. Ia lebih dikenal sebagai penari Jawa berlanggam Yogyakarta yang menularkan keahliannya kepada generasi baru di kota seperti Jakarta.
 
Mulai sakit-sakitan sejak tahun 2000. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan paru-parunya terserang jamur. Selain itu, ia juga mengidap diabetes mellitus. “Dalam keadaan sakit bapak masih datang ke IKJ untuk mengajar”, tutur Titi Juliasih istrinya. Pernyataan itu dibenarkan murid kesayangan S. Kardjono, Nungki Kusumastuti. “Kendati memakai asisten, beliau sudak tidak lagi bisa bergerak, beliau masih datang mengajar dengan memakai kursi roda”, ujar Nungki yang kini juga menjadi pengajar di IKJ.
 
Terakhir ia menulis kisah ‘Saijah dan Adinda’ dengan menggunakan pupuh sinom. Karya ini sempat dipentaskan keliling Belanda selama dua minggu pada bulan Maret 2004. Namun, ia tidak sempat menyertai pementasan itu ke Belanda karena sakit. Wafat di usia 64 tahun di rumah sakit Mediros Jakarta, dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Pondok Kelapa, Jakarta Timur, meninggalkan seorang istri, Titi Juliasih dan dua anak.
 
 
(Dari Berbagai sumber)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *