S. Sudjojono


Pelukis
S. Sudjojono
 
 
Pak Djon (panggilan akrabnya sehari-hari) lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, buruh perkebunan di Kisaran, Sumatera Utara. Namun sejak usia empat tahun, ia menjadi anak asuh. Yudhokusumo, seorang guru HIS, tempat Djon kecil sekolah, melihat kecerdasan dan bakatnya ia lalu mengangkatnya sebagai anak. Yudhokusumo, kemudian membawanya ke Batavia tahun 1925. Djon menamatkan HIS di Jakarta. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Yogyakarta.
 
Sempat kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pringadie selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta. Sebenarnya pada awalnya dia lebih mempersiapkan diri menjadi guru daripada pelukis. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, dia ditugaskan Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun pada tahun 1931.
 
Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa,  akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang memopulerkan namanya sebagai pelukis. Bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia) di tahun 1937. Sebuah serikat yang kemudian dianggap sebagai awal seni rupa modern Indonesia. Dia sempat menjadi sekretaris dan juru bicara Persagi.
 


Fragmen (1973), 69,5 x 91 cm

Selain piawai melukis, juga banyak menulis dan berceramah tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun memberinya predikat Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas.
 
Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang monumental antara lain berjudul Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go Meh, Pengungsi dan Seko.

 
Di tengah kesibukannya, dia rajin berolah raga. Bahkan pada masa mudanya, Djon tergabung dalam kesebelasan Indonesia Muda, sebagai kiri luar, bersama Maladi (bekas menteri penerangan dan olah raga) sebagai kiper dan Pelukis Rusli kanan luar.
 
Djon sejak tahun 1958 hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juga tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara profesional dan halal untuk mendapat uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan latihan membuat bentuk, warna dan komposisi. Ada beberapa karya pesanan yang dibanggakannya. Di antaranya, pesanan pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung melawan Jan Pieterszoon Coen, ditahun 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter, ini dipajang di Museum DKI Fatahillah.
 
Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970, ini sangat menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro lelang luar negeri. Bahkan setelah dia meninggal pada tanggal 25 Maret 1985 di Jakarta, karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat, antara lain di: Festival of Indonesia (USA, 1990-1992); Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994); Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN Masterworks (Selangor, KualaLumpur, Malaysia, 1997-1998).
 
(Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Nama:
Sindudarsono Sudjojono
Lahir:
Kisaran, Sumatera Utara,
14 Desember 1913
Wafat :
Jakarta, 25 Maret 1985
 
Pendidikan :
 SD (Jakarta),
 SMP (Bandung),
SMA Taman Siswa (Yogyakarta),
 Kursus Montir,
 Belajar melukis pada Pringadie dan Chioji YazakiKarir:
 Guru Taman Siswa di Rogojampi, Jawa Timur
(1930-1931),
 Mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia, Jakarta (1937),
 Mendirikan Seniman Muda Indonesia, Madiun (1946),
 Pelukis Profesional
 (1958-1985),
 Mendirikan Sanggar Pandanwangi

 Penghargaan:
Piagam Anugerah Seni (1970)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *