Said Effendi

Nama :
Tengku Nassarudin Said Effendi
 
Lahir :
Besuki, Jawa Timur,
6 Agustus 1923
 
Wafat :
Jakarta, 11 April 1983
 
Pendidikan :
Sekolah Menengah
 
Aktifitas Lain :
Pengurus Keanggotaan Kine Club di TIM, Jakarta
 
Karya :
Asmara Dewi (1948),
Bahtera Laju,
Lagu Rindu,
Timang-timang,
Asmara Dewi,
Potong Padi,
Hanya Nyanyian,
Fatwa Pujangga
 
Filmografi :
Titian serambut Dibelah Tujuh
 
Pencapaian :
Anugerah Dangdut TPI (1998),
Anugerah Seni dari PT Variapop (2004),
Anugerah Seni dari PWI (2004),
Nugraha Bhakti Musik Indonesia (2004),
Anugerah dari PARFI (2006),
Anugerah Seni dari Persatuan Seniman Malaysia (2006),
Anugerah Kebudayaan Kategori Pelestari dan pengembang Warisan Budaya dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (2014)

Seniman Musik
Said Effendi
 
 
Dikenal sebagai pelantun lagu-lagu melayu dan sekaligus pencipta lagu dalam genre musik melayu. Said Effendi menjadi pujaan khalayak sekitar tahun 1950-an, ketika irama Melayu-Deli merajai pasaran musik. Said Effendi menerima berkarung-karung surat dari penggemarnya. Ditahun 1960-an ia berhasil mengembalikan supremasi supremasi irama Melayu dari Malaysia ke Indonesia. 
 
Orang akan tertegun, jika mendengar suaranya berkumandang di radio atau piringan hitam, tinggi, lengking, dan padat, tanpa kehilangan kelenturannya. Terutama setelah menyanyikan lagu Seroja ciptaan Husein Bawafie, ia mengecap masa keemasan.
 
Sering disangka sebagai anak Medan apalagi menilik gaya bicaranya sehari-hari. Lahir di Besuki, Jawa Timur, dari suku Madura. Masa kecilnya terbilang suram. Baru berusia 6 tahun, ia telah ditinggal ibunya untuk selamanya. Ayahnya yang berusaha sebagai pedagang keliling sering meninggalkan rumahnya. Sekolahnya tak menentu. Suatu ketika ia bahkan dikeluarkan dari sekolah. Tapi sejak usia 5 tahun ia biasa bangun pagi, berangkat ke surau untuk melantunkan adzan.
 
Keluar-masuk sekolah, ia akhirnya ikut seorang kerabat menjadi nelayan. Tapi ayahnya tak senang. Dia diberi barang dagangan, disuruh berkeliling ke kampung-kampung. Dalam pengembaraan itulah ia  berjumpa dengan seseorang, yang menawarkan kepadanya untuk dididik menjadi penyanyi. Maka pada usia 13 tahun ditahun 1936, ia menjadi penyanyi orkes keroncong. Penghasilannya 1 gulden semalam, atau sama nilainya dengan 25 liter beras. Tapi setahun kemudian ia ditarik seorang pamannya ke Bondowoso, disuruh belajar lagi di Madrasah Al Irsyad. Di sana ia mendirikan klub musik. Sebuah medali emas 15 gram konon masih tergantung di madrasah itu, hasil kemenangan perkumpulan musik yang dipimpin Said dalam salah satu kontes stambul.
 
Sekolah itu ditutup Jepang karena berbau politik. Ia sempat memimpin rombongan musik ke Pontianak, Kalimantan Barat. Dari sana kembali ke Jakarta. ketika RRI mencari penyanyi untuk Orkes Studio Jakarta, dari 36 orang pelamar, dia salah seorang dari dua yang diterima. Lainnya adalah Sal Saulius. Sal pula yang membimbingnya mengenal not hingga dapat mencipta. Lagu pertamanya ‘Asmara Dewi’ tahun 1948, setahun kemudian disusul ‘Bahtera Laju’. Nama dan suaranya kian tenar. Menciptakan sekitar 40 buah lagu, ia memimpin Orkes Melayu Irama Agung, yang mengiringi suaranya dalam rekaman.
 
Setelah ia membintangi beberapa film sebagai pemeran pembantu, sutradara Asrul Sani mempercayakan padanya peranan utama dalam ’Titian Serambut Dibelah Tujuh’. Tapi namanya lebih dikenang sebagai penyanyi. Ditahun 1980, sempat bekerja sebagai pengurus keanggotaan Kine Club di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
 
(Dari berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *