Said Parman

Koreografer Tari Makyong
Said Parman
 
 
 
Tak banyak birokrat yang menyukai seni, apalagi seni tradisi. Ia adalah satu di antara yang sedikit itu. Latar belakang pendidikannya sebagai calon guru SD, serta keterlibatannya dalam semacam program revitalisasi makyong pada 1978/1979, menjadi semacam jalan pembuka. Setelah ikut bermain makyong dan sempat tampil di beberapa tempat, benih kecintaan pada seni tradisi ini pun terus tumbuh.
 
Makyong sebagai salah saru bentuk seni tradisi Melayu yang masih tersisa di Kepulauan Riau memang menyedot minat dan kepeduliannya. Baginya, makyong adalah semacam roh yang menyimpan jejak dan tapak kemelayuan masa lampau yang masih tetap aktual untuk disimak, digali, dan dimaknai ulang di tengah alam Melayu kini. Ketika Asosiasi Tradisi Lisan dipercaya pemerintah menggarap usulan ke UNESCO agar seni makyong masuk sebagai Memory of the World. Sejak bersentuhan dengan makyong, sejak remaja ia sudah terobsesi untuk menceburkan diri di sini.
 
Sejak itu pula, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), kini Institut Kesenian Jakarta yang berada di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta menjadi impian dan harapannya, namun ia tidak memiliki uang yang cukup dan akhirnya ia memutuskan untuk mendaftar di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada jurusan Komposisi Tari. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana muda, kemudian seiring perubahan status ASTI yang melebur dalam Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ia melanjutkan ke jenjang S-1 pada jurusan yang sama. Gelar sarjana seni akhirnya diraih pada 1987.
 
Bersama sastrawan BM. Syamsuddin (alm), pada awal 1990-an, ia ditunjuk oleh Kepala Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Riau untuk menggali khizanah seni tradisi makyong yang sudah tak lagi terdengar keberadaannya. Untuk itu, selama sekitar tiga bulan dia harus ‘nyantrik’ di rumah Pak Khalid, tokoh makyong yang masih tersisa di Pulau Mantang Arang. Bukan saja untuk menggali cerita dari Pak Khalid tentang makyong berikut ritual dan seni pertunjukannya, tetapi yang lebih penting dari proses nyantrik itu adalah untuk menyerap roh makyong.
 
Sebagai koreografer lulusan ISI Yogyakarta, pola-pola gerak tari makyong ia sempurnakan, meski tidak mengubah pakem yang sudah ada, ia percaya bahwa makyong sebagai seni tradisi juga memiliki kekenyalan. Topeng makyong diyakini tetap menjadi kekuatan. Tetapi dialog dalam lakon kisah masa lampau yang dihadirkan juga perlu disikapi dengan semangat kekinian. Dalam konteks seni pertunjukan, aspek ritual dan profan acap kali memang jadi kabur.
 
Karena itu, ketika berperan sebagai tokoh Awang Pengasuh dalam setiap pentas makyong yang ia ikuti, ia mengaku bisa leluasa berimprovisasi sekaligus menyerap roh makyong hingga ke dasar. “Kita harus melihat makyong dengan nurani, karena ia percaya kita semua adalah pewaris dan pembuat tradisi”.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 

Nama :
Said Parman
 
Lahir :
Sungai Pinang, Lingga, Kepulauan Riau,
29 Oktober 1960
 
Pendidikan :
SD Negeri 85 Raya Singkep (1975),
SMP Negeri 1 Dabo (1978),
SPG Negeri Tanjung Pinang (1981),
Akademi Seni Tari / ASTI Yogyakarta (1984),
S1 Komposisi Tari ISI Yogyakarta (1987)
 
Karier :
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Sosial Kota Tanjung Pinang (2008),
Kepala Dinas Pariwisata Kota Tanjung Pinang (2003-2005),
 
Karya :
Komposisi Kompang Berarak (1993),
Tari Topeng Makyong (1994),
Tari Sentak Belang Kaki (1994),
Tari Kipas Mendu (1995),
Tari Jebat Gugat (1997),
Tari Tahta (1998),
Tari Makosuik (1999),
Tari Jegau (2000)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.