Sandy Tyas

Nama :
Soeparno
 
Lahir :
Semarang, Jawa Tengah,
17 April 1939
 
Wafat :
Jakarta, 1 Maret 2009
 
Pendidikan Formal :
SMA bagian A (1959),
Akademi Pariwisata
(tidak tamat),
Fak. Sastra Universitas Nasional (tidak tamat),
Perguruan Tinggi Publisistik (tidak tamat)
 
Pendidikan non Formal :
Pendidikan televisi dalam bidang Aktualitas Berita, Drama dan Dokumenter (Jerman Barat, 1968-1970)
 
Karier :
Penyiar RRI Jakarta
 (1961-19 63),
Reporter dan Penyiar Berita TVRI (1964-1970),
Pengarah Acara kesenian TVRI,
Kepala Subdit Program Drama di TVRI,
Program Director Apresiasi Film Nasional (1985-1994)
 
Karya Sinetron :
Siti Nurbaya,
Sengsara Membawa Nikmat,
Arti Sebuah Mimpi (1994),
Sisi Gelap Sisi Terang (1995), Sepasang Mata Sejuta Makna (1996)
Legenda,
Wisata Jelajah (1997),
Wanita Konglomerat dan Lingkaran Tragedi (1997)
 
Karya Puisi :
Embrio,
Berkas Puisi yang Pernah Hilang,
Hitam Afrika Hitam Amerika,
Tematis


Sutradara
Sandy Tyas
 
Lahir di Semarang, Jawa Tengah, 17 April 1939, bernama asli Soeparno. Anak ke-2 dari tiga bersaudara pasangan Harun Dwidjosoemarto dan Aminah. Ayahnya adalah seorang deklamator yang fasih menyanyikan puisi-puisi Jawa (macapat). Setamatnya SMA bagian A (ilmu-ilmu sosial) tahun 1959, ia lalu melanjutkan ke Akademi Pariwisata, Fak. Sastra Universitas Nasional dan Perguruan Tinggi Publisistik, namun semuanya tidak ia rampungkan. Pernah memperdalam pengetahuan televisi di Jerman Barat dalam bidang aktualitas berita, drama dan dokumenter (1968-1970).
 
Sejak tahun 1955-1960, aktif mengisi acara drama radio di RRI Semarang. Kemudian menjadi penyiar di RRI Jakarta (1961-1963). Lalu pindah ke TVRI sebagai Reporter dan Penyiar Berita (1964-1970). Selanjutnya ditunjuk menjadi pengarah acara untuk berbagai acara kesenian di TVRI. Termasuk menjadi Program Director Apresiasi Film Nasional (1985-1994), yang mendapat sambutan luar biasa. Sebagai pengarah acara Apresiasi Film Nasional, Sandy aktif meliput penyelenggaraan Festival Film Asia Pasifik di Bangkok, Serawak, Taiwan, Seoul, Fukuoka, Tokyo, Hongkong dan Sydney.
 
Dikenal sebagai pelopor sinema elektronik (sinetron), salah satunya dengan menggagas untuk memfilmkan karya-karya sastra menjadi tontonan yang menarik di TVRI, dan mengalahkan tayangan sejenis di televisi swasta. hal tersebut diwujudkannya dengan mengarap ’Siti Nurbaya’ dan ’Sengsara Membawa Nikmat’. Ketika menjadi Kepala Subdit Program Drama di TVRI, ia juga melakukan dobrakan dengan melakukan syuting di luar studio. Ia juga banyak mendidik dan membina anak-anak muda, yang kelak kemudian menjadi sutradara-sutradara handal, diantaranya, Irwinsyah (alm) dan Dedi Setiadi.
 
Selepas pensiun dari TVRI (1995), ia terjun sebagai sutradara sinetron. Karya-karyanya antara lain single drama ’Arti Sebuah Mimpi’(1994), single drama ’Sisi Gelap Sisi Terang’ (1995), serial drama ’Sepasang Mata Sejuta Makna’untuk SCTV (1996), serial ’Legenda’ dan wisata ’Jelajah’ untuk SCTV (1997), dan single drama ’Wanita Konglomerat’ dan ’Lingkaran Tragedi’ untuk ANTV (1997). Setelah sebelumnya menjadi sutradara, penulis naskah dan narator untuk film-film penerangan produksi Bangun CITRA Nusantara (1992-1993).
 
Pernah juri FFI untuk Sinetron dan Kritik Film/Sinetron (1985), juri Festival Sinetron Internasional Prix Futura Berlin (1989, 1991, 1993, dan 1995), menjadi anggota delegasi Festival Televisi Sichuan (RRC), anggota dewan juri Lomba Penulisan Naskah Cerita Film/Video DEPPEN (1996), dan anggota Komite Seleksi FSI (1995, 1996 dan 1997). Sandy juga aktif melakukan studi banding televisi di Malaysia dan Amerika Serikat.
 
Sandy juga dikenal sebagai seorang penyair. Sejak tahun 1957 hingga 1982, ia menyusun puisi ’Embrio’, ’Berkas Puisi yang Hampir Hilang’ (Budaya Jaya 1978), ’Hitam Afrika Hitam Amerika’ (puisi terjemahan penyair-penyair negro, 1977) hingga ke ’Tematis’. Karya-karyanya muncul dalam Angkatan 66, Prosa dan Puisi susunan HB Jassin, Terminal, antologi puisi para penyair Medan, Majalah sastra Horison, dan lainnya.
Wafat pada 1 Maret 2009, dalam usia 71 tahun. Karena penyakit diabetes dan komplikasi. Meninggalkan seorang istri, Syarifah Hanoum, empat anak, dan tiga orang cucu. Hingga akhir hayatnya, ia masih bekerja sebagai penulis lepas di beberapa media cetak, termasuk Kompas.
(Dari Berbagai  Sumber)
 
 
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *